Penulis : Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Dalam sejarah Islam di Nusantara, Kesultanan Ternate pernah tampil sebagai kekuatan politik Islam yang setara dengan Aceh di barat dan Demak di selatan. Pada masa kejayaannya, pengaruh kekuatan politik Ternate bukan hanya meliputi kerajaan-kerajaan yang ada di kepulauan Maluku Utara, tetapi juga mampu menjangkau wilayah Solor (Lamaholot), Bima (Sumbawa bagian timur), Mindanao Filipina, dan Raja Ampat di Papua.
Masuknya Pengaruh Islam
Sebelum kedatangan Islam, wilayah Ternate hanya merupakan perkampungan biasa yang dikenal dengan nama Gapi yang penduduknya menganut animisme dinamisme. Namun, sejalan dengan menggeliatnya aktivitas penduduk dalam perdagangan, berubahlah perkampungan tersebut menjadi perkampungan besar yang mereka sebut dengan Gam Lamo (Gamalama) yang dipimpin oleh seorang momole.
Lalu pada 1257, di perkampungan ini berdiri sebuah kerajaan bercorak Hindu. Pendirinya, yakni Momole Ciko menjadi raja pertamanya dengan gelar Baab Mashur Malamo dan jabatannya disebut Kolano. Kerajaan ini kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Gapi.
Gapi atau Ternate sejak lama sudah dikenal sebagai kota penghasil rempah berkualitas tinggi, seperti pala, lada, cengkeh, dan lainnya. Potensi inilah yang membuat Ternate menjadi sangat terkenal di mancanagara dan kehidupan warganya menjadi makmur.
Bahkan para ahli sejarah menyebut, selain menjadi salah satu bandar jalur sutera, Ternate juga layak disebut sebagai titik nol jalur rempah. Fakta ini menurut mereka harus diabadikan sebagai warisan sejarah yang diakui UNESCO.
Ketika Ternate menjadi salah satu bandar jalur Sutera yang menghubungkan barat dan timur, maka banyak pedagang yang singgah bahkan menetap di tempat ini sehingga Ternate menjadi wilayah yang cukup heterogen. Di antara mereka ada para pedagang muslim yang secara kultural melakukan aktivitas dakwah penyebaran Islam.
Oleh karenanya, meski kekuasaan politik Islam baru tegak pada abad ke-15, tetapi ajaran Islam sudah berkembang di tengah masyarakat sejak sebelum Kerajaan Gapi berdiri. Pengaruhnya pun di antaranya tampak dari nama Kolano (raja) pertama hingga ketiga yang berbau Islam, yakni Baab Mashur Malamo (1257—1277), Jamin Qadrat (1277—1284), dan Komala Abu Said (1284—1298). Padahal kerajaannya masih bercorak Hindu dan tidak diketahui apakah mereka beragama Islam atau bukan.
Sejarah mencatat bahwa pengaruh Islam baru masuk ke jajaran kerajaan pada masa pemerintahan raja ke-17. Rajanya, yakni Raja Baguna II atau Kolano Marhum (1465—1486), disebut-sebut sebagai Raja Ternate pertama yang memeluk agama Islam. Hanya saja, saat itu sistem pemerintahannya belum berubah menjadi kesultanan.
Konon keislaman Raja Baguna II, keluarga dan jajaran pemerintahannya terjadi setelah berkenalan dengan Datu Maulana Husain, salah seorang ulama asal Minangkabau yang punya hubungan dengan wali sanga di Jawa. Datu ini kemudian menjadi guru dari Zainal Abidin, anak Raja Marhum yang kelak menjadi raja menggantikan ayahnya sejak 1486 hingga 1500.
Menjadi Kekuatan Besar
Atas nasihat gurunya, pada 1495, Sultan Zainal Abidin berangkat ke Gresik untuk berguru kepada Sunan Giri (1442-1506). Alhasil Zainal Abidin menjadi satu-satunya sultan asal Maluku yang menjadi murid wali sanga. Konon ia belajar di sana selama kurang lebih tiga bulan.
Selama di perguruan Sunan Giri ini, ia dijuluki Sultan Cengkih mengingat Maluku dikenal sebagai penghasil cengkeh. Di perguruan ini pula Sultan Zainal Abidin menjalin hubungan dengan penguasa-penguasa muslim lain, seperti penguasa Hitu, Pati Tuban dan Jawa lainnya. Inilah yang menjadi benih terbentuknya persekutuan antara Ternate dengan Jawa.
Pada saat kembali ke Maluku, Zainal Abidin membawa serta para ulama yang akan memperkuat dakwah di Ternate. Ia mendirikan sekolah-sekolah Islam hingga dakwah berkembang dengan pesat di sekitar Maluku.
Ia pun mengubah sistem kerajaan menjadi sistem pemerintahan Islam (kesultanan), mengubah gelar kolano/raja dengan gelar sultan, dan menerapkan hukum-hukum Islam sebagai undang-undang. Ia pun menciptakan kelembagaan baru dalam struktur pemerintahan, yaitu hokum botato dengan tugas hakim sekaligus magistrate yang menjadi pembantu sultan.
Upaya islamisasi ini terus dilanjutkan oleh anak keturunannya yang juga menjadi sultan, mulai Sultan Bayanullah, Sultan Hidayatullah, dan seterusnya. Pada masa Sultan Bayanullah, hukum berpakaian secara Islam mulai diterapkan. Ia pun memperkuat militernya dengan memproduksi kapal (perahu) dan persenjataan dengan teknik yang diadopsi dari Arab dan Turki.
Bertepatan dengan masa pemerintahannyalah, yakni sekira tahun 1512, bangsa Portugis datang untuk melakukan perdagangan cengkeh. Sultan pun menerima baik kedatangan mereka dan mengizinkan mereka mendirikan kantor dagangnya di Ternate. Sultan rupanya lupa, bahwa Portugis sudah sukses merebut Malaka pada 1511.
Inilah awal petaka bagi Ternate. Terutama ketika Sultan Bayanullah wafat, Portugis mulai memperlihatkan wajah aslinya. Portugis pun berhasil memanfaatkan situasi konflik seputar penerus kesultanan dengan melakukan berbagai intrik, termasuk fitnah dan adu domba, hingga bisa masuk dalam lingkaran kekuasaan.
Situasi ini terus berlangsung hingga masa kekuasaan Sultan Khairun Jamil (1535—1570). Ia sangat marah melihat perlakuan Portugis pada sultan-sultan sebelumnya. Terlebih Portugis memaksakan aturan-aturan perdagangan yang licik dan merugikan pihak Kesultanan dan rakyatnya. Maka, Sultan dan rakyat pun berdiri untuk melakukan perlawanan. Termasuk dengan membangun persekutuan dengan Aceh dan Demak untuk melenyapkan penjajahan.
Lalu pada masa kekuasaan Sultan Babullah Datu Syah (1570—1583), perjuangan ini dilanjutkan. Di bawah Baabullah ini pulalah, bangsa Portugis berhasil diusir dari Maluku pada 1575.
Kesultanan Ternate pada masa Babulah benar-benar mencapai puncak kejayaannya. Ia dijuluki penguasa 72 pulau hingga tampil sebagai kekuasaan politik Islam terbesar di Indonesia timur. Ibu kota Ternate pun tampil sebagai pusat peradaban Islam, sampai-sampai dijuluki “Al-Mulukiyah”.
Saat itu Ternate merajai perdagangan rempah-rempah dan memiliki kekuatan militer yang sangat besar. Kekuasaannya saat itu mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur, dan tengah. Juga bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Samudera Pasifik, dan kepulauan Nusa Tenggara di bagian selatan.
Turun Pamor
Sayang pasca-Sultan Babullah wafat, kekuatan kesultanan jadi melemah. Pertempuran-pertempuran melawan penjajah Portugis sering berakhir kalah, sehingga ketika Belanda datang (1603), Sultan Mudaffar Syah I (1607—1627) yang baru dinobatkan justru meminta pertolongan kepada Belanda.
Sebagai kompensasinya, pada 26 Juni 1607 Sultan Ternate harus menandatangani kontrak perjanjian monopoli VOC di Maluku. Bahkan pada masa itu pula Belanda membangun benteng Oranje di Ternate yang merupakan benteng pertama mereka di nusantara.
Sejak saat itulah Belanda menggantikan posisi Portugis. Belanda menyetir Sultan dan melakukan berbagai kezaliman demi menguasai penuh perdagangan rempah-rempah. Kondisi ini terus berlanjut hingga melahirkan berbagai upaya perlawanan. Pada masa berikutnya, perlawanan tersebut langsung disokong oleh Sultan, baik secara diam-diam atau terang-terangan. Yang paling heroik adalah perlawanan Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1896—w 1927) bersama rakyat yang berakhir dengan pencopotan beliau dari jabatan sultan pada 1915. Lalu seluruh hartanya disita, dan ia dibuang ke Bandung pada 1915 hingga wafat disana pada 1927.
Setelah itu jabatan sultan sempat kosong selama 14 tahun. Bahkan Belanda berniat menghapus institusi kesultanan secara permanen, tetapi diurungkan. Maka, jabatan sultan pun kemudian berlanjut, bahkan hingga sekarang. Namun, jabatan itu hanya simbol tanpa kekuasaan.
Khatimah
Sejarah Kesultanan Ternate menjadi bukti bahwa kaum muslim bisa tampil sebagai kekuatan besar manakala mereka berpegang teguh pada Islam. Saat ikatan ini melemah, umat akan mudah terpecah belah, dan celah penjajahan pun terbuka lebar.
Hari ini, penjajahan itu masih berlanjut dalam bentuk penerapan sistem sekuler kapitalisme neoliberal. Dalam sistem ini umat hidup dalam keadaan terhina dina, miskin, dan jauh dari kemuliaan, padahal kekayaan mereka melimpah ruah dan umat Islam merupakan mayoritas.
Satu-satunya cara mengembalikan kemuliaan dan wibawa umat, tidak lain dengan mengambil Islam sebagai way of life, yakni dengan mengembalikan kepemimpinan umat pada mereka yang mau konsisten menerapkan Islam sebagai undang-undang, bukan kepada mereka yang menjadikan Islam sebatas simbol atau kemasan. [MNews]
Dinarasi ulang dari berbagai sumber bacaan.
