Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Garis keturunan Bani Utsmani terhubung dengan kabilah Turkistan dan mereka hidup di wilayah Kurdistan. Akibat dari serangan bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Jenghis Khan terhadap Irak dan wilayah-wilayah timur Asia Kecil, maka pada 617 H, Sulaiman (kakek dari Utsman) berhijrah bersama dengan kabilahnya dari Kurdistan menuju wilayah Anatolia dan menetap di Kota Ahlat.
Pada 628 H, Sulaiman yang merupakan kepala kabilah meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Ertugrul. Ia memimpin pergerakan kabilahnya sekitar seratus keluarga dan lebih dari empat ratus pasukan berkuda menuju ke arah barat daya Anatolia.
Membantu Pasukan Muslim hingga Meraih Kemenangan
Dalam perjalanan mereka, Ertugrul bersama kabilahnya mendengar kegaduhan dari jauh. Ketika mendekatinya, mereka mendapati pertempuran yang sengit antara kaum muslim dengan orang-orang Kristen. Pada saat itu kemenangan ada di pihak pasukan Byzantium.
Melihat pemandangan itu, maka segera saja Ertugrul bersama pasukannya maju dengan segenap semangat dan keteguhan yang dimilikinya untuk menolong saudara-saudara seakidah. Pertolongan tersebut akhirnya membawa kemenangan bagi kaum muslim.
Setelah peperangan selesai, panglima pasukan Islam dari Bani Saljuk memberi penghargaan atas sikap Ertugrul bersama kabilahnya. Ia memberi mereka sebidang tanah di perbatasan barat Anatolia, di sekitar perbatasan Romawi. Selain itu, mereka juga diberi wewenang untuk memperluas wilayah kekuasaannya ke arah Romawi. Kerajaan Saljuk telah membentuk sekutu yang kuat yang turut serta berjihad melawan Romawi. Hubungan ini terus berlangsung sampai Ertugrul meninggal pada 699 H.
Benih Awal Daulah Utsmaniyyah
Pada 656 H, lahir seorang putra Ertugrul yang diberi nama Utsman. Utsman bin Ertugrul inilah yang menjadi nisbah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Tahun kelahirannya bertepatan dengan tahun ketika bangsa Mongolia di bawah kepemimpinan Hulagu Khan menyerang Baghdad, ibu kota Khilafah Bani Abbasiyyah.
Penyerbuan bangsa Mongolia terhadap Kota Baghdad merupakan peristiwa yang sangat tragis dalam sejarah pembantaian umat manusia, korban yang terbunuh tidak terhitung jumlahnya. Pasukan Mongolia di bawah komando Hulaghu Khan menodai kehormatan umat Islam, menumpahkan darah kaum muslim, membunuh jiwa-jiwa tidak berdosa, merampas semua kekayaan umat Islam, dan menghancurkan tempat tinggal kaum muslim.
Pada situasi kritis dan dalam kondisi umat Islam yang sangat lemah ini, lahirlah Utsman bin Ertugrul. Ia adalah pendiri Daulah Utsmaniyyah di kemudian hari. Awal kemenangan umat Islam ada pada titik terendah kelemahan dan kemunduran mereka. Itu adalah permulaan tanjakan ke arah kemuliaan, kemenangan, dan kejayaan.
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin, serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi.” (QS Al-Qashash: 5—6).
Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang mengikuti kebenaran tidak tergesa-gesa meminta bukti janji Allah kepada mereka berupa pertolongan dan kemenangan.
“Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka. Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (QS Muhammad: 4).
Kepribadian yang Kuat
Kisah kejayaan Daulah Utsmaniyyah dimulai dengan lahirnya sang panglima Utsman bin Ertugrul yang lahir pada tahun jatuhnya Khilafah Bani Abbasiyyah di Baghdad. Sifat-sifat kepemimpinan melekat pada diri Utsman bin Ertugrul. Sifat yang mengakar kuat pada kepribadiannya hingga ia menjadi seorang panglima perang dan politikus. Ia adalah sosok yang pemberani, bijaksana, tulus, sabar, adil, dan menepati janji.
Utsman bin Ertugrul memiliki kepribadian yang seimbang dan kuat. Hal ini karena keimanannya yang besar kepada Allah dan hari akhir. Oleh arena itulah, kekuatannya tidak dapat mendominasi keadilannya, kekuasaannya tidak dapat mengalahkan kasih sayangnya, dan kekayaannya tidak dapat melampaui sikap tawaduknya. Sosok seperti ini adalah manusia yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah Swt..
Allah membuka pintu taufik baginya dalam mewujudkan tujuan-tujuan yang tinggi. Proyek-proyeknya sangat mulia, karena kecintaannya terhadap dakwah menyeru kepada Allah. Ia telah menggabungkan antara penaklukan-penaklukan negeri dengan tajamnya pedang dan penaklukan-penaklukan hati dengan iman dan ihsan. Setiap kali ia menaklukkan wilayah, maka ia akan menyeru penduduknya kepada kebenaran dan beriman kepada Allah Swt.. Utsman adalah sosok yang loyal dan cinta kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana ia memusuhi orang-orang kafir. [MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura.
