Muslimah News, INTERNASIONAL—Upaya diplomasi seringkali dinarasikan sebagai solusi atas banyaknya problem yang menimpa umat hingga saat ini, khususnya di dunia Islam, karenanya aktivis muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah pun membandingkan antara jalur diplomasi yang ditempuh oleh peradaban kapitalisme dengan Islam.
“Jalur diplomasi yang ditempuh oleh peradaban kapitalisme tidak lepas dari kepentingan ekonomi dan politik untuk mengeksploitasi dan melanggengkan dominasi mereka atas negeri-negeri kaum muslim. Berbeda dengan diplomasi yang dilakukan oleh peradaban Islam yang dipastikan hanya bertujuan untuk dakwah Islam dan kemaslahatan kaum muslimin,” terangnya pada forum Mozaik Perubahan dengan tema “Diplomasi dan Jalan Perubahan” di salah satu kanal YouTube, Rabu (02/03/2022).
Memang, Ustazah Iffah menjelaskan, diplomasi saat ini menjadi resep yang ditunggu-tunggu untuk menyelesaikan berbagai macam krisis. Seperti pada krisis Rusia dan Ukraina. “Bahkan sebelumnya diplomasi juga digunakan untuk menyelesaikan problem dunia Islam di berbagai belahan dunia contohnya pada krisis Palestina,” tuturnya.
Aspek Kepentingan
Ketika terjadi krisis Ukraina, menurutnya, semestinya umat bisa mengambil pelajaran bahwa yang terjadi pada dunia hari ini yang berlandaskan pada ideologi kapitalisme, hanya akan mementingkan aspek kepentingan materialistis.
“Dalam konflik ini, ada kepentingan Rusia terkait kepentingan ekonomi yang luar biasa terhadap Ukraina. Serta, Uni Eropa dan Amerika pun juga punya kepentingan politik yang besar terhadap Ukraina. Hal ini justru merugikan manusia dalam jumlah yang tidak sedikit. Maka tampak bahwa kapitalisme menghasilkan kerusakan dan kesengsaraan,” cetusnya.
Ustazah Iffah mengemukakan bahwa para ahli sudah menyampaikan banyak kerugian dari jalan diplomasi. “Selalu ada kata kompromistik sehingga tidak ada keadilan, melainkan justru akan memenangkan kepentingan salah satu pihak saja. Jelas, untuk mencapai semua itu akan ada korban jiwa dan kesengsaraan jutaan orang yang dipertaruhkan demi kepentingan mereka,” tekannya.
Tergelincir
Ia menegaskan umat Islam mempunyai nilai yang tidak bisa ditawar atau dikompromi. “Maka apabila diplomasi yang berasaskan motif peradaban kapitalisme ini digunakan untuk menyelesaikan segala jenis konflik, bisa membuat kaum muslim tergelincir untuk mencampuradukkan antara nilai yang hak dan batil,” urainya.
Memang, ia mengatakan, diplomasi bukan jalan yang terlarang apabila kaum muslim memiliki sebuah negara yang berdaulat, mandiri dan lepas dari kepentingan pihak lain, serta mengedepankan pelaksanaan hukum-hukum syarak dan kemaslahatan kaum muslim.
“Diplomasi bukan dilakukan dengan tujuan sekadar berkompromi untuk mendapatkan perdamaian dalam waktu dekat karena kata perdamaian bisa juga menjadi racun atau menjadi hal yang mengalihkan perhatian utama terkait mana yang benar dan yang salah,” ungkapnya.
Tuntunan Rasulullah
Ustazah Iffah menerangkan Rasulullah saw. mewajibkan kaum muslim memiliki entitas politik yang menjalankan syariat Islam secara utuh atau sempurna agar kaum muslim memiliki kekuatan politik yang khas sehingga nilai-nilai yang hak dan batil sesuai dengan Islam tersebut bisa ditegakkan.
“Semua hubungan internasional negara Khilafah baik itu diplomasi ataupun nondiplomasi, semua dilakukan dalam rangka untuk dakwah dan menyebarkan rahmatan lil’alamin. Allah telah memerintahkan kepada kaum muslim untuk menyebarkan hidayah Islam ke seluruh penjuru dunia,” kilasnya.
Ia menggambarkan diplomasi pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. pada saat terjadi konflik dengan bangsa lain. “Konflik ini berlangsung dalam rangka dakwah dan menyebarkan Islam dengan jihad. Saat itu, negara memiliki kepentingan untuk menyelamatkan rakyatnya ketika konflik itu terjadi dalam waktu yang lama,” jelasnya.
Namun, ia kembali menekankan, “Ketika nyatanya negara lain itu tidak mudah untuk ditundukkan. Kemudian mereka juga memiliki kepentingan untuk berdamai, maka seperti yang telah disampaikan, perdamaian atau perundingan itu dipastikan hanya untuk kemaslahatan bagi kaum muslim,” tutupnya. [MNews/Nvt]
Sumber foto: Istock

