Muslimah News, INTERNASIONAL—Mencermati dinamika regional akibat invasi Rusia ke Ukraina, cendekiawan muslim Ustaz H. M. Ismail Yusanto (UIY) menilai telah terjadi hipokrisi sistem tatanan global yang tampak nyata.
“Secara nyata tampak adanya hipokrisi sistem tatanan global saat ini. Hipokrisi atau standar ganda ini menunjukkan bahwa ini semua digerakkan oleh kepentingan. Barat melihat apa yang dilakukan Rusia itu menyentuh kepentingannya, kepentingan aliansi Eropa, NATO, dengan Ukraina. Sementara aneksasi serupa yang dilakukan oleh Rusia terhadap Suriah tidak menyentuh kepentingan mereka,” terangnya dalam “Krisis Ukraina, Di Mana Umat Islam?” pada kanal UIY Official, Ahad (6/3/2022).
Ia menambahkan respons Barat ketika Rusia menyerang Ukraina, banyak yang marah. “Tetapi tidak demikian ketika umat Islam yang diserang, seperti di Suriah, Palestina, dan lainnya,” ujarnya.
Sehingga, menurutnya, standar ganda ini sesuatu yang sangat mengenaskan, kalau orang lugas mengatakan sangat menjijikkan. “Ini cerminan kegagalan internasional untuk menangani konflik-konflik di dunia karena tidak didasarkan kepada nilai yang bersifat tetap. Ketika tidak ada nilai, maka tidak ada keadilan. Ketika didasarkan pada kepentingan politik, kekuasaan, dan kekuatan maka yang terjadi hipokrisme. Karena dia akan bersikap tanpa malu sepanjang kepentingannya bisa didapatkan,” ungkapnya.
Kontradiktif
Selain itu, UIY mengulas landscape perpolitikan di dalam sebuah konflik selalu diwarnai oleh sikap-sikap umat Islam yang kontradiktif di antara dua pihak yang sedang berseteru, seperti ada yang pro kepada Rusia dan ada yang pro kepada Ukraina.
“Sebagaimana terjadi pada Chechnya, ada dua hal. Pertama, Islam telah lama berada di wilayah itu dan Vladimir Putin bersikap lebih akomodatif, khususnya kepada kantong-kantong umat Islam. Ini mendapatkan respons yang positif dari komunitas umat Islam di sana, khususnya di Chechnya sehingga mendukung Rusia,” ucapnya.
Kedua, jelasnya—nanti mungkin bisa diklarifikasi—ada harapan kepada Putin sebagai imbal balik dari dukungan setia Chechnya kepada Rusia dan invasinya terhadap Ukraina. “Nanti Rusia balas mendukung Palestina. Putin mencoba menggambarkan Ukraina itu sebagai pendukung Israel dan memang Presiden Ukraina sekarang keturunan Yahudi. Apalagi dengan terbuka Ukraina meminta Israel menjadi penengah,” ujarnya.
Begitu juga, imbuhnya, Ukraina mencoba menggambarkan bahwa sekarang diserang oleh neo-Hitler. “Karena itu siapa saja diserukan untuk melindungi, termasuk kepada umat Islam agar berjihad,” ungkapnya.
Maka, tegasnya, penting untuk melihat konstelasi politik itu secara lebih jernih. “Sesungguhnya invasi ini lebih karena kepentingan-kepentingan politik regional Rusia dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam,” paparnya.
Ia menjelaskan saat ini Rusia begitu rupa membangun narasi sedang melakukan perang melawan entitas Yahudi untuk mendapatkan dukungan dari komunitas Islam. “Tetapi apa yang dilakukan Rusia di Suriah itu jauh sekali dengan narasi yang dikembangkan. Ini fakta politik militer yang selalu kontradiktif karena kepentingan yang menggerakkan ini semua,” cetusnya.
Agenda Global
Untuk itulah, ia menekankan, penting bagi umat Islam meletakkan semua dinamika yang ada, baik domestik regional, maupun global di dalam kerangka agenda umat Islam secara global itu sendiri apa. “Kalau tidak, maka umat Islam akan selalu dalam tarik-menarik kepentingan dan terus berada di dalam permainan negara-negara besar. Pertama, menjadi korban. Kedua, menjadi part off atau bagian saja dari setiap dinamika domestik regional dan global di mana pun,” tukasnya.
Terlebih, ia menyatakan, dalam konteks global umat Islam ini tidak memiliki power. “Situasi tersebut akan terus berlangsung sepanjang umat Islam tidak memiliki kekuatan. Umat Islam memiliki kekuatan ketika bersatu. Umat Islam bersatu ketika ada dua unsur penting yang bisa menyatukan umat Islam. Pertama ada institusi politik yang memang dia berdiri untuk kepentingan menyatukan umat Islam, itulah yang di dalam Islam disebut Khilafah. Kedua, ada pemimpin dari institusi politik itu sebagai pemimpin umat Islam seluruhnya yang disebut khalifah,” urainya.
Memang, ungkapnya, satu problem yang dihadapi, hari ini umat Islam berada di banyak negara bangsa yang sebagian besarnya berada di dalam cengkeraman negara besar dan sebagian lagi berhadapan satu dengan yang lain. “Kondisinya sangat parah. Maka wajar kalau orang sulit membayangkan bagaimana bisa bersatu. Sehingga berkembang pesimisme bahwa gagasan-gagasan penyatuan menjadi sesuatu yang mustahil atau utopis. Karenanya, penting bagi umat Islam untuk kembali kepada tuntunan atau thariqah dakwah rasul, sampai pada satu kesadaran tentang pentingnya persatuan dalam Khilafah. Di sanalah sebenarnya jalan terang itu bisa kita lihat,” kupasnya.
Meski begitu, ia mengingatkan, itu dibaca oleh Barat. “Daniel Pipes mengatakan bahwa perang ini jangka pendeknya melawan Islam militan dan jangka panjangnya membentuk Islam yang ramah terhadap Barat, yaitu Islam yang tidak memiliki agenda politik Islam. Islam yang menerima nilai-nilai Barat. Artinya, Islam yang tunduk. Bukan Islam yang mengatur, tetapi Islam yang diatur,” kecamnya.
Oleh karena itu, ia menandaskan, semuanya terpulang kepada umat, pelajaran berharga sudah banyak sekali kita terima mulai dari kasus Palestina, Rohingya, Uighur, invasi Rusia kepada Ukraina, dan banyak lagi. “Semua itu akan menjadi energi akumulatif yang pada titik tertentu akan menjadi energi sangat besar untuk mendorong umat pada satu kata. Tidak ada lain yang bisa kita harapkan kecuali diri kita, untuk tegaknya Islam. Izzul Islam wal muslimin,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
Sumber foto: kabar24

