[Dunia Remaja] Kreatornya Berhijab, tetapi Kontennya kok Gitu?

[Dunia Remaja] Kreatornya Berhijab, tetapi Kontennya kok Gitu?

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Selebgram sekaligus Tiktoker bernama Oklin Fia kini menjadi buah bibir publik. Konten kontroversialnya yang dinilai vulgar benar-benar membuat netizen murka. Bukan hanya masyarakat umum, konten Oklin juga memantik beberapa komentar selebritas.

Aktor Refal Hady mengritik tindakan Oklin. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang perempuan berhijab bisa terpikir membuat konten vulgar. Ada pula Abidzar Alghifari, anak almarhum ustaz Jefri Al-Bukhori, yang turut mengkritik konten tersebut. Menurutnya, akhlak dan adab perempuan kudu sejalan dengan pakaian yang mereka kenakan. Wah, sengit juga, nih!

Jaga Adab dan Kehormatanmu

Hijab adalah lambang kemuliaan dan kehormatan kaum hawa. Oleh sebab itu, masyarakat kerap merepresentasikan perempuan berhijab dengan mereka yang mampu menjaga kemuliaannya. Meski berhijab merupakan perintah bagi seluruh muslimah, tetapi ada semacam nilai yang berkembang di tengah masyarakat. Apa itu? Hijab adalah simbol kehormatan perempuan. Wajar netizen riuh melihat konten si Oklin.

Oke, sebelum masuk ke pembahasan kewajiban menutup aurat, rasanya penting banget melihat respons netizen. Hijab sebagai simbol ketaatan juga menjadi alasan mengapa netizen, juga para seleb bereaksi terhadap konten si Oklin. Jujur, sih, konten-konten serupa memang membuat geram.

Kurangnya pemahaman terhadap perintah syariat mengenai menutup aurat, plus pemahaman yang tidak utuh mengenai kehidupan sosial membuat para kreator berhijab kerap melakukan blunder. Walhasil, muncul komentar-komentar negatif yang juga blunder, alih-alih memberi pemahaman. Contohnya, nih, banyak yang malah menyuruh melepas hijab daripada membuat konten yang merendahkan para hijabers. Nah, kalau begini, kudu bagaimana, ya?

Meninjau Syariatnya

Sobat muslimah, geram dan marah adalah ekspresi yang wajar. Apalagi kesan yang ada dalam konten Oklin melecehkan syariat. Sobat muslimah, setiap muslimah dibebani kewajiban yang saling beririsan. Muslimah wajib menutup aurat menggunakan jilbab dan kerudung. Di sisi lain, Allah juga memerintahkan para muslimah untuk menjaga pergaulan mereka.

By the way, penting banget menjadi catatan bahwa ada perbedaan antara jilbab dan kerudung (khimar). Perintah Allah mengenai menutup aurat ini berbarengan dengan penjelasan mengenai bentuk pakaian yang muslimah kenakan untuk menutup auratnya. Apa itu jilbab? Dalam kitab kamus Al-Mu’jamul Wasith, jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh (al tsaub al musytamil ‘ala al jasadi kullihi). Jilbab juga bermakna apa-apa yang dipakai wanita di atas baju-bajunya seperti milhafah (mantel/baju kurung). (Al Mu’jamul Wasith, hlm. 126).

Selain itu, menurut Syekh Rawwas Qal’ah Jie, jilbab adalah suatu baju yang longgar, yang dipakai wanita di atas baju-bajunya (baju kerja/rumah) (tsaub wasi’ talbasuhu al mar`ah fauqa tsiyaabiha) (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah al-Fuqaha`, hlm. 126). Demikian juga menurut Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya At Tafsir al-Munir fi Al-‘Aqidah wa Al Syari’ah wa Al Manhaj, beliau memberikan makna serupa untuk kata jilbab.

Jilbab menurut Syekh Wahbah Zuhaili adalah baju panjang (al mula`ah) yang dipakai perempuan seperti gamis, atau baju yang menutup seluruh tubuh. (Wahbah Zuhaili, At-Tafsir al-Munir, 22/114).

Sedangkan kerudung dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah “khumur” (plural dari khimaar), bukan dengan istilah ”jilbab”. Kata “khumur” terdapat dalam firman Allah Swt. (artinya), ”Dan hendaklah mereka (para wanita) menutupkan kain kerudung ke dada mereka.” (QS An Nuur [24]: 31). Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “khimaar” adalah apa-apa yang digunakan untuk menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar ras`su) (Tafsir Ibnu Katsir, 4/227). Dengan kata lain, jilbab berbeda dengan kerudung, ya, guys.

Syariat Mengenai Pergaulan

Selain masalah pakaian, Islam juga mengatur bagaimana seorang muslimah berinteraksi di kehidupan umum, lo! Islam mensyariatkan pada setiap muslim untuk menjaga kehormatan dengan menjaga interaksi terhadap lawan jenis, baik laki-laki maupun perempuan. Allah mengatur kehidupan sosial umat manusia dan tidak membiarkan manusia hidup bebas sesuai keinginannya. Allah menetapkan seperangkat aturan yang harus dipatuhi, baik oleh perempuan maupun laki-laki.

Jadi, muslimah hari ini enggak bisa berdalih dengan perkataan, “My body is mine.” Juga enggak boleh merasa sah-sah saja mengumbar sensualitas tubuh sembari berkata, “Bukan tubuh gue yang salah, tetapi pikiran laki-laki yang kotor.”

Ini, sih, komentar enggak waras, Sobat. Menyuguhi konten yang mengumbar lekuk tubuh dan bernada syahwat pada laki-laki, apa enggak kesetrum otaknya? Kan, naluri akan bangkit kalau pemicunya ada. Untuk itulah, Allah memerintahkan kepada muslim dan muslimah agar berinteraksi sesuai standar syariat.

Selain memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menggunakan pakaian syar’i berupa jilbab (gamis) dan kerudung (khimar), Islam melarang laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat/berdua-duaan. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah sekali-kali bersepi-sepi dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya karena yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad).

Allah pun melarang perempuan untuk berdandan berlebihan (tabarruj) yang merangsang naluri seksual laki-laki. Untuk itulah, pemahaman terkait pergaulan ini harus utuh. Islam bukan hanya menggariskan syariat terkait menutup aurat, tetapi juga menggariskan aturan yang menjaga sistem pergaulan kita, Sobat.

Di sisi lain, negara punya peran besar untuk membersihkan media dari konten-konten yang tidak sesuai syariat. Apalagi saat ini, masyarakat umum—baik yang muda hingga yang tua—dapat mengakses media sosial dengan bebas. Gawat banget kalau konten vulgar ini diakses secara bebas. Bisa menimbulkan banyak kriminalitas, semisal pelecehan seksual. Ya, sekarang, sih, contoh kejadiannya sudah banyak.

So, bagi para konten kreator muslimah, buatlah konten yang berisi pesan-pesan dakwah. Hindari membuat konten kontroversial yang justru melanggar syariat. Melanggar syariat bermakna mencampakkan kemuliaan dan kehormatan yang Allah telah jamin bagi setiap muslimah. Daripada menimbun dosa jariyah lewat konten kontroversial, mending menggarap pahala berlapis lewat konten berstandar syariat. Yuk! Wallaahualam. [MNews /YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *