Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Contoh teks sastra adalah perkataan seorang sastrawan, ”Wahai pelindungku dan tuanku, yang cintaku baginya, sandaranku hanya kepadanya, dan nikmatku hanya darinya. Orang yang dikekalkan oleh Allah untuk menajamkan tekad dan harapan yang mulia. Apabila engkau menghilangkan pakaian kenikmatanmu dariku, atau engkau mengibaskan telapak tangan pemeliharaanmu dariku, setelah orang yang buta bisa melihat harapanku kepadamu, dan setelah orang yang tuli bisa mendengar pujianku kepadamu, dan benda mati pun bisa merasakan bersandarnya aku kepadamu. Maka tidak aneh, air kadang menenggelamkan orang yang meminumnya, obat terkadang membunuh orang yang berharap sembuh dengannya, kekhawatiran kadang datang dari tempat yang aman baginya, kadang orang yang mempunyai pengharapan mati dalam harapannya, dan terkadang waktu mendahului jerih payah orang yang tengah bersungguh-sungguh.”
Sastrawan lain berkata, “Buku adalah suatu wadah yang penuh dengan ilmu, suatu tempat yang penuh dengan hiasan, dan suatu bejana yang penuh dengan gurauan dan keseriusan. Apabila engkau berkehendak, maka dia akan lebih lemah daripada Baqil. Apabila engkau berkehendak, maka dia akan lebih jelas dari pada Sahban bin Wa`il, apabila engkau berkehendak, maka engkau akan tertawa karenai bualan-bualannya, dan apabila engkau berkehendak, maka engkau akan takjub karena keanehan faedahnya.”
Ungkapan tersebut berbeda dengan perkataan satrawan lain, ”Ilmu tidak mengenal kata akhir dalam berbagai permasalahannya. Seluruh kebenaran-kebenarannya tiada lain adalah tambahan dan sementara. Yang mempunyai nilai sampai suatu pembahasan dapat menyingkapkan apa-apa yang akan menghilangkan atau mengubah nilainya.”
Ungkapan tersebut berbeda pula dengan perkataan sastrawan lain, ”Pemikiran itu bermacam-macam, dan pendapat pun berbeda-beda, serta masalah setiap zaman akan berbeda dengan masalah zaman sebelumnya. Seorang peneliti akan dapat melihatnya sehingga pada awalnya dia akan menyangka bahwa masalah yang ada tidak ada kaitannya dengan masalah sebelumnya, atau tidak ada hubungannya sedikit pun dengan masalah sebelumnya. Lalu pikirannya bekerja memikirkan kekerabatan dan nasab yang mungkin ada di antara keduanya, atau memikirkan sebab yang bisa menghubungkan keduanya.”
Perbedaan yang ada di sini bukanlah karena perbedaan makna. Namun, karena berbedanya cara menyampaikan makna tersebut dan karena berbedanya kesan yang hendak disampaikan pada masing-masingnya.
Kedua penyair yang pertama, salah satunya meminta belas kasihan dan yang lainnya mendeskripsikan buku. Masing-masing telah menyampaikan makna yang diinginkan dengan cara tertentu dan telah memberikan kesan tertentu. Kedua sastrawan terakhir, salah satunya membicarakan tentang ilmu dan yang lain membicarakan tentang pemikiran. Masing-masing menyampaikan makna dengan cara yang berbeda dengan cara yang digunakan oleh dua sastrawan yang pertama.
Namun, semuanya tidaklah membahas tentang makna, melainkan lebih mengarahkan perhatiannya pada kata dan susunan kata. Makna-makna hanyalah sarana-sarana untuk menyampaikan kesan yang hendak ditonjolkan. Ketika seseorang hendak memahami teks-teks ini, baik teks syair maupun prosa, tidaklah benar jika upayanya tertuju pada makna-makna. Sebaliknya, dia harus mengerahkan usahanya untuk memahami kata dan susunan kata, sedangkan pemahaman akan maknanya akan datang kemudian.
Dari sini, informasi terdahulu yang dia miliki haruslah berkaitan dengan kata dan susunan kata, bukan berkaitan dengan makna. Dan agar dia mempunyai informasi seperti itu, dia harus banyak membaca teks-teks sastra, mencoba mengkritiknya, dan mengerahkan usahanya untuk mengungkap rahasia susunan katanya.
Dengan demikian, akan terbentuklah padanya cita rasa (adz-dzauq, taste) yang selanjutnya dengan cita rasa ini akan terbentuk informasi. Oleh karena itu, memahami teks-teks sastra tidaklah membutuhkan pelajaran dan pendidikan, juga tidak membutuhkan informasi tentang makna yang dikandung oleh teks, tetapi membutuhkan adanya cita rasa untuk pertama kalinya. Cita rasa ini terbentuk tidak lain karena banyaknya membaca teks-teks sastra hingga terwujud kegairahan (an-nasywah, enthusiasm) dari bacaannya itu. Dengan demikian, cita rasa telah terbentuk pada orang tersebut.
Memahami tes-teks sastra tidak membutuhkan pengetahuan nahu dan saraf, pengetahuan tentang ilmu balagah–yaitu ilmu ma’ani, bayan, dan badi’–juga tidak membutuhkan pemahaman kosakata bahasa dan ilmu tentang pembuatan kata baru. Meskipun ilmu-ilmu ini baik untuk dimiliki, tetapi tidaklah baik menguasainya secara mendalam sekali.
Memahami teks sastra hanya membutuhkan satu hal saja, yaitu banyak membaca teks-teks sastra sampai terbentuk cita rasa pada diri seseorang. Itulah cara berpikir untuk memahami teks-teks sastra. Yang diperlukan untuk memahami teks sastra adalah adanya cita rasa terdahulu, yaitu adanya pengetahuan tentang tabiat teks-teks sastra sehingga akan melahirkan cita rasa.
Jadi, informasi terdahulu (al-ma’lumat as-sabiqah) yang diperlukan untuk memahami teks sastra adalah adanya cita rasa. Sedangkan, jalan untuk mewujudkan cita rasa adalah dengan banyak membaca teks-teks sastra. Apabila cita rasa itu tidak terwujud, maka tidak mungkin seseorang akan bisa memahami teks sastra. Maksudnya, proses berpikir pada teks sastra itu tidak akan menghasilkan apa-apa.
Memang benar bahwa seseorang kadang bisa memahami pemikiran yang dikandung suatu teks sastra dan bisa melihat tujuannya, tetapi tetap ia tidak bisa memahami dan mengetahui teks sastra tersebut. Ini karena ia belum merasakan teks itu dan belum mengetahui rasanya. Padahal jika belum merasakannya dan tidak mengetahui rasanya, berarti dia belum memahaminya.
Jadi, memahami teks sastra akan dapat menggerakkan perasaan Anda, akan dapat membangkitkan Anda, dan akan dapat meninggalkan pengaruh pada diri Anda. Itu semua tidak akan muncul, kecuali jika terdapat cita rasa pada diri orang yang membaca teks-teks sastra. Jadi, satu hal yang harus ada untuk memahami teks-teks sastra adalah adanya cita rasa (adz-dzauq, taste). [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)
