[Kabar] Jokowi Menawarkan Lahan IKN ke Cina, Pengamat: Langkah Sembrono

[Kabar] Jokowi Menawarkan Lahan IKN ke Cina, Pengamat: Langkah Sembrono

Muslimah News, NASIONAL — Presiden Jokowi menawarkan kepada pengusaha Cina untuk berinvestasi di 34 ribu hektare lahan yang sudah siap di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kalimantan Timur. Hal itu disampaikan Jokowi saat bertemu degan pimpinan sejumlah perusahaan Negeri Tirai Bambu di Chenghu, Cina.

“Ada 34 ribu hektare lagi yang sudah siap dan bisa dimasuki oleh investor untuk properti, untuk kesehatan, rumah sakit misalnya, untuk pendidikan, universitas, juga untuk infrastruktur,” ujarnya seperti disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (28-7-2023).

Sembrono

Pengamat politik internasional Rif’an Wahyudi menilai, tawaran Jokowi ini sebagai langkah sembrono

“Tawaran tanah seluas 34.000 hektare kepada asing kalau kita tidak mewaspadainya, maka ini langkah gegabah atau sembrono,” ujarnya di Kabar Petang: “Loh! Kok 34.000 ha Lahan IKN Ditawarkan ke Pengusaha China”, melalui kanal Khilafah News, Senin (31-7-2023).

Ia menyesalkan, ini seperti diobral murah kepada Cina yang sangat berkepentingan untuk meluaskan pengaruh geopolitiknya terutama di Asia Pasifik.

“Tawaran ini tentu berbahaya bagi kedaulatan Indonesia. Belum lagi aspek lingkungan, masyarakat adat, ini menjadi sesuatu yang sangat tidak tepat, tidak menguntungkan,” tandasnya.

Rif’an menilai, tawaran ini seperti langkah orang yang panik, tidak terukur, setelah beberapa harapan sebelumnya tidak sesuai dengan rencana. “Mulai dari investasi yang ternyata zonk (nol besar). Ada plan A, plan B, plan C, semua gagal. Ini gambaran kepanikan dari penggagas IKN saat ini,” kritiknya.

Model Ideal

Di kesempatan berbeda, pengamat politik, Zikra Asril memberikan pembanding cara Khilafah membangun ibu kota baru sebagai model ideal.

“Model ideal yang seharusnya menjadi contoh pembangunan kota baru untuk menjadi IKN adalah pembangunan Kota Baghdad yang menjadi ibu kota Khilafah Abbasiyah,” jelasnya.

Kota yang dibangun oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur ini, lanjutnya, memenuhi semua aspek kelayakan kota, mulai dari perencanaan, pertimbangan politik, pertahanan keamanan, arsitek dan tata kota, kemaslahatan rakyat, ekonomi, bahkan pendanaan pembangunannya. “Hasilnya, Baghdad menjadi kota dengan desain terbaik di masanya,” ucapnya bangga.

Dalam aspek ekonomi, lanjutnya, tampak pada awal pemerintahannya, Khalifah Abu Ja’far al-Manshur benar-benar meletakkan dasar-dasar ekonomi dan keuangan negara dengan baik dan terkendali. Oleh sebab itu, menurutnya, tidak pernah terjadi defisit anggaran, kas negara selalu penuh, uang yang masuk lebih banyak daripada uang keluar.

“Dengan kas negara yang surplus itulah Khalifah Al-Manshur mampu mendanai pembangunan Kota Baghdad tanpa embel-embel investasi maupun utang,” tukasnya.

Menurut Zikra, dana yang dihabiskan untuk membangun Baghdad saat itu mencapai 3,88 juta dirham. “Dengan sistem pengelolaan harta sesuai syariat, Khilafah mampu menyejahterakan rakyat dan kas negara pun mengalami surplus. Bahkan, ketika Khalifah Al-Manshur meninggal dunia, harta yang ada dalam kas negara masih surplus sebanyak 810.000.000 dirham,” paparnya.

Zikra pun menilai, bahwa ini adalah gambaran negara yang berhasil membangun ibu kota baru. Negara, ucapnya, memiliki kekuatan finansial maupun ketepatan kebijakan karena berasaskan sistem yang diturunkan Allah Swt., Zat Yang Maha Mengetahui.

“Khalifah pun memerintah rakyat dengan landasan iman dan takwa juga amanah karena menyadari adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah. Semua demi kemaslahatan rakyat dan kemuliaan peradaban Islam dalam naungan rida Allah,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *