[Kabar] Tidak Ingin Perubahan, UIY: Aneh!

[Kabar] Tidak Ingin Perubahan, UIY: Aneh!

Muslimah News, NASIONAL — Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan secara tegas menolak adanya pihak-pihak yang ingin perubahan. Menurut Luhut, pemimpin selanjutnya tidak perlu melakukan banyak perubahan karena ada enam program pemerintah yang harus diteruskan. Apabila semua program itu diteruskan, Indonesia bisa menjadi negara maju pada 2045.

“Jadi saya tidak setuju atau tidak setuju ketika orang mengatakan membuat perubahan. Apa yang akan berubah?” katanya dalam acara “Nickel Conference 2023” CNBC Indonesia di Jakarta, Rabu (25-7-2023).

Aneh

Pernyataan ini dipandang aneh oleh cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY). “Sebenarnya aneh kalau ada yang tidak menginginkan perubahan, padahal ia ada di situ saat ini adalah hasil dari sebuah perubahan. Ini patut dicermati, ada apa di balik itu semua?” tanyanya retorik dalam acara “Kok Menolak Perubahan, Ada Apa?” di kanal UIY Official, Ahad (30-7-2023).

Ia menuturkan perubahan itu setidaknya ada empat kemungkinan. “Yang ada sekarang ini ditingkatkan, dikoreksi, ditambah, dan diperbaiki atau diganti. Lalu, mana yang tidak boleh? Ini menjadi tidak logis, secara rasional pasti di dalamnya ada yang disembunyikan sedemikian besarnya,” ucapnya.

Oleh karenanya, menurut UIY, yang paling masuk akal mengapa seseorang tidak suka perubahan adalah kecemasan terhadap masa depan diri, keluarga, dan kroni-kroninya bahwa ia akan menghadapi masa-masa kelam ketika perubahan itu menghasilkan keadaan yang tidak lagi favorable untuk dirinya, keluarganya, dan kroninya.

“Misalnya, upaya mengungkap apa yang ada di balik layar yang selama ini ditutupi terhadap proyek-proyek besar, seperti proyek Formula E dan sumur resapan senilai Rp900 miliar yang diulik sedemikian rupa, dicari kemungkinan pelanggarannya. Lalu, masa sih proyek kereta cepat yang mencapai Rp127 triliun enggak ada sesuatu?” cetusnya.

Ia mempertanyakan, apakah mengulik sesuatu sehingga didapat kemungkinan penyimpangannya itu salah? “Tidak. Itulah audit. Dalam prinsip clean government, itu mutlak dan menjadi risiko di hadapan publik, termasuk adanya kemungkinan politik,” jelasnya.

Dalam bahasa universal, urainya, inilah kejujuran, amanah. “Jika ia bertindak jujur, kapan pun ia berhenti atau ada perubahan, ia tidak akan menghadapinya dengan kecemasan. Hanya mereka yang menyembunyikan bangkai busuk yang takut baunya akan tercium,” ungkapnya.

Justru ketika ada suara-suara yang tidak menginginkan perubahan, ujarnya, mestinya publik makin mendorong untuk segera terjadi perubahan supaya kita tahu ada apa di balik itu semua.

“Seorang pejabat, yang boleh dikatakan orang kedua di Republik ini, terang-terangan tidak menginginkan perubahan, bahkan sampai ngancam-ngancam bahwa yang ada ini sudah benar. Lalu, dasarnya apa? Ukurannya apa bahwa negara ini sudah on the track? Apakah dengan kemiskinan atau korupsi yang sedemikian rupa, dan macam-macam jika kita mau ungkap, sudah on the track?” tanyanya bertubi.

Ia menilai, ketika ada ketakadilan yang ingin diperbaiki dan ia menolak, berarti ia pro terhadap ketakadilan.

“Kalau ada yang ingin perubahan secara ekonomi agar terjadi kesejahteraan dan ia menolak, berarti ia pro terhadap ketidaksejahteraan. Bahkan, kalau ada yang ingin korupsi diberantas dengan melakukan perubahan, baik regulasi maupun institusi, dan ia menolak, berati ia pro terhadap korupsi. Begitu kan logika sederhananya?” tukasnya.

Energi Besar

UIY mengakui, untuk sesuatu yang bersifat mungkar, harus ada energi besar untuk melakukan perubahan.

“Nabi berpesan, jika engkau melihat kemungkaran, seperti ketidakjujuran, ketidakamanahan, kezaliman, penindasan, ketidakcermatan, apalagi jika dilakukan oleh penguasa yang berefek kepada bangsa dan negara, maka tidak boleh diam. Harus diubah dengan tanganmu, kekuasaanmu. Jika tidak mampu, maka dengan lisanmu, sebagaimana para penyeru yang ingin menyadarkan. Namun, ketika ia berposisi penguasa, bukan dengan lisan, melainkan kekuatan,” tegasnya.

Ketika kita mengharapkan perubahan, ucapnya, maka kita mengharapkan ada kekuatan itu. “Ketika ada yang tidak menginginkan perubahan, berarti ia anti terhadap pemberantasan kemungkaran. Malah jangan-jangan ia merupakan bagian dari kemungkaran itu sendiri. Kalau ia bagian dari kemungkaran, maka ia yang harus diubah,” kritiknya.

Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam, UIY menyampaikan,  perubahan itu dilakukan dengan amar makruf nahi mungkar. “Ke mana arah perubahan itu? Ke arah yang makruf, yaitu sesuai dengan ajaran Islam. Jika keadilan, itulah keadilan. Jika keamanan, itulah keamanan. Jika ketertiban, itulah ketertiban. Jika kejujuran, itulah lawan kebohongan. Juga nahi mungkar, jadi arah perubahan itu membereskan segala yang mungkar, tidak boleh dibiarkan. Misalnya, menghentikan penindasan, korupsi, perzinaan, kaum “sesama”, pornografi, pornoaksi, dan kemungkaran lainnya. Oleh karenanya, perubahan itu arahnya jelas, clear jika menggunakan kaidah agama,” paparnya.

Jadi, ia menekankan, aneh kalau ada yang menentang perubahan. “Kalau mungkar, masa dipertahankan? Kalau mengarah ke makruf, kenapa tidak suka?” tanyanya lugas.

Sebenarnya, urai UIY, tidak ada manusia yang tidak menginginkan kebaikan atau rahmat. “Persoalannya, bagaimana mewujudkannya? Untuk itulah Islam diturunkan dalam rangka mewujudkan kemaslahatan, baik dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, maupun negara,” ungkapnya.

Yang pasti, tuturnya, ketika kita menjalani kehidupan ini, sesungguhnya kita sedang menjalani sebuah misi, yakni ibadah yang intinya ketakwaan kepada Allah Swt.. “Dengan kita menjalani kehidupan sesuai ketentuan Allah melalui penerapan syariat, maka misi ibadah itu bisa terwujud nyata. Oleh karenanya, seluruh sendi kehidupan, baik individu, keluarga, masyarakat, dan negara itu bernilai ibadah,” jelasnya.

Ia mempertanyakan, kalau sekarang di mana nilai ibadahnya? “Ekonominya menggunakan kapitalisme, budayanya berprinsip western yang hedonistik, lalu tatanan kehidupannya sekularistik, maka tidak ada nilai ibadahnya. Ibadah kita tereduksi hanya sebatas salat, membayar zakat, umrah, dan hal-hal yang bersifat ubudiyah belaka. Tidak lebih daripada itu. Ini kan kerugian besar,” sesalnya.

Kalau ini dijelaskan kepada umat, ungkapnya, hampir tidak ada yang menolak. “Kalau ada yang menolak, pasti dipengaruhi oleh citra pemburukan atau pendiskreditan,” ujarnya.

Untuk itulah, ia menasihati, perlu penjelasan dan pendekatan terus menerus agar umat sampai pada pengertian yang benar, yakni dengan dakwah, untuk meluruskan pemahaman yang keliru.

“Bagaimana bisa ia muslim, tapi membenci Islam? Pasti ada yang salah. Ia lapar, tapi tidak suka pada makanan. Ia sakit, tapi tidak suka pada obat atau dokter, kan keliru. Begitu juga ini hari, sesungguhnya kita memerlukan obat, yaitu tatanan kehidupan yang baik yang datang dari Zat yang Maha Baik. Itulah Islam,” tandasnya. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *