Merenungkan Kembali Pesan-Pesan Nabi Saw. dalam Khotbah Wadak

Merenungkan Kembali Pesan-Pesan Nabi Saw. dalam Khotbah Wadak

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Idealnya, Iduladha adalah hari sukacita. Hari Raya Kurban sejatinya adalah hari kegembiraan. Namun sayang, bagi sebagian umat Islam, sukacita itu masih terkubur oleh dukacita. Kegembiraan masih tertutupi oleh kabut kesengsaraan. Perayaan Hari Raya Kurban masih diselimuti oleh ragam penderitaan.

Palestina, misalnya, masih terus dirundung duka. Puluhan tahun dicengkeram Zionis sang durjana. Begitu pula Rohingya, masih amat menderita. Uyghur masih tersungkur, dipenjara dan terus disiksa oleh rezim kejam komunis Cina. Suriah pun masih terluka parah, menjadi korban kebiadaban rezim haus darah sekaligus rebutan negara-negara kafir penjajah.

Di belahan bumi lain, termasuk di negeri ini, kaum muslim masih tetap terpinggirkan, menjadi korban ketakadilan sekaligus tumbal kebencian para pembenci Islam. Isu radikalisme terus digaungkan, sama dengan isu terorisme sebelumnya yang kedoknya mulai terkuak nyata penuh dusta dan rekayasa. Nyatanya, isu ini hanya jadi alat untuk terus menistakan kaum muslim di seluruh dunia, termasuk di Bumi Nusantara.

Yang makin mengiris hati, ajaran Islam mulai banyak dipersoalkan dan simbol-simbolnya mulai sering dipermasalahkan justru oleh mereka yang mengaku “muslim toleran”. Di sisi lain, ragam krisis terus melanda negeri, khususnya krisis ekonomi. Kemiskinan tidak pernah beranjak pergi. Angka pengangguran makin tinggi. PHK terjadi di sana sini. Utang luar negeri makin menjadi-jadi. Juga banyak BUMN yang terus merugi.

Negeri ini pun seolah tidak pernah bisa lepas dari jerat kasus korupsi, terutama yang melibatkan para pejabat tinggi. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan asing terus dibiarkan menjarah kekayaan alam negeri. Ironisnya, semua itu terjadi justru saat penguasa dan para pejabatnya lantang berteriak, “NKRI harga mati!” seraya tetap setia menerapkan sistem demokrasi yang sudah terbukti berkali-kali gagal memakmurkan dan menyejahterakan rakyat negeri ini.

Oleh karena itu, di tengah nestapa dan derita bangsa, juga dalam momen Iduladha, kita layak merenung sementara, menafakuri pesan-pesan Nabi saw. saat Khotbah Wadak sekitar 14 abad lalu di hadapan sekitar 140 ribu jemaah haji. Berikut sebagian khotbah beliau.

“Wahai manusia, sungguh darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian, sama sucinya dengan sucinya hari ini, negeri ini, dan bulan ini. Siapa saja yang memiliki amanah, tunaikanlah amanah itu kepada orang yang berhak menerimanya. Ingatlah, semua perkara jahiliah sudah aku campakkan di bawah kedua telapak kakiku. Urusan (pertumpahan) darah jahiliah juga sudah dihapus. Sungguh, riba jahiliah pun sudah dilenyapkan.”

“Wahai manusia, sungguh aku telah meninggalkan di tengah kalian suatu perkara yang amat jelas. Jika kalian berpegang padanya, kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya. Itulah Kitabullah dan Sunah Nabi-Nya.”

“Wahai manusia, sungguh setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.”

“Wahai manusia, ingatlah, Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu. Setiap kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”

“Ingatlah, hendaknya orang yang hadir dan menyaksikan, menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir.”

Demikianlah sebagian isi khotbah Baginda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad.

—

Dari khotbah ini, ada sejumlah hal yang beliau saw. nasihatkan kepada kita yang selayaknya kita renungkan dan sungguh-sungguh harus kita amalkan.

Pertama, kita diperintahkan untuk menjaga darah, harta, dan kehormatan sesama. Apalagi beliau saw. juga bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencela seorang muslim adalah kefasikan. Membunuh dirinya adalah kekufuran.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, kita diperintahkan untuk memberikan amanah kepada ahlinya, termasuk amanah kepemimpinan. Ini sesuai dengan firman Allah Taala,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا…

“Sungguh, Allah telah memerintahkan kalian agar menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya.” (QS An-Nisa’ [4]: 58).

Tentang amanah kepemimpinan, Rasulullah saw. pun mengingatkan,

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sungguh kalian begitu berhasrat atas kepemimpinan (kekuasaan), padahal kepemimpinan (kekuasaan) itu bisa berubah menjadi penyesalan pada hari kiamat kelak.” (HR Al-Bukhari).

Faktanya, hari ini kita menyaksikan tontonan yang amat menyedihkan. Antarpartai politik gontok-gontokan. Antarkoalisi saling berebutan. Mereka tidak sungkan saling sikut demi jabatan, bahkan tidak segan saling menjatuhkan. Saat yang sama, nasib rakyat terlupakan, bahkan seolah tidak mereka pedulikan.

Ketiga, kita diperintahkan agar meninggalkan semua muamalah, tradisi, hukum, dan sistem jahiliah. Semua itu bertentangan dengan Islam (lihat juga QS Al-Maidah [5]: 50).

Di antara perkara jahiliah yang telah dihapus oleh Rasulullah saw. sehingga wajib ditinggalkan adalah riba. Namun sayang, hari ini riba bukan saja merajalela. Riba bahkan telah menjadi pilar utama ekonomi negara. Tidak aneh jika utang luar negeri ribawi, dengan bunga sangat tinggi, berpeluang membangkrutkan negeri ini.

Anehnya, kita terus mengabaikan nasihat Baginda Nabi saw. yang mulia ini. Nasihat beliau untuk menjauhi riba ini lebih layak ditujukan kepada kita saat ini daripada ditujukan kepada para sahabat yang sejak awal memang telah mencampakkan riba.

Keempat, kita diingatkan untuk tidak merasa unggul dari bangsa dan umat lain. Ini karena keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah Taala hanya karena ketakwaannya (lihat pula QS Al-Hujurat [49]: 13).

Kelima, kita diharuskan untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan dengan sesama kaum muslim. Beliau saw. menegaskan,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

“Muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Seorang muslim tidak boleh menzalimi, merendahkan, dan menghina saudaranya.” (HR Muslim).

Namun sayang, hari ini, tali persaudaraan Islam seolah lenyap, bahkan antarkelompok umat Islam bisa saling berhadap-hadapan. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tidak beradab. Asal beda paham, bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully, bahkan tega memersekusi. Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Asal melempar tudingan “radikal”, bisa dengan mudah melakukan tindakan di luar akal.

Di luar negeri, kaum muslim juga tampak lebih mementingkan ego kebangsaan masing-masing. Mereka tidak peduli pada kondisi saudaranya. Bahkan yang lebih ironis, beberapa negara muslim justru memberikan dukungan kepada negara-negara kafir yang bertindak zalim terhadap umat muslim.

Allah Swt. telah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ…

“Kaum mukmin itu sesungguhnya bersaudara.” (QS Al-Hujurat [49]: 10).

Keenam, kita pun diharuskan untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Di antara nasihat yang paling utama adalah nasihat yang ditujukan kepada penguasa agar mereka tidak terus melakukan kezaliman. Kezaliman terbesar penguasa tidak lain saat mereka tidak menerapkan Al-Qur’an, saat mereka tidak menerapkan syariat Islam (lihat QS Al-Maidah [5]: 45).

Oleh karena itu, tugas kitalah, segenap komponen umat Islam, apalagi para ulama dan para dainya, untuk terus mendorong penguasa agar memerintah dengan Al-Qur’an.

Ketujuh, kita diwajibkan untuk selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah. Baginda Nabi saw. telah menjamin bagi siapa pun yang istikamah berpegang teguh pada keduanya, tidak akan pernah tersesat selama-lamanya.

—

Namun sayang, pesan Baginda Nabi saw. 14 abad lalu ini tidak banyak diindahkan oleh kita. Al-Qur’an dan Sunah tidak lagi kita pedulikan, kecuali sebatas bacaan. Fakta berbicara, banyak perkara haram yang dihalalkan, banyak pula perkara halal yang diharamkan.

Tidak jarang pula, semua itu dilegalkan oleh undang-undang, lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan. Riba, misalnya, telah lama “dihalalkan”. Miras dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Zina tidak lagi dipandang sebagai kejahatan. Perilaku sesama pun tidak boleh dikriminalkan karena dipandang melanggar HAM.

Di sisi lain, syariat Islam justru seolah “haram” untuk diterapkan. Institusi penerap syariat, yakni Khilafah, juga terlarang diperjuangkan, bahkan tidak boleh meski sekadar diwacanakan. Para aktivisnya dikriminalisasi, organisasinya juga dibubarkan dengan tuduhan yang diada-adakan, padahal Khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam yang wajib ditegakkan. Bahkan, Khilafah pernah punya kaitan sejarah dan kontribusi nyata dalam penyebaran Islam melalui wali sanga di Bumi Nusantara tercinta.

Abu Hurairah ra. bertutur, “Seseorang pernah bertanya kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Iman kepada Allah.’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Haji mabrur.'” (HR An-Nasa’i). [MNews/Gz]

Sumber artikel: Buletin Dakwah Kaffah Edisi 101 dengan sedikit penyesuaian.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *