[Tarikh Khulafa] Ali bin Abi Thalib ra. Dibaiat Menjadi Khalifah

[Tarikh Khulafa] Ali bin Abi Thalib ra. Dibaiat Menjadi Khalifah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah pengepungan atas Utsman bin Affan ra. berakhir dengan terbunuhnya sang Khalifah secara semena-mena oleh para pemberontak, para sahabat terkemuka berkumpul.

Mereka mengutarakan pendapat mereka kepada Ali bin Abi Thalib ra., “Utsman sudah tiada dan umat membutuhkan pemimpin. Sampai saat ini, tak ada seorang pun yang pantas menjadi pemimpin umat Islam selain engkau, dan tidak ada seorang pun yang lebih senior dalam Islam dan lebih dekat dengan Rasulullah saw. selain engkau.”

Menurut Ibnu Katsir, Ali bin Abi Thalib ra. menolak tawaran menjadi pemimpin menggantikan Utsman. Bahkan dia sempat bersembunyi di rumah Bani Amr bin Mabdzul. Namun, para sahabat terus mengejarnya dengan membawa Thalhah dan Zubair sebagai fasilitator. Mereka beralasan kekosongan Khalifah tidak boleh dibiarkan. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib ra. menerima jabatan sebagai Khalifah.

Dihadapkan pada Dua Pilihan Sulit

Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ra., kondisi masyarakat di Madinah masih belum stabil. Ketiadaan pemimpin bagi umat berpeluang membuat umat terpecah belah. Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib ra. dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.

Pertama, kalau ia tetap menolak pengangkatan dirinya sebagai Khalifah maka Madinah akan dikuasai oleh para pemberontak dan kelompok pembangkang. Bahkan, situasi bisa berkembang menjadi lebih buruk. Kemungkinan ini terbuka lebar.

Sebab, para pemberontak pasti akan menebar kerusakan dan menindas kaum muslimin.  Mereka sudah membunuh Utsman ra. secara semena-mena.  Apabila seseorang berani melakukan tindak kejahatan terbesar untuk pertama kalinya maka berikutnya ia akan dengan mudah melakukan kejahatan-kejahatan yang lain.

Kedua, Ali ra. bersedia menjadi Khalifah dan menerima kenyataan bahwa pilihannya ini akan menyelamatkan umat Islam dari konflik dan perpecahan yang bisa saja terjadi kalau ia menolak diangkat sebagai Khalifah. Meski begitu, Ali ra. betul-betul menyadari bahwa pilihan kedua ini akan menggiringnya terjebak ke dalam situasi sulit dan membuatnya harus memikul beban berat. Sebab, Khalifah baru nanti – siapapun ia – tidak akan bisa menegakkan hukum terhadap para pembunuh Utsman bin Affan ra., kecuali setelah situasi normal, pemerintahan stabil, dan wibawa negara pulih kembali.

Namun hal ini tidak dipahami oleh sebagian besar orang. Mereka pun menuntut penegakan hukum bagi para pembunuh Utsman ra.  Dalam pandangan Ali ra., Madinah harus dikosongkan terlebih dahulu dari para pemberontak dengan memulangkan mereka ke negeri mereka masing-masing.  Dengan begitu, negara akan mudah menangkap mereka dan melakukan proses penyidikan.

Pidato Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ali bin Abi Thalib ra. bersedia dibaiat menjadi Khalifah keempat bagi kaum muslimin. Menurut penduduk Kufah, orang yang pertama kali membaiat Ali bin Abi Thalib adalah al Asytar an Nakha’I pada hari kamis tanggal 24 Dzulhijjah. Kaum muslimin yang belum membaiat Ali saat itu pun bersegera membaiatnya.

Setelah baiat terlaksana, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. berpidato, “Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk membedakan yang baik dari yang buruk. Karena itu, lakukanlah kebaikan dan tinggalkan keburukan.“

“Allah juga telah mengharamkan hal-hal yang haram yang sebelumnya tidak diketahui, dan mengistimewakan kehormatan seorang muslim di atas semua kehormatan. Penuhilah hak-hak kaum muslimin dengan ikhlas dan tauhid. Seorang muslim dapat menyelamatkan muslim lainnya, baik dari ucapannya atau dari perbuatannya, kecuali dia memang bersalah. Seorang muslim tidak diperkenankan menyakiti muslim yang lain tanpa sebab yang jelas. Ingatlah masalah umum dan yang akan menimpa setiap orang di antara kalian secara khusus yaitu kematian. Tataplah masa depan, hari kemarin adalah kenangan yang harus kita lalui karena hari esok sudah menanti. Bertakwalah kalian kepada Allah, baik untuk hamba-Nya maupun wilayah-Nya. Sebab, kelak di akhirat setiap jengkal tanah maupun hewan peliharaan akan dipertanggungjawabkan. Taatlah kepada-Nya, jangan sampai berbuat maksiat. Jika benar, ambillah. Namun jika tidak, maka tinggalkanlah.“

“Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi Allah (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikanNya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberiNya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS Al Anfal: 26). Wallahualam. [MNews/Has]

Sumber: Prof. Dr. Ibrahim al-Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press.

Share

4 thoughts on “[Tarikh Khulafa] Ali bin Abi Thalib ra. Dibaiat Menjadi Khalifah”

  1. Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ra., kondisi masyarakat di Madinah masih belum stabil. Ketiadaan pemimpin bagi umat berpeluang membuat umat terpecah belah. Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib ra. dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *