G20, Akankah Menyelamatkan Dunia?

G20, Akankah Menyelamatkan Dunia?

Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq

Muslimah News, OPINI — Perhelatan G20 2022 dianggap sebagai jalan keberhasilan Indonesia melakukan negosiasi terhadap negara lain. Acara yang digelar di Bali ini melahirkan Leaders’ Declaration atau Deklarasi para Pemimpin.

Kesepakatan itu diharapkan akan menjadi batu loncatan terbentuknya perdamaian dunia dan kerja sama multilateral bagi seluruh negara untuk bangkit setelah wabah Covid-19. Lantas, dapatkah agenda ini mewujudkan tujuannya?

Leaders’ Declaration

Ada lima poin penting dari Leaders’ Declaration.

Pertama, para anggota G20 akan menjalankan kebijakan makroekonomi dan melakukan investasi publik dan reformasi struktural, serta mempromosikan investasi swasta, dan memperkuat perdagangan multilateral.

Kedua, melindungi stabilitas makroekonomi dan keuangan.

Ketiga, mendorong ketahanan pangan dan energi serta mendukung stabilitas pasar. Hal itu dilakukan dengan cara meningkatkan perdagangan dan investasi untuk kebutuhan ketahanan pangan dan energi jangka panjang, ketahanan pangan dan berkelanjutan, sistem pupuk dan energi.

Keempat, berinvestasi pada negara berpenghasilan rendah dan menengah dan negara berkembang lainnya. Hal ini dilakukan dengan mengatalisasi investasi swasta untuk mendukung sustainable development goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan. Selain itu meminta multilateral development banks (MDBs) untuk memajukan tindakan untuk memobilisasi dan menyediakan pembiayaan tambahan.

Kelima, mempercepat pencapaian pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

Jika kita mengamati kesepakatan di atas, ada beberapa hal yang perlu kitaperhatikan.

Pertama, pertemuan G20 dihadiri oleh negara maju dan berkembang, yaitu 19 negara dan Uni Eropa. Di antaranya, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Prancis, Cina, Turki, dan Uni Eropa.

Semua negara maju yang ada adalah penganut kapitalisme yang berfokus mendapatkan keuntungan dari seluruh aktivitasnya. Sedangkan bagi negara berkembang, mereka cenderung mengikuti kebijakan negara maju sehingga mereka akan menjadi objek bisnis bagi negara maju, dalam hal ini sebagai pasar produk negara maju.

Misalnya, kepentingan AS di Indonesia adalah untuk mengukuhkan cengkeramannya melalui perusahaan besarnya di negeri ini, seperti Chevron dan ExxonMobil. Cina bermaksud menjadikan negeri ini sebagai pasar produk-produknya, dll.

Kedua, masalah berinvestasi kepada negara yang berpenghasilan rendah dan lemah juga perlu digarisbawahi. Negara yang berinvestasi adalah mereka yang memiliki banyak modal (kapital). Negara berkembang tidak mungkin akan berinvestasi. Untuk menyelamatkan diri saja, mereka harus berutang, bagaimana mau berinvestasi ke negara lain?

Ketiga, soal masalah investasi tentu perlu didetailkan lagi, entah bentuknya hibah, pinjaman, atau yang lain. Berkaca dari pengalaman, investasi yang masuk ke negara ini, ada utang atau modal lainnya, seperti utang dari IMF dan Bank Dunia ketika krisis 1998. Tidak ada makan siang gratis, untuk mendapatkan pinjaman, negara ini harus mengikuti berbagai ketentuan yang diajukan dua lembaga keuangan dunia itu.

Jadi, di sini, negara-negara berkembang tentu saja menjadi target pemberian utang. Akhirnya, mereka harus mengorbankan kekayaan alam atau lainnya untuk pinjaman itu.

Bentuk investasi lainnya adalah seperti kerja sama kedua pihak. Para pemodal mau menanamkan investasi jika negara yang dimodali dianggap menguntungkan, baik dari sisi low budget, mudah dan murah bahannya, ada SDM-nya, hingga cepat pemasarannya. Jadi, kalau banyak didatangi investor, berarti negara itu kaya, hanya saja tidak mampu mengelola.

Kalau kerja samanya bentuk di atas, yang diuntungkan adalah negara besar para pengusung kapitalisme. Negara berkembang hanya akan menjadi objek pemuas dan penambah pundi-pundi kekayaan. Bukannya menyelamatkan dunia, justru malah melanggengkan neoimperialisme.

Kerja Sama Internasional

Peran Indonesia dalam G20 ini tidak lain karena politik luar negerinya. Bagi negara pengusung demokrasi, politik kerja sama internasional didasarkan pada keuntungan. Akan tetapi, perlu mencermatinya lebih khusus lagi melalui kacamata Islam.

Dalam Islam, ketika melakukan kerja sama dengan pihak luar, seorang pemimpin negara wajib terikat dengan hukum syarak. Ini karena setiap kebijakan yang lahir akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Selain itu, politik luar negeri yang independen juga dapat menaikkan muruah negara sehingga negara lain tidak akan menganggap enteng.

Islam memandang bahwa selama negara yang diajak bekerja sama bukan kafir harbi (negara yang memusuhi Islam), negara boleh menjalin hubungan dengannya. Dalam konteks ini, kerja sama yang dilakukan tidak boleh melanggar hukum syarak, seperti utang berbasis riba atau investasi yang menjual SDA kepada korporasi. Keduanya merupakan contoh yang diharamkan dalam Islam.

Memiliki Kepemimpinan ala Rasulullah

Menjadi negara kuat adalah impian setiap bangsa. Asalkan mereka mengetahui dan menjalankan kuncinya, pasti akan berhasil. Kekuatan negara sebenarnya tidak terletak pada ekonomi atau teknologi saja, melainkan pada landasan negaranya, yaitu ideologi.

Negara yang berideologi akan bisa menghadapi negara lain, mandiri, dan tidak mudah mengikuti titah negara lain. Negara ini justru akan menjadi pusat peredaran negara di sekelilingnya. Namun, jika ingin menjadi negara berideologi, haruslah memilih ideologi yang benar yang itu adalah Islam.

Islam adalah pandangan hidup yang memiliki sistem aturan lengkap. Dengan menjalankan aturan Islam, baik di dalam maupun luar negeri, negara akan dihormati dan disegani negara lain. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ketika menegakkan Islam di Madinah.

Selain itu, Islam datang membawa rahmat. Politik luar negeri yang dimiliki (dakwah dan jihad) akan mampu mendamaikan dunia. Bukan malah menghancurkan dunia (seperti saat ini).

Khatimah

Jika ingin bebas dari jerat kapitalisme, negeri ini seyogianya mengambil Islam. Dengan begitu akan melahirkan negara berideologi Islam yang akan mampu melawan hegemoni Barat. Hingga akhirnya dunia akan terselamatkan dari kehancuran.

Allah Swt. berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-Araf: 96). Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *