Negara dengan Harapan Hidup Tertinggi di Dunia, Indikator Kesejahteraan Palsu Kapitalisme

Negara dengan Harapan Hidup Tertinggi di Dunia, Indikator Kesejahteraan Palsu Kapitalisme

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — World Bank (2020) mencatat angka harapan hidup di 194 negara di dunia. Dalam data tersebut, Jepang menjadi negara yang warganya paling panjang umur di dunia. Diketahui angka harapan hidup masyarakat Jepang mencapai 84,52 tahun, sedangkan Indonesia menempati peringkat 115 dari 194 negara dengan 71,91 tahun.

Angka harapan hidup adalah rata-rata usia yang diperkirakan pada seseorang atas dasar angka kematian pada masa tersebut yang cenderung tidak berubah pada masa mendatang. Angka harapan hidup mencerminkan indikator kualitas layanan kesehatan serta faktor-faktor lain termasuk perang yang sedang berlangsung dan penanganan infeksi virus.

Di samping itu, angka harapan hidup juga instrumen untuk mengevaluasi kinerja Pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. Peningkatan angka harapan hidup ditunjukkan oleh indikator bayi-bayi yang telah terjamin kesehatannya serta kemiskinan yang telah teratasi dengan baik.

Harapan Hidup Terendah

Tidak hanya negara-negara dengan harapan hidup tertinggi, di dunia ini juga terdapat negara-negara dengan angka harapan hidup terendah. Negara-negara dengan angka harapan hidup terendah biasanya tidak memiliki fasilitas kesehatan yang baik. Selain itu, ketersediaan makanan di negara tersebut juga sangat sedikit. Kondisi ini berimplikasi pada warga di negara-negara tersebut yang memiliki usia terpendek di dunia.

Lima negara dengan angka harapan hidup terendah di dunia di antaranya adalah Republik Afrika Tengah. Republik Afrika Tengah memiliki tingkat perkembangan manusia terendah kedua yaitu berada di posisi 187 dari 188 negara di dunia pada 2014. Negara ini mendapat usia harapan hidup yang rendah dengan rata-rata 45,91 tahun karena banyaknya penyakit seperti campak, malaria, HIV/AIDS, dan penyakit berbahaya lainnya.

Berikutnya ada Lesotho, yakni sebuah negara kecil yang ada di benua Afrika dengan hanya memiliki jumlah populasi penduduk 2 juta Orang. Kasus virus HIV/AIDS di negara ini sangatlah besar. Itu membuat manusia di sana rata-rata memiliki angka harapan hidup yang rendah hanya sampai umur 46,02 tahun.

Juga Zimbabwe, yang sejatinya negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi kebijakan pemerintahnya membuat mereka hidup dalam garis kemiskinan. Hal itu makin diperburuk dengan wabah penyakit HIV/AIDS, kolera, dan penyakit lainnya.

Berikutnya ada Guinea-Bissau, sebuah negara di Afrika Barat. Negara ini memiliki catatan yang sangat buruk di hampir semua bidang terkait kesehatan. Kematian ibu dan bayi mencapai jumlah yang mengkhawatirkan di Guinea-Bissau.

Terakhir ada Sierra Leone, negara kecil di Afrika Barat. Negara ini mengalami wabah penyakit Ebola paling banyak di antara negara-negara lain di Afrika, menyebabkan orang-orang di negara ini meninggal lebih cepat dan menjadi negara dengan harapan hidup terendah di dunia.

Indikator Fisik

Data World Bank (2020) mengenai 10 besar negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia secara berurutan meliputi Jepang, Singapura, Korea Selatan, Norwegia, Australia, Swiss, Islandia, Israel, Malta, dan Swedia.

Pun data mengenai 10 negara paling bahagia di dunia berdasarkan skor indeks kebahagiaan yang dirilis World Happiness Report 2022. Pada kategori ini, Finlandia adalah negara yang dianggap paling bahagia, yakni dengan skor indeks kebahagiaan 7.821.

Pada urutan ke-10, terdapat Selandia Baru, dengan skor indeks kebahagiaan 7.200. Delapan negara dalam 10 besar tersebut pun didominasi oleh negara-negara Eropa.

Mencermati nama negara-negara tersebut, kita bisa pastikan negara-negara tersebut adalah negara-negara bersistem demokrasi kapitalisme. Wajar jika indikator angka harapan hidupnya pun berupa fisik, yakni kesehatan dan kesejahteraan. Ini karena indikator kemajuan fisik adalah ciri khas negara-negara yang mengemban ideologi kapitalisme.

Namun kita jangan lupa, indikator harapan hidup dan kebahagiaan di dunia tidaklah semata perihal fisik. Sekalipun kesehatan dan kesejahteraan termasuk dalam kebutuhan asasi manusia untuk hidup di dunia, tetapi tidak layak jika kedua hal tersebut menjadi penentu harapan hidup, apalagi menjadi standar utama bagi kebahagiaan. Ini tentu arah pandang yang keliru.

Standar Kebahagiaan

Kapitalisme meniscayakan kebahagiaan adalah memperoleh sebesar-besarnya kesenangan yang bersifat jasmaniah (fisik). Oleh kapitalisme, realitas fisik ini bahkan dianggap kebahagiaan yang sebenarnya.

Kapitalisme juga melahirkan kebebasan individu bagi manusia. Manusia dibolehkan untuk bebas berbuat semaunya menurut keinginannya selama di dalam perbuatan tersebut terdapat kebahagiaan. Tidak heran, kebebasan individu adalah sesuatu yang sangat diagungkan oleh kapitalisme.

Namun demikian, harapan hidup dengan kebahagiaan yang berlandaskan kebebasan individu tentu saja adalah sesuatu yang mustahil. Kebahagiaan yang berorientasi fisik pasti punah ketika fisik yang diagungkan mengecewakan atau mengalami kehancuran.

Pada faktanya, kebebasan tiap orang tidak mungkin dibatasi oleh kebebasan orang lain sebagaimana teori yang selama ini mereka narasikan. Apalagi jika kebebasan tersebut telah bermuatan kepentingan tertentu, justru hukum rimbalah yang akan berlaku. Maksudnya, orang yang kuat pasti jadi pemenang. Namun inilah yang terjadi di seluruh dunia saat ini setelah runtuhnya institusi penyedia kebahagiaan dan kesejahteraan hakiki, yakni institusi Islam, Khilafah Islamiah.

Harapan Hidup Terbaik

Dalam Khilafah, standar kebahagiaan dan kesejahteraan tidak mungkin mengecewakan karena semuanya berlandaskan rida Allah Taala. Menggantungkan harapan hidup semata kepada Allah adalah kunci kebahagiaan sejati. Inilah satu-satunya jalan untuk meraih hidup yang bermakna.

Coba kita komparasikan pada kondisi negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia tadi. Apa kita tidak ingat bahwa Jepang dan Korea Selatan adalah negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia? Apa kita tidak ingat bahwa Singapura babak belur di sektor kesehatan selama pandemi Covid-19?

Kita juga harus mengomparasikan kondisi negara-negara Afrika yang memiliki angka harapan hidup terendah di dunia. Mereka negara-negara yang kaya SDA, tetapi mengapa berbagai sektor kehidupannya (terutama kesehatan) begitu buruk? Tidakkah kekayaan SDA-nya mampu membiayai kebutuhan ekonomi warganya?

Namun kita harus ingat, di balik kemiskinan akut negara-negara Afrika, terdapat penjajahan ekonomi dan politik yang sangat keji dan menghancurkan atas nama kapitalisme. Pelakunya adalah negara-negara kapitalis besar, yang didominasi oleh negara-negara Barat. Nasib serupa terjadi di sejumlah negara Asia.

Lihatlah, dunia tidak ubahnya daerah yang dikaveling untuk dikeruk melalui proses penjajahan oleh negara-negara kapitalis Barat. Tidak heran, negara-negara kapitalis itu mengaku bahwa negaranya adalah negara yang paling bahagia, paling sejahtera, paling kaya, dan paling apa pun berdasarkan indikator fisik semata.

Padahal, negara mereka tegak akibat berhasil menginjak-injak negara lain. Negara-negara yang mereka injak itu selanjutnya mereka posisikan sebagai negara-negara rendahan yang tidak memiliki harga diri di mata dunia. Naudzubillah.

Khatimah

Persoalan terbesar manusia di seluruh dunia bukan semata urusan fisik. Lebih dari itu, yakni ketiadaan naungan hakiki bagi kehidupan, Khilafah Islamiah. Indikator fisik berupa pembangunan dan angka-angka yang merepresentasikan kesejahteraan memang salah satu simbol peradaban.

Namun, jika landasannya keropos alias tidak sahih (batil) sebagaimana dalam era kapitalisme, indikator tersebut adalah indikator palsu sehingga tumbuhnya peradaban di atasnya pasti rapuh dan mudah ambruk. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *