Muslimah News, NASIONAL – Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK atas Rektor Universitas Lampung (Unila) yang melibatkan pimpinan Unila beserta staf dan pihak swasta penyuap sejumlah total sekitar 10 orang dengan barang bukti uang tunai 414, 5 juta, slip deposito 800 juta, emas 1,4 miliar dan saldo rekening 1,8 miliar sangat menyentak publik. Apalagi, Rektor ini dikenal sebagai Ketua Forum Rektor Bidang Pengkaderan Karakter Bangsa.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Institute of Islamic Analysis & Development (Inqiyad) Assoc. Prof. Dr. Fahmy Lukman, M.Hum. mengatakan ini menjadi bahan renungan.
“Ini menjadi bahan renungan karena dalam kaitan membangun kehidupan berbangsa tidak bisa dilepaskan dari konteks pembangunan manusia secara keseluruhan. Apalagi, dikaitkan dengan perguruan tinggi kita, tidak hanya persoalan meningkatkan akses relevansi dan kualitas perguruan tinggi dalam rangka melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kualitas daya saing bangsa, tetapi juga memiliki integritas,” ungkapnya di acara Focus Group Discussion #33: Marwah Perguruan Tinggi, Quo Vadis?! Sabtu (27/8/2022) melalui kanal Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa
Menurut Fahmy, perguruan tinggi memiliki tujuan yang bukan sekadar persoalan pengembangan saintek, tetapi juga menciptakan dan mentransmisi pengetahuan yang relevan dan bermanfaat bagi manusia.
“Dengan demikian, universitas bukan pabrik yang terkait dengan mekanisme sistem produksi dan hemat biaya. Universitas dalam konteks ini disitu ada riset yang dibangun dengan integritas, dengan perilaku kesantunan di mana di dalamnya ada intellectual honesty (kejujuran intelektual),” ucapnya.
Materialisme
Fahmy berpendapat, perguruan tinggi juga menciptakan program dan pengembangan kepemimpinan yang lebih kuat dalam mempersiapkan pemimpin bangsa bagi masa depan bangsa tersebut.
“Persoalannya yang terjadi hari ini perguruan tinggi terimbas dengan paham materialisme, liberalisme yang tidak lagi memisahkan antara benar salah, baik buruk, halal haram sehingga akan menjadi masalah besar seperti yang menimpa Rektor Unila,” terangnya.
Oleh karena itu, menurutnya perlu dikembangkan kembali integritas perguruan tinggi terutama dalam konteks jati diri sebuah perguruan tinggi dan sumber daya manusia yang ada di dalamnya.
“Kalau integritas ini hilang atau diintervensi oleh paham materialisme, maka saya tidak tahu lagi perguruan tinggi kita ke depan akan menjadi apa? Oleh karena itu, menjaga integritas, intelektualitas, dan akhlak menjadi aspek sangat penting. Aspek ini adalah kekuatan moral bagi seorang intelektual, bagi seorang ilmuwan dalam menjaga bangsa dan masyarakat,” urainya.
Fahmy menyayangkan, banyak kaum intelektual atau akademisi yang enggan, tidak hirau dalam menjawab realitas bangsa hari ini dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan yang intinya kalau dalam bahasa anak muda sekarang “emang gue pikirin“.
“Kenapa? Karena memang para intelektual saat ini banyak yang terjebak menjadi tukang yang terbenam di laboratorium dan pikirannya sendiri,” tandasnya.
Tiga Kunci
Fahmy menyebut 3 kunci kemampuan intelektual, yaitu kemampuan penguasaan pengetahuan, kemampuan dalam profesionalitas, dan kemampuan membangun masyarakat ke arah tujuan mulia.
“Ketika aspek itu hilang atau salah satunya tidak ada, maka universitas atau perguruan tinggi sebagai institusi terdepan dalam menjaga moralitas bangsa ini akan berdampak besar bagi sebuah masyarakat,” tandasnya.
Berdasarkan hal itu, menurut Fahmy, peranan para intelektual, akademisi itu berkorelasi dengan tanggung jawab di masyarakat . Ia mengutip pernyatan Enstein, “Dunia ini adalah tempat yang berbahaya, bukan karena mereka yang melakukan kejahatan, tetapi karena mereka yang melihat kejahatan tidak melakukan apa-apa.”
Jadi, imbuhnya, perguruan tinggi dengan kemampuan dan pengetehuan yang dimilikinya punya tanggung jawab yang luhur sehingga dipaksa untuk berkontribusi aktif menjaga masyarakatnya.
“Kaum intelektual dan akademisi harus berkontribusi dalam mengarahkan masyarakat menjauh dari sesuatui yang berdampak negatif yang mereka dapat perkiraan sehingga tidak hanya terkait dengan salah arah apa yang terjadi pada masyarakat masa lalu. Namun, sesuatu yang tidak tepat saat ini dan sesuatu di masa yang akan datang, bisa diprediksi,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, dengan membangun komunikasi yang baik dengan nilai-nilai universal, membangun nilai-nilai moralitas yang tinggi, dan mempertahankan intellectual honesty, maka para intelektual berkewajiban untuk membentuk, serta melindungi nilai-nilai sosial masyarakat dan bangsanya.
“Intelektual adalah agen perubahan terhadap perilaku tidak adil, perilaku yang menyimpang dalam masyarakatnya. Siapa pun yang melakukan itu dia akan berkontribusi melakukan koreksi, meningkatkan masyarakat dengan cara-cara bermakna,” tukasnya.
Maka, ujar Fahmy, jika Indonesia ini hancur di masa datang, pemikul dosa pertama adalah para akademisi dan kaum intelektual.
“Yang menimpa Rektor dan para ilmuwan di perguruan tinggi yang mungkin salah arah, hendaknya menjadi perhatian penting untuk mengembalikan marwah perguruan tinggi kita,” tambahnya.
Fahmy menyarankan, patut disorot juga tentang obral profesor kehormatan, juga Doktor Honoris Causa di berbagai perguruan tinggi.
“Khawatir terkait dengan persoalan intellectual honesty dan khawatir terkait dengan masalah-masalah yang sifatnya politik praktis yang terjebak dengan paham-paham materialisme,” pungkasnya. [MNews/IA]
Foto sampul: Detiknews
