Strategi Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dalam Penaklukan Andalusia

Strategi Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik dalam Penaklukan Andalusia

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Andalusia adalah nama daerah yang berada di Semenanjung Iberia. Penaklukan negeri Andalusia merupakan proyek besar dan penuh tantangan. Penaklukannya tidaklah sama seperti penyerbuan kawasan mana pun di Afrika Utara. Penaklukannya memerlukan persiapan yang memadai dan waktu yang cukup lama. Ini adalah kali pertama kaum muslim menaklukkan wilayah yang besar di benua Eropa dan dipisahkan laut yang sangat berbahaya.

Strategi Jitu Penaklukan

Salah seorang pemimpin pasukan kaum muslim, Musa bin Nushair berkonsultasi melalui surat kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik tentang penaklukan Andalusia. Khalifah yang berkedudukan di Damaskus membalas surat tersebut dengan memerintahkan Musa bin Nushair agar menguji coba beberapa batalion kecil guna mengamati kondisi yang ada. Dengan begitu, kalaupun kondisi lautnya ganas, tidak akan seluruh pasukan kaum muslim dilamun ombak

Ibnul Atsir menuturkan respons balasan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, “Kerahkanlah dulu beberapa batalion saja. Jangan korbankan seluruh pasukan muslim ke laut yang sangat berbahaya.” Selanjutnya Musa melaporkan kepada khalifah, “Itu bukan lautan luas, melainkan hanyalah selat. Daratan di belakangnya terlihat jelas.” Namun, Khalifah Al-Walid konsisten dengan pendapatnya.

Korespondensi berulang-ulang antara Musa bin Nushair dan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik ini memakan waktu lama karena jauhnya jarak antara Damaskus, ibukota kekhalifahan, dan Kairouan tempat Musa bin Nushair bermarkas. Semua ini menunjukkan kewaspadaan dan kehati-hatian pemimpin kaum muslim. Mereka tidak melangkah sebelum mempelajari semua aspek target serta menyempurnakan persiapan meraih kemenangan.

Apabila Musa bin Nushair berusaha meminimalisir bahaya tersebut, ia harus menjamin penyeberangan laut antarbenua Afrika dan Eropa. Pasukan Islam yang hendak melintasinya harus senantiasa terhubung dengan pangkalan-pangkalan militer dan pusat komandonya di Afrika Utara. Rangkaian hubungan ini harus aman sehingga ketika ada kondisi darurat yang memerlukan bantuan dari pusat, bisa dipenuhi pada saat yang tepat.

Keberhasilan Batalion yang Dikirim

Musa bin Nushair mengirim pasukan Islam di bawah pimpinan Tharif bin Malik. Tharif memimpin empat ratus tentara infanteri dan seratus tentara kavaleri. Pasukan Tharif ini diangkut empat kapal menuju sebuah pulau di negeri Andalusia yang kemudian diberi nama Pulau Tarifa. Kemudian Tharif menyerbu Pulau Agreciras dan berhasil memperoleh banyak ghanimah. Ia pun kembali dalam keadaan selamat pada Ramadan 91 H. Melhat keberhasilan Tharif, kaum muslim bergegas untuk melaksanakan rencana berikutnya, yaitu dimulainya operasi penaklukan Andalusia.

Pertempuran Dahsyat

Penaklukan diawali dengan memercayakan panji komando pasukan kepada Thariq bin Ziyad guna memimpin tujuh ribu tentara. Thariq dan pasukannya melintasi Selat (Gibraltar) dan singgah di sebuah gunung yang kini terkenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Terjadi pertempuran yang dahsyat antara pasukan Thariq dan tentara Goth yang menguasai gunung tersebut. Tentara Goth kalah dan pasukan Thariq terus mendesak mereka hingga ke kota Cordoba.

Mendengar kekalahan tersebut, Roderic, penguasa Andalusia langsung berangkat ke sana dari Toledo. Akhirnya, bertemulah pasukan Roderic dan pasukan Thariq di tempat yang bernama Syidzunah (Medina-Sidonia).

Pertempuran demi pertempuran yang sengit terjadi. Roderic selalu mengirimkan sejumlah pasukan untuk menambah kekuatannya. Namun, setiap pasukan yang ditambah Roderic selalu berhasil dikalahkan oleh pasukan Thariq bin Ziyad.

Pasukan kaum muslim bertambah kuat. Tentara arteleri beralih menjadi tentara kavaleri, lalu menyebar ke semua wilayah yang dilintasinya. Kemenangan pasukan Thariq di Syidzunah terus merangsek maju ke kota Ecija, kemudian Thariq membagi pasukannya ke Cordoba, Granada, Malaga, dan Tudmir. Thariq sendiri menuju Jaen kemudian Toledo.

Sepanjang 92-93 H, Thariq bin Ziyad bersama dua belas ribu pasukan muslim berhasil menaklukkan wilayah yang sangat luas. Kota-kota di Andalusia berguguran satu per satu di tangan pasukan kaum muslim yang dipimpin Thariq bin Ziyad. Thariq menetap di Toledo untuk menunggu kedatangan Musa bin Nushair guna mempelajari bersama kondisi yang ada dan menaklukkan sisa-sisa wilayah Semenanjung Iberia.

Menghilangkan Kezaliman

Dengan penaklukan Andalusia, maka masyarakatnya terselamatkan dari kezaliman dan kesewenang-wenangan, serta membebaskan mereka dari eksploitasi dan penjajahan. Ini karena sebelum ditaklukkan Islam, masyarakat Andalusia berada dalam beberapa strata sosial yang sangat diskriminatif dan zalim. Sistem politiknya rusak, begitu pula kehidupan keagamaannya jauh lebih rusak dan zalim. Di semua aspek kehidupan, masyarakat mengeluh, merasa dizalimi, tidak saling percaya, serta hubungan penguasa dengan rakyatnya tidak harmonis.

Pertempuran di Syidzunah telah menentukan perjalanan negeri Andalusia bagi kepentingan Islam dan kaum muslim. Persis seperti pertempuran Yarmuk yang menentukan perjalanan negeri Syam. Perang Qadisiyah yang menentukan perjalanan negeri Irak dan Perang Nahawand yang menentukan perjalanan seluruh Imperium Persia. [MNews/Ruh]

Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar

Foto sampul: IslamiCity

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *