[Kabar] Tawuran Pelajar Diproduksi untuk Keuntungan Ekonomi, Pemerhati: Fenomena Kompleks!

[Kabar] Tawuran Pelajar Diproduksi untuk Keuntungan Ekonomi, Pemerhati: Fenomena Kompleks!


Muslimah News, NASIONAL — Praktisi dan pemerhati pendidikan Citra Amalia, M.Pd. mengkhawatirkan fenomena tawuran pelajar saat ini yang makin kompleks. “Tawuran bukan lagi sekadar aksi kekerasan antarkelompok, tetapi dapat menjadi tontonan yang sengaja diproduksi di media sosial demi mendapatkan perhatian, pengikut, bahkan keuntungan ekonomi, termasuk judi online,” ungkapnya kepada MNews, Kamis (8-10-2026).

Ini disampaikannya merespons pemberitaan terdapat salah satu akun geng pelajar yang memiliki sekitar 1.287 pengikut dan sejumlah videonya ditonton hingga jutaan kali. Akun tersebut juga ditemukan memiliki tautan yang mengarahkan pengguna ke situs judi online. Ada pula akun lain dengan ribuan pengikut yang mengunggah video kelompok remaja membawa senjata tajam dan terlibat tawuran; salah satu videonya bahkan mencapai sekitar 11 juta penonton.

Kerusakan Generasi

Menurut Citra, inilah yang terjadi ketika kerusakan generasi bertemu dengan kepentingan bisnis di ruang digital. “Remaja yang sedang berada pada masa pencarian jati diri dan membutuhkan pengakuan sosial sangat mudah terdorong untuk mencari popularitas melalui konten ekstrem. Tawuran kemudian direkam, diunggah, dan dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan karena mendapatkan banyak penonton dan pengikut,” ulasnya.

Ia menyesalkan lemahnya perlindungan generasi di ruang digital. Upaya penanganan, ungkapnya, tidak cukup hanya dengan memblokir akun atau menghapus konten setelah viral. “Sebabnya, akun yang telah diblokir dapat kembali muncul dengan nama berbeda,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, ini juga menunjukkan bahwa pembinaan generasi tidak cukup mengandalkan sekolah. “Sekolah memang memiliki tanggung jawab dalam membina peserta didik, tetapi anak juga hidup dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dan ruang digital yang memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan perilakunya,” ucapnya.

Citra menuturkan, dalam Islam, pendidikan bukan sekadar membentuk anak agar cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk kepribadian yang berlandaskan akidah. “Anak harus memahami bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt., termasuk apa yang dilakukan, ditonton, dibuat, dan disebarkan melalui media sosial,” katanya mengutip QS Al-Isra’ ayat 36, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini, sambungnya, mengingatkan bahwa apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan manusia bukan sesuatu yang bebas dari pertanggungjawaban. “Oleh karena itu, membuat dan menyebarkan konten kekerasan, apalagi menjadikannya sebagai sarana mendapatkan keuntungan dari promosi judi online, merupakan persoalan yang harus dipandang serius,” jelasnya mengutip QS Al-Maidah ayat 90, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Judi, tambahnya, bukan sekadar persoalan permainan atau hiburan, tetapi merupakan aktivitas yang dapat merusak individu, keluarga, dan masyarakat. “Ketika promosi judi online masuk melalui akun-akun yang diikuti oleh pelajar, bahayanya menjadi makin besar karena anak-anak dan remaja dapat terpapar sejak usia dini,” tuturnya.

Tanggung Jawab Negara

Oleh karenanya, Citra mengingatkan, negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang digital yang aman bagi anak. “Pemerintah tidak cukup hanya menangani akun yang sudah melakukan pelanggaran, tetapi juga harus mencegah agar ruang digital tidak menjadi tempat suburnya promosi judi, kekerasan, dan berbagai perilaku yang merusak generasi,” tegasnya.

Pada saat yang sama, sambungnya, keluarga dan sekolah perlu membekali anak dengan ketahanan diri dan pemahaman agama yang kuat. “Anak harus diajarkan bahwa jumlah view, like, atau pengikut bukanlah ukuran keberhasilan jika diperoleh melalui sesuatu yang haram dan merusak,” ucapnya.

Jadi, ia menekankan, fenomena “iklan judol di balik konten tawuran” semestinya menjadi alarm bagi semua pihak. “Jangan sampai generasi muda tidak hanya menjadi korban tawuran, tetapi juga dimanfaatkan sebagai alat untuk mendatangkan keuntungan dari bisnis yang merusak. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan generasi yang menyentuh akar persoalan, penguatan keluarga dan sekolah, perlindungan ruang digital, serta penanaman nilai-nilai Islam agar anak mampu membedakan mana yang benar dan salah,” katanya.

Dengan pembinaan yang kuat, ia meyakini, generasi muda tidak akan menjadikan kekerasan sebagai tontonan, popularitas sebagai tujuan, ataupun keuntungan sebagai alasan untuk mengabaikan halal dan haram. “Generasi seharusnya diarahkan menjadi generasi yang beriman, beradab, mampu mengendalikan diri, dan menggunakan media sosial untuk hal-hal yang membawa kemaslahatan,” tandasnya. [MNews/Ruruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *