Penulis: Nabila asy-Syafi’i
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Generasi tabiin adalah generasi terbaik kedua setelah sahabat. Di antara mereka adalah Hasan al-Bashri, tokoh yang sangat berpengaruh. Ilmunya, ibadahnya, dan nasihatnya menjadi rujukan para ulama sampai sekarang. Beliau hidup pada masa fitnah dan kemewahan Bani Umayyah, tetapi tetap istikamah berzuhud dan mengingatkan penguasa.
Beliau bernama lengkap Al-Hasan bin Yasar al-Bashri dengan kunyah Abu Sa’id. Beliau lahir di Madinah pada 21 H. Ibunya bernama Khaira, seorang pelayan Ummu Salamah, istri Nabi saw.. Hasan al-Bashri hidup di dua kota besar, yakni Madinah dan Bashrah, Irak. Beliau wafat pada 110 H di Bashrah ketika berusia 89 tahun.
Hasan al-Bashri berada di kalangan kibaru at–Tabiin yang sempat bertemu setidaknya dengan 70 sahabat, termasuk Utsman, Ali, Aisyah, dan Anas bin Malik. Beliau mengambil ilmu langsung kepada sahabat Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, dan Abu Hurairah. Tidak mengherankan jika Hasan al-Bashri menguasai tafsir, fikih, dan Bahasa Arab. Imam Ahmad pernah berkata, “Tidak ada di antara tabiin yang lebih fakih dari Hasan.” Murid-muridnya pun menjadi ulama terkemuka, antara lain Qatadah, Ayyub as-Sakhtiyani, dan Malik bin Dinar.
Zuhud Dunia dan Mudah Menangis
Rumah Hasan al-Bashri tidak pernah sepi dari lantunan bacaan Al-Qur’an. Malam harinya selalu disi dengan qiyamul lail. Beliau selalu mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pemilik Semesta. Dikisahkan, beliau menangis jika melewati kuburan dan pingsan jika mendengar ayat neraka karena takut kepada Allah Taala. Muridnya mengatakan, “Kami tidak pernah melihat orang yang paling takut kepada Allah melebihi Hasan.”
Beliau hidup dengan kesederhanaan, baik dengan pakaian yang dikenakannya maupun makanan yang dimakannya. Bahkan, tempat tinggalnya amat sederhana. Padahal, beliau bisa hidup mewah karena penguasa takut terhadap pengaruhnya dan umat mencintainya.
Berani Menasihati Penguasa
Dalam negara Khilafah Islamiah, ulama menduduki tempat terdepan dalam melakukan muhasabah kepada kepala negara sebagai bentuk cinta kasihnya kepada penguasa dan umat. Dengan demikian, penguasa berjalan sesuai syariat Allah dan mengurusi umat dengan benar dan sungguh-sungguh. Pemimpin yang baik akan mendengar dan menerima masukan, kritik, dan koreksi dari ulama.
Muhasabah lil hukkam ini juga dilakukan oleh Hasan al-Bashri. Beliau menasihati Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah tentang hakikat dunia dan kekuasaan, “Amma ba’du. Wahai Amirulmukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan, bukan rumah tinggal selamanya. Adam diturunkan dari surga ke dunia sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya. Orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibandingkan akhirat). Penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, ia melihat dunia menghinakan orang yang memuliakannya dan mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun. Siapa saja yang tidak mengetahuinya akan memakannya. Siapa saja yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya. Padahal, demi Allah, itulah letak kebinasaannya.
Wahai Amirulmukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya. Ia menahan pedih sesaat karena tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin. Mata-mata melihat kepadanya dan hati terjerat dengannya. Padahal, demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, dunia adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.
Wahai Amirulmukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaan dunia dan waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, serta kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan. Ketahuilah wahai Amirulmukminin bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, dan kehidupannya menderita. Orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik. Sebaliknya, orang yang berpegang padanya akan celaka lagi tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, dan berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi. Keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.
Wahai Amirulmukminin, dunia adalah rumah hukuman. Siapa saja yang tidak berakal mengumpulkan untuknya. Siapa saja yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh. Sementara itu, orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya. Ia menahan diri dari pahitnya obat karena berharap kesembuhan. Ia takut kepada akibat buruk di akhirat.
Wahai Amirulmukminin, demi Allah, dunia hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata. Di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan. Sesungguhnya aku berkata kepadamu, wahai Amirulmukminin, apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak, ‘Jika kamu selamat, kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, aku tidak mengira dirimu akan selamat.'”
Ketika surat Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati Hasan al-Bashri. Beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh, beliau sangat mengagumkan. Beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin). Beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan fasih bahasanya.”
Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz membalas surat Hasan al-Bashri, “Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku. Aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki. Orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia. Seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”
Ketika surat balasan Umar sampai di tangan Hasan al-Bashri, beliau berkata, “Amirulmukminin benar-benar mengagumkan. Ia seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, serta menjadikannya rahmat dan berkah.”
Hasan al-Bashri menulis sedikit lagi pesan kepada Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan, “Amma ba’du, sesungguhnya ketakutan besar dan perkara yang dicari ada di depanmu. Engkau pasti akan menyaksikannya, baik selamat maupun celaka.”
Hasan al-Bashri juga meninggalkan beberapa mutiara nasihat kepada umat ini. Pertama, nasihat tentang waktu dan umur, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu darimu, maka sebagian dirimu telah pergi.”
Kedua, nasihat tentang ujian kesabaran, “Tidaklah seorang hamba diuji dengan musibah, kecuali Allah ingin mendengar rintihannya.”
Ketiga, nasihat tentang ilmu dan amal, “Ilmu itu bukan banyaknya riwayat. Akan tetapi, ilmu adalah cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
Nasihat keempat tentang zuhud dan dunia, “Dunia itu tiga hari. Kemarin sudah pergi dengan segala isinya. Besok belum tentu engkau menjumpainya. Hari ini adalah milikmu, maka beramallah di dalamnya.”
Demikianlah sosok ulama dari kalangan tabiin, Hasan al-Bashri. Beliau ulama rabani yang ilmunya luas, ibadahnya kuat, dan zuhudnya tinggi. Beliau berani menasihati penguasa. Beliau adalah bukti bahwa kehebatan ulama bukan dengan harta dan jabatan, tetapi dengan hati yang takut kepada Allah Taala. [MNews/YG]
