Ummu Sulaim, Ibu Tangguh yang Melahirkan Sahabat Mulia

Ummu Sulaim, Ibu Tangguh yang Melahirkan Sahabat Mulia

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Hiram bin Jundub al-Anshariyah adalah ibu dari Anas bin Malik. Ketika suaminya, Malik bin Nadhir, mendapati Ummu Sulaim masuk Islam, ia marah besar dan meminta istrinya untuk kembali  menyembah berhala. Namun, Ummu Sulaim tetap dalam pendiriannya.

Sejak masuk Islam, Ummu Sulaim mengajari Anas bin Malik untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Anaknya itu menurut, lalu mengucapkan, “La ilaaha illalah, Muhammadur Rasulullah.” Mengetahui hal itu, suaminya kembali marah. Ia lalu berkata kepada istrinya, “Jangan kau rusak putraku!” Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidak merusaknya.”

Sabar Mendidik Anak

Ummu Sulaim tetap sabar dan teguh mendidik Anas bin Malik, meskipun tidak didukung suaminya. Hingga suaminya meninggal, Ummu Sulaim tetap gigih menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, meskipun Anas sendiri belum pernah bertemu Rasulullah ﷺ. Pembinaan yang dilakukan ibunya mendorong Anas bertekad, jika ia sudah besar akan pergi menemui Nabi Muhammad ﷺ.

Setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, Ummu Sulaim dan Anas bin Malik menemui beliau. Ia berkata, “Ya Rasul, anakku, Anas yang masih kecil ini, biarlah ia menjadi pelayan Anda. Sudilah kiranya Anda berdoa untuknya.” Rasul ﷺ bersabda, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya.” Kelak ketika sudah tua, Anas berkata, “Demi Allah, hartaku banyak, anak dan cucuku mencapai 100 orang.”

Anas berkata, “Rasulullah ﷺ tiba di Madinah saat usiaku 10 tahun. Beliau wafat saat usiaku 20 tahun. Ibuku senantiasa mendorong aku untuk menjadi pelayan Rasulullah ﷺ.” Sungguh, suatu kebanggaan di dunia dan kemuliaan di akhirat bisa menjadi pelayan Rasulullah ﷺ.

Setiap pulang dari rumah Nabi ﷺ, Anas bin Malik menceritakan semua pengalamannya kepada ibunya. Anas pernah berkata, “Demi Allah, aku menjadi pelayan Rasulullah ﷺ selama sembilan tahun. Tidak pernah sekalipun beliau mengomentari apa yang aku lakukan. ‘Kenapa kamu lakukan ini?’ Dan beliau tidak pernah mengomentari sesuatu yang tidak aku kerjakan, ‘Mengapa kamu tidak lakukan ini?’” (HR Muslim).

Anas pernah berkata, “Jika Rasulullah ﷺ disambut oleh seorang laki-laki lain yang menjabat tangannya, beliau tidak melepaskan tangannya hingga laki-laki tersebut yang melepaskan tangannya. Beliau juga tidak memalingkan wajahnya dari wajah orang itu hingga orang itu yang memalingkan wajahnya terlebih dahulu. Beliau tidak pernah memajukan kedua lututnya melebihi teman duduknya.” (HR Abu Daud).

Ummu Sulaim selalu berpesan kepada Anas supaya melakukan hal yang diridai Rasulullah dan menjauhi semua hal yang membuat beliau marah. Tsabit mengisahkan bahwa Anas bin Malik pernah bercerita, “Rasulullah ﷺ mendatangiku ketika aku sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Beliau mengucapkan salam kepada kami, lalu beliau mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat pulang ke rumah ibuku. Ketika sampai di rumah, ibuku bertanya, “Kenapa pulang terlambat?” Aku menjawab, “Rasulullah ﷺ mengutusku untuk suatu keperluan.” Ibuku kembali bertanya “Keperluan apa?” Aku menjawab “Ini rahasia, Ibu.” Ibuku berkata “Jangan diceritakan kepada siapa pun.” Anas berkata kepada Tsabit, “Demi Allah, seandainya aku boleh menceritakan kepada seseorang, tentu aku akan bercerita kepadamu.” (HR Muslim).

Mengutamakan Allah dan Rasul-Nya

Ketika masyarakat membicarakan kemuliaan Ummu Sulaim dan Anas bin Malik, Abu Thalhah yang masih musyrik memberanikan diri meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah bersedia memberikan mas kawin berupa emas dan perak. Akan tetapi, Ummu Sulaim bukanlah wanita biasa. Ia seorang muslimah sejati yang cerdas. Dunia dan seisinya tidak berharga sama sekali di matanya. Ia menjawab permintaan Abu Thalhah, “Orang sepertimu tidak pantas ditolak, tetapi kamu orang kafir, sedangkan aku adalah muslimah. Aku tidak boleh menikah denganmu. Aku tidak ingin emas dan perak. Aku ingin kamu masuk Islam.” Abu Talhah bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?” Ummu Sulaim menjawab, “Temuilah Rasulullah ﷺ.”

Kemudian, Abu Thalhah menemui Rasulullah ﷺ yang sedang bersama sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasul bersabda, “Abu Thalhah datang dengan semangat masuk Islam.” Di depan Rasul, Abu Thalhah menceritakan apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Ia pun lalu masuk Islam dan menikahi Ummu Sulaim.

Keluarga yang Mendapat Rahmat

Abu Hurairah menuturkan bahwa seorang laki-laki pernah menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Ya Rasul, kami mengalami paceklik.” Rasul bertanya kepada para istrinya. Ternyata mereka tidak memiliki satu makanan pun. Rasul lalu berkata kepada para sahabatnya, “Siapa yang mau menjamu orang ini, pasti ia dirahmati Allah.” Seorang laki-laki Anshar berdiri, lalu berkata, “Saya sanggup, ya Rasul.” Sahabat ini lalu mengajak tamu tadi ke rumahnya. Ia berkata kepada istrinya, “Di ruang tamu ada tamunya Rasulullah ﷺ. Suguhkan semua makanan yang kita punya.” Istrinya menjawab, “Demi Allah, kita hanya punya makanan untuk anak kecil kita.” Sang suami berkata, “Kalau begitu, jika anak kita lapar dan minta makan malam, usahakan agar ia tertidur. Setelah itu, pergilah ke ruang tamu dan jangan lupa mematikan lampu. Biarlah malam ini kita melipat perut kita.” Sang istri pun melakukan apa yang diminta suaminya.

Keesokan harinya, laki-laki itu menemui Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, “Allah takjub kepada sepasang suami istri tersebut.” Suami istri itu adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Allah Swt. berfirman, “… Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri. Sekali pun mereka sangat memerlukan. …” (QS Al-Hasyr: 9).

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku masuk surga. Aku mendengar suara langkah kaki. Aku bertanya, ‘Siapa ini?’ Para malaikat menjawab, ‘Ia adalah Ghumaisa binti Malhan, ibu Anas bin Malik.’” (HR Muslim).

Ummu Sulaim adalah sahabiyah mulia. Ia seorang ibu tangguh yang sabar dan gigih mendidik anaknya, Anas bin Malik. Ia mendidiknya dengan iman dan takwa sejak Anas masih kecil hingga menjadi sahabat yang banyak meriwayatkan hadis Nabi ﷺ. Sungguh, Ummu Sulaim patut menjadi teladan bagi kaum ibu hari ini. Kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi motivasi kuat dalam menyiapkan generasi berkualitas seperti Anas bin Malik ra.. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *