Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Dakwah adalah amalan para nabi dan rasul. Mereka diutus oleh Allah Swt. untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia. Namun, kewajiban dakwah ini tidak terbatas dilakukan oleh para utusan Allah saja. Allah Swt. juga menyeru orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan untuk berdakwah.
Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah [9]: 71).
Rasulullah saw. bersabda, ”Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” (HR Bukhari). Ini adalah perintah yang bersifat umum, tanpa membedakan bagi laki-laki maupun perempuan.
Ummu Syuraik ra. Mendakwahi Wanita-Wanita Quraisy
Para sahabat Nabi saw. telah memberi contoh yang baik kepada kita. Setelah mengenal dan memahami Islam, mereka tidak mencukupkan pada kesalehan pribadi. Namun, para sahabat giat mendakwahkan Islam kepada orang lain di sekitarnya.
Di antara para shahabiyah, ada Ummu Syuraik ra. yang masuk Islam saat masih tinggal di Makkah. Setelah keimanan merasuk dalam hati, ia mengerti konsekuensi yang harus ditanggungnya sebagai muslimah. Kemudian ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyebarkan Islam. Ummu Syuraik menjalankan aktivitas dakwahnya dengan menemui beberapa wanita Quraisy. Ia menyampaikan Islam kepada mereka tanpa merasa bosan dan lelah.
Ummu Syuraik ra. telah mencontohkan bahwa seorang muslimah melakukan dakwah kepada sesama wanita, orang-orang terdekat dari kalangan keluarganya, dan para wanita lain di sekitar tempat tinggalnya.
Sabar Menghadapi Cobaan dalam Mengemban Dakwah
Ummu Syuraik ra. sangat paham bahwa aktivitas dakwah menuntut berbagai pengorbanan dan kesiapan mengalami penderitaan. Ia mengetahui bahwa berbagai cobaan akan menghadangnya, baik yang berkaitan dengan jiwa maupun harta. Namun baginya, iman bukan sekadar penyataan lisan, melainkan suatu realitas yang penuh tanggung jawab, amanat sarat beban, dan perjuangan panjang yang menuntut kesabaran.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Berdakwah kepada manusia agar mengikuti jalan Allah adalah tugas para rasul dan pengikutnya-pengikutnya. Allah menjamin akan menjaga dan melindungi Rasul-Nya dari gangguan manusia. Demikian juga para pengemban dakwah yang menyampaikan ajaran Islam, mereka akan dijaga dan dilindungi oleh Allah sesuai kadar perjuangannya untuk mendakwahkan agama ini.”
Apabila dakwah menuntut pengorbanan dan kesabaran menanggung kesukaran, para shahabiyah pun telah mengambil porsi besar dalam kedua sikap tersebut.
Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 214).
Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasululllah saw., siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Rasulullah saw. menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian generasi setelahnya, dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan makin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-henti ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun. “ (HR Ahmad).
Meskipun demikian, dakwah Ummu Syuraik bukan tanpa cobaan. Ibnu Abbas ra. menuturkan, “Hati Ummu Syuraik tersentuh Islam sejak ia masih tinggal di Makkah, lalu ia pun memeluk dan menyatakan keisalmannya. Setelah itu, ia mulai menemui wanita-wanita Quraisy secara diam-diam untuk mengajak mereka memeluk Islam. Akan tetapi, aktivitasnya terendus oleh para pemuka Makkah. Mereka lalu menangkapnya seraya berkata, “Seandainya tidak mempertimbangkan kaum kerabatmu, kami tidak akan segan mempermalukanmu. Kami akan mengembalikanmu kepada mereka.”
Ummu syuraik ra. menuturkan pengalamannya tersebut, “Mereka pun membawaku dengan seekor unta tanpa perbekalan sedikit pun. Kemudian mereka membiarkanku selama tiga hari tiga malam tanpa memberiku makanan dan minuman. Setiap kali singgah di suatu tempat, mereka mengikatku di bawah terik matahari tanpa makanan dan minuman, sedangkan mereka berteduh, lalu melanjutkan perjalanan.”
Ummu Syuraik ra. adalah shahabiyah yang telah menunjukkan teladan terbaik bagi seluruh muslimah pengemban dakwah hari ini. Ia meneladani bahwa ajaran Islam harus dipahami dengan benar, lalu didakwahkan kepada para muslimah lainnya. Ia telah menunjukkan keteguhan dalam memegang keimanan dan melaksanakan kewajiban menyampaikan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw.. Meskipun cobaannya tidak ringan, ia tetap sabar, rida, dan tulus. Ia hanya mengharapkan balasan dari Allah Taala. Ia tidak pernah berpikir untuk bersikap lemah agar bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan orang-orang musyrik Makkah.
Rasulullah saw. bersabda. “Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapat balasan pahala yang sama seperti pahala orang-orang yang mengikuti petunjuknya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala-pahala mereka. Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat balasan dosa yang sama seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka.“ (HR Muslim). Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

One thought on “Ummu Syuraik ra., Shahabiyah yang Teguh dan Sabar dalam Mengemban Dakwah ”