Muslimah News, FOKUS —Menkes Budi Gunadi Sadikin memperkirakan sedikitnya 28 juta dari 287 juta penduduk Indonesia memiliki masalah kesehatan jiwa. Perkiraan itu merujuk pada rasio gangguan kejiwaan global yang disampaikan WHO. Menurutnya, dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, maka secara minimal terdapat 28 juta orang yang berpotensi mengalami gangguan kejiwaan.
Sebelumnya, berdasarkan data hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026, sekitar 27 juta lebih penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Hasilnya menunjukkan bahwa gejala depresi dan kecemasan pada kelompok anak sekolah dan remaja jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.
Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 4,8% atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi, sementara 4,4% atau 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan. Adapun pada kelompok dewasa dan lansia, gejala depresi tercatat sebesar 0,9% atau 174.579 orang, sedangkan gejala kecemasan sebesar 0,8% atau 153.903 orang.
Budi mengatakan, hasil skrining tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk mulai memperkuat layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama Merespons hal ini, Kemenkes kini telah menyusun tata laksana pelayanan kesehatan jiwa, baik untuk pasien yang membutuhkan pengobatan maupun layanan psikologis.
Bukan Problem Personal
Isu kesehatan mental di Indonesia belakangan memang ramai diperbincangkan. Kondisi ini pada dasarnya dipicu oleh berbagai aspek mencakup aspek sosial-ekonomi, politik, pendidikan, dan teknologi. Meski tata laksana pelayanan kesehatan jiwa disusun, tetapi menyelami aspek pemicu dalam tataran sistemis juga tidak kalah urgen.
Di Indonesia sendiri, berbagai pemicu problem kesehatan mental lekat dengan kesulitan hidup yang kini mencengkeram masyarakat. Menengok transaksi ekonomi negeri ini saja, tampak penurunan daya beli akibat harga barang dan jasa yang cenderung meningkat. Sementara itu, pendapatan masyarakat menurun sebagai efek domino dari sulitnya lapangan kerja dan maraknya PHK.
Kondisi ini berkontribusi dalam menambah tekanan mental akibat kebijakan negara yang gagal memberi jaminan pemenuhan kebutuhan asasi masyarakat. Di sini jelas bahwa masalah kesehatan mental bukan masalah personal semata. Lantas,bagaimana mengurai masalah kesehatan mental secara personal maupun sistemis?
Manusia lahir dan tumbuh dalam sebuah sistem. Secara sosial, interaksi akan terjadi dalam lingkungan masyarakat hingga negara. Dalam interaksi personal, seseorang membutuhkan kenyamanan dan harmonisasi dengan individu lainnya. Sementara dalam tataran makro, setiap individu berperan sebagai rakyat yang aktivitasnya terintegrasi dengan berbagai kebijakan yang dirumuskan negara. Dalam lingkup inilah, masyarakat hidup dan menjalani kehidupan.
Realitas ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa bukan semata problem personal, melainkan menyentuh aspek sistemis. Menilik realitas personal, masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan. Pemenuhan kebutuhan harian berupa sandang, pangan dan papan, dll, seluruhnya membutuhkan kemampuan personal untuk bertahan. Dari aspek ekonomi, misalnya, seseorang harus bekerja, memenuhi kebutuhannya diri dan tanggungannya, juga menjalani interaksi di dalam ruang-ruang sosial.
Namun, bagaimana jadinya jika kebijakan negara kerap tidak berpihak pada peningkatan ekonomi masyarakat? Biaya pendidikan mahal, akses layanan kesehatan meningkat, harga kebutuhan pokok naik, sementara lapangan kerja kian sempit dan kompetitif. Masyarakat harus berjibaku dengan realitas ini.
Di sisi lain, mereka membutuhkan solusi dari kepenatan ekonomi rumah tangga. Sayang, solusi di luar sana benar-benar menggigit. Lintah darat merajalela, baik di dunia maya maupun nyata. Kondisi ini kian parah ketika masyarakat dibentuk menjadi konsumeris. Tipikal masyarakat konsumtif tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Perilaku mereka dimanipulasi oleh korporasi sehingga gaya hidup benar-benar mencerabut fitrah manusia.
Realitas sosial di atas tidak lepas dari kerja para arsitek kebijakan. Merekalah yang memberikan ruang bagi kaum kapitalis untuk membombardir masyarakat dengan gaya hidup yang konsumtif. Negara menetapkan kebijakan yang memberikan ruang bagi para pebisnis untuk mempromosikan gaya hidup baik melalui fesyen, film, dan hiburan yang masuk ke ruang-ruang privat yang mempengaruhi masyarakat.
Pada titik ini, manusia harus kembali merenung. Apa penyebab ini semua? Ada baiknya kita tidak melulu terjebak dalam manipulasi shophaholic atau mental disorder lain tanpa mau memahami bahwa ada upaya masif kaum kapitalis untuk menjajakan gaya hidup konsumtif di tengah masyarakat. Kita harus mendudukkan realitas ini dari berbagai aspek hingga pada titik bahwa yang terjadi pada individu masyarakat tidak lepas dari bentukan sistem yang berjalan.
Berbenah Secara Sistemis
Fakta di atas menunjukkan bahwa manusia dibentuk dalam sebuah sistem kehidupan yang khas. Corak masyarakat yang hidup dalam sistem kapitalisme tentu akan lekat dengan arah pandang kapitalisme dan sekularisme. Cara mereka berpikir dan beraktivitas erat kaitannya dengan hal ini. Sadar atau tidak, sistem membentuk pola khas ini dan masyarakat tidak boleh menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah.
Kesadaran ini akan memunculkan kritik atas arah pandang yang sedang diaruskan secara sistemis. Sistem kapitalisme menjajakan prinsip hidup sekuler ciri khas kaum kapitalis. Masyarakat dipaksa mengikuti ritme hidup ala kapitalisme yang menguras materi dan energi. Juga sistem sosial yang mengukur kesuksesan berdasarkan capaian materi yang dimiliki, nyatanya membuat masyarakat lelah secara fisik dan psikis.
Kondisi di atas hanya akan terurai tatkala manusia berpikir mengenai hal mendasar tentang kehidupan. Oleh karena itu, point of view masyarakat hari ini harus diubah. Terjadinya perubahan tidak cukup melalui konseling personal ataupun mengonsumsi obat penenang. Masyarakat harus mengusahakan perubahan arah pandang hidup secara mendasar dari tataran personal hingga sistem.
Sebabnya, seruan-seruan moral, pembekalan, dan pelatihan kesehatan jiwa kadang-kadang masih belum mempan saat berbenturan dengan sistem yang toksik. Upaya untuk menenangkan pikiran dan melapangkan hati harus terkuras demi berdamai dengan sistem yang tidak manusiawi. Kerja para konselor kesehatan jiwa pun ibarat mencuci piring kotor yang tidak ada habisnya. Ini karena masalah mendasarnya tidak terurai, yakni adanya sistem yang bermasalah yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat.
Sungguh, kita tidak bisa mencukupkan hanya berupa upaya preventif dan kuratif pada tataran personal, tetapi juga harus mencakup tataran sistemis. Dalam suatu kasus, pernah ada seorang psikolog mendapatkan klien yang mengaku stres karena kebijakan negara sebagaimana kasus yang viral beberapa waktu lalu adalah bukti empiris. Dengan demikian dugaan pemerintah akan naiknya angka penderita gangguan jiwa memerlukan upaya responsif secara sistemis.
Solusi Komprehensif Islam, Personal Hingga Sistemis
Setelah memahami bahwa masalah kesehatan jiwa terintegrasi dengan sistem dan tata aturan kehidupan, mencari sistem yang solutif adalah perkara yang tidak bisa ditawar lagi. Di tengah ketakmampuan sistem sekuler kapitalisme menjaga kewarasan manusia, sistem Islam mampu menyolusi permasalahan kehidupan secara komprehensif, baik secara personal maupun sistemis.
Agama kerap dianggap sebagai terapi masalah kesehatan jiwa. Ini tidak salah. Hanya saja, ketika agama dibingkai dalam sudut pandang sekuler, agama hanya menjadi obat penenang. Oleh karena itu, Islam mengarahkan umatnya untuk mengukuhkan visi hidup sebagai jawaban simpul besar dalam menjalani hidup. Simpul besar itu meliputi dari mana manusia berasal, apa tujuan hidupnya dan ke mana kelak manusia begitu meninggalkan dunia ini.
Tiga pertanyaan mendasar (uqdatul qubra) ini harus diurai manusia.Dengan menjawab tiga pertanyaan di atas, manusia akan memahami tujuan hidup dan manfaat atas sebuah aktivitas yang dilakukannya. Selain sebagai landasan dalam menjalani hidup, tiga pertanyaan ini juga menjadi penuntun dan penerang jalan bagi manusia. Manusia yang telah memahami tujuan dan arah pandang dalam aktivitasnya akan memiliki visi hidup yang jelas, matang, dan memiliki prinsip. Inilah kunci ketenangan dan ketenteraman seorang muslim.
Setelah mengurai simpul pertanyaan di atas, setiap muslim diseru untuk senantiasa menciptakan ketenangan jiwa melalui salat, zikir, atau berdoa. Allah Swt. berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28).
Islam juga mengajarkan hal fundamental mengenai konsep qada dan kadar. Konsep ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia adalah bagian dari ketentuan Allah. Tugas manusia adalah menerima ketetapan Allah. Meski demikian, menerima ketentuan Allah tidak bermakna pasrah. Sebaliknya, manusia harus progresif menempuh ikhtiar yang dapat membawa pada hasil yang diinginkan. Penerimaan tersebut bermakna aktif, bukan pasif. Penerimaan pada ketetapan Allah ini erat kaitannya dengan konsep tawakal.
Manusia kerap menganggap bahwa tawakal adalah kepasrahan yang dilakukan tanpa usaha. Padahal, tawakal ini sifatnya aktif. Manusia menempuh sebab terbaik, untuk memperoleh hasil yang terbaik pula, seraya memasrahkan diri kepada Allah. Andaipun hasil yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan, ia rida atas ketetapan Allah. Inilah makna penerimaan atas ketetapan (qada) Allah yang merepresentasikan sikap tawakal muslim yang progresif.
Inilah rahasia agar seorang muslim tidak mudah berputus asa. Pemahaman terhadap qada ini pula yang mampu menstimulasi etos kerja seorang muslim untuk produktif menjalani kehidupan. Pemahaman tentang standar kebahagiaan hanya ada tatkala Allah rida, akan membuatnya senantiasa husnuzhan kepada Allah. Segala ikhtiar yang ditempuh seorang muslim senantiasa dibarengi dengan sikap tawakal dan menerima qada yang Allah tetapkan.
Aktivitas ibadah yang menenangkan jiwa, bertemu dengan pemahaman tawakal dan penerimaan atas qada adalah resep jitu tercapainya kesehatan jiwa seorang individu. Ia tidak akan dipusingkan dengan perasaan-perasaan negatif, rendah diri atau rasa iri dan dengki karena pemahaman senantiasa menuntunnya untuk berpikir dan beramal semata karena Allah. Demikianlah cara Islam melindungi individu muslim agar terhindar dari problem psikis. Lantas bagaimana dari aspek bermasyarakat dan bernegara?
Peran Masyarakat dan Negara
Dari aspek kemasyarakatan, upaya mewujudkan kesehatan jiwa merupakan hasil dari kerja sama (ta’awun) antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam Islam, masyarakat bukan hanya terdiri atas individu saja. Islam mendefinisikan masyarakat sebagai kumpulan individu yang saling berinteraksi dan terikat oleh pemikiran, perasaan dan aturan yang sama.
Artinya, menciptakan sistem sosial yang sehat dan tenang terintegrasi dari pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama di tengah masyarakat. Kesehatan jiwa tidak hanya diupayakan oleh individu, tetapi juga masyarakat yang sadar hingga para penguasa yang amanah.
Islam sendiri memberikan tuntunan perihal hidup bermasyarakat. Islam mengatur tata cara bertetangga, berinteraksi, muamalat, ta’awun dll. Banyak ayat maupun hadis yang berkaitan dengan aspek sosial kemasyarakatan, Allah berfirman, “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS Al-Maidah [5]: 2). Ayat ini merefleksikan atmosfer sosial kehidupan bermasyarakat umat Islam yang saling membantu dalam takwa seraya menjauh dari perbuatan dosa.
Ruang-ruang sosial bersih dari informasi sampah penuh gibah, juga saling sikut atau menjatuhkan. Ini kontras dengan sistem sosial dalam sistem sekuler yang individualistis, bahkan rela mendiamkan kemaksiatan, kompetitif dalam mengejar materi, gibah menjadi asupan harian, dan fakta fasad kehidupan masyarakat lainnya yang membebani psikis individu.
Demikian juga dari aspek bernegara. Sebagai pihak yang berwenang dalam mengatur kehidupan masyarakat, penguasa memiliki kapasitas untuk mengontrol ruang sosial masyarakat agar tetap dalam koridor syariat. Negara berperan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada masyarakat; memastikan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan; memastikan para wali mampu memenuhi kebutuhan harian tanggungannya; hingga memastikan masyarakat hidup dalam ketenangan lahir dan batin.
Di sisi lain, negara juga berwenang dalam menetapkan sanksi bagi siapa pun yang melakukan pelanggaran. Dengan demikian, amar makruf nahi mungkar menjadi tradisi alami masyarakat Islam dan ditopang dengan sistem hukum dan sanksi dari negara.
Inilah mekanisme Islam dalam mewujudkan kesehatan jiwa secara komprehensif. Mekanisme tersebut tidak hanya fokus menciptakan ketenangan pada aspek individu, tetapi juga mencipatakan ketenangan secara sempurna dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Karena sejatinya menjaga kesehatan jiwa, berawal dari sistem yang sehat bukan sistem yang toksik. Wallahualam bissawab. [MNews/JM-NA]
