[Editorial] Tanggung Jawab Menyelamatkan Generasi dari Pengarusan Sekularisasi di Ruang Digital

[Editorial] Tanggung Jawab Menyelamatkan Generasi dari Pengarusan Sekularisasi di Ruang Digital

Muslimah News, EDITORIAL – Dampak negatif kemajuan teknologi digital kian hari kian beragam dan memprihatinkan, terutama yang menyangkut generasi muda. Maraknya isu kesehatan mental di kalangan anak dan remaja, perundungan siber, budaya kekerasan, pornografi-pornoaksi, judol dan pinjol, human trafficking, dll., hanyalah sebagian kecil dari dampak buruk teknologi digital pada kualitas generasi kita di tengah tantangan memenangi perang peradaban pada masa depan.

Terjadinya kasus peledakan bom di SMAN 72 Jakarta Selatan yang dilakukan salah satu siswa beberapa waktu lalu tampaknya bisa menjadi contoh lengkap terkait dampak buruk ruang digital. FN, sang pelaku pemboman, merupakan potret generasi yang terpapar informasi negatif media sosial sekaligus korban dari para pelaku perundungan yang juga diduga kuat terpapar media sosial. Mereka membangun relasi di dunia nyata dengan budaya destruktif yang dibangun tanpa sadar oleh nilai-nilai dan pengetahuan yang diserap dari media sosial.

Begitu pun dengan maraknya kasus judol yang jumlahnya sangat fantastis. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memperkirakan jumlah transaksi judol bisa mencapai Rp1.200 triliun pada akhir 2025. Mirisnya, jumlah deposit judol yang dilakukan oleh pemain berusia 10–16 tahun pada kuartal I 2025 sebesar lebih dari Rp2,2 miliar dan usia 17–19 tahun mencapai Rp47,9 miliar. Mereka pun tentu mengenal aktivitas tersebut karena interaksi intens dengan dunia digital.

Digitalisasi, Sebuah Keniscayaan

Sejak dua dekade terakhir, teknologi digital memang sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari generasi muda kita. Bukan hanya pada kelompok remaja atau pemuda, bahkan anak-anak pun tidak sedikit yang sudah akrab dengan dunia digital, terutama dengan media sosial.

Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per Agustus 2025 bertajuk “Profil Internet Indonesia 2025” menyebutkan, pada semester pertama tahun ini jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 229.428.417 jiwa atau sekira 80,66% dari total penduduk Indonesia.

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa kelompok yang paling dominan dalam pengguna internet adalah Generasi Z yang lahir 1997–2012, usia 13–27 tahun dengan kontribusi 25,54% dari total pengguna. Disusul Milenial (lahir 1981–1996, usia 28–43 tahun) dengan 25,17% dan Generasi Alpha (lahir 2013 ke atas, usia di bawah 13 tahun) sebesar 23,19 persen. (survei[dot]apjii[dot]or[dot]id).

Dominasi generasi muda dalam penggunaan internet ini memang merupakan keniscayaan. Mereka terlahir di era digital dan terekspos secara terus-menerus dengan informasi digital. Itulah sebabnya selain disebut penghuni dunia nyata, mereka pun sering disebut sebagai digital native alias warga dunia digital. Mereka terbiasa dengan teknologi sejak dini dan fasih menggunakan berbagai perangkat dan platform digital, seperti smartphone, laptop, media sosial, dan sebagainya.

Masalahnya adalah perkembangan teknologi digital yang sedemikian pesat di bawah sistem yang eksis sekarang bak pisau bermata dua. Di satu sisi bisa membawa banyak manfaat seperti mempermudah komunikasi, mengefisienkan transaksi keuangan, mempermudah akses informasi dan pembelajaran, membuka peluang bisnis, dan lainnya. Di sisi yang lain juga dapat disalahgunakan untuk hal negatif, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, adu domba, perundungan siber, penipuan, pelanggaran privasi data, dan lainnya.

Semua fenomena ini kian lumrah terjadi di ruang digital yang tanpa sekat. Bahkan, perkembangan teknologi digital yang demikian pesat telah membuat satu sama lain dengan mudah saling memengaruhi; bukan hanya pada tataran individu, tapi juga komunitas, masyarakat, bahkan negara. Ruang digital juga telah membentuk budayanya sendiri dengan berbagai nilai yang semuanya saling bersaing untuk memenangi pertarungan peradaban hingga berpengaruh pada dunia nyata.

Kapitalisme, Jalan Pengarusan Sekularisasi

Tidak dimungkiri, peradaban yang eksis hari ini telah lama dikooptasi oleh sistem kapitalisme yang tegak di atas asas sekularisme dan liberalisme. Peran agama dalam sistem ini benar-benar disingkirkan dari kancah kehidupan, kecuali di ranah individual. Itu pun dibatasi hanya pada aspek ritual dan moral dengan berbagai batasan-batasan, semisal ide HAM dan kebebasan. Tidak heran jika peradaban ini sangat kental dengan nilai-nilai materialisme dan liberalisme, mereduksi nilai moral dan kemanusiaan, dan sangat jauh dari nilai-nilai ruhiah, apalagi halal-haram.

Negara dalam sistem ini di-setting untuk bertindak sebagai regulator semata. Alhasil, prinsip kebebasan yang diagungkan bisa benar-benar dijalankan pada semua aspek kehidupan. Lalu sejalan dengan prinsip kapitalisme, negara dikelola dengan paradigma perusahaan hingga perhitungan-perhitungan bisnis pun begitu kental.

Dengan paradigma seperti itu, semua kebijakan yang dikeluarkan para penguasa—termasuk menyangkut ruang digital—nyaris selalu berporos pada satu kepentingan, yakni kepentingan ekonomi alias materi bagi kaum oligarki. Sementara itu, pertimbangan yang bersifat moral, nilai kemanusiaan, apalagi nilai ruhiah, siap-siap disingkirkan.

Oleh karena itu, jangan harap negara berparadigma sekuler kapitalistik ini akan memiliki visi penyelamatan generasi yang kebijakan-kebijakannya semata ditujukan untuk kebaikan generasi. Negara justru terbukti gagal menjadi perisai penjaga bagi kalangan generasi. Bahkan, semua sistem aturan yang diterapkannya malah membuka lebar pintu kerusakan di berbagai aspek kehidupan generasi.

Lihat saja, kebijakan bidang pendidikan, kesehatan, keamanan, informasi dan media massa, dsb., semua selalu mengarah pada kepentingan menggenjot pertumbuhan ekonomi dan begitu kental dengan spirit hitung-hitungan ekonomi. Pendidikan dan proyek-proyek menyangkut digitalisasi bahkan menjadi jalan sekularisasi dan liberalisasi yang membuat generasi mengalami disorientasi hidup, serta kehilangan ketahanan ideologi. Wajar jika profil generasi muda hari ini jauh dari profil generasi tangguh yang siap jadi trend setter peradaban, apalagi bervisi menjadi pemimpin tertinggi.

Bahkan, demi dan atas nama menggenjot pertumbuhan ekonomi itu pula, negara malah mengapitalisasi bonus demografi yang faktanya sedang terjadi. Salah satunya adalah dengan menggiring generasi muda kita agar terlibat penuh dalam aktivitas ekonomi, terutama ekonomi digital yang diopinikan sebagai aktivitas paling keren dan menjanjikan bagi masa depan peradaban.

Masalahnya adalah narasi generasi muda sebagai pelaku utama aktivitas ekonomi, termasuk ekonomi digital ini nyatanya hanya propaganda menyesatkan semata. Alih-alih dijadikan sebagai aktor utama aktivitas ekonomi, generasi muda justru diposisikan sebagai end user, bahkan ceruk pasar bagi industri negara-negara besar. Itu pun bukan hanya menyangkut produk yang berupa barang konsumtif saja, tetapi yang lebih berbahaya adalah berupa produk pemikiran dan budaya rusak yang intens diproduksi oleh kekuatan kapitalisme global dan menjadi sumber ekonomi bayangan yang sangat mereka andalkan.

Dalam konteks perang peradaban, semua itu tentu tidak mungkin berjalan tanpa sebuah grand design alias perancangan besar. Mengingat negara pengusung sistem kapitalisme global memiliki kepentingan besar untuk melanggengkan hegemoninya atas dunia, khususnya di dunia Islam, yakni melanggengkan penjajahan gaya baru demi mengeruk kekayaan alam yang sedemikian besar dengan memperbudak penduduknya terutama kalangan generasi muda sebagai tumbal bagi pemulihan peradaban kapitalisme yang nyaris tumbang.

Terlebih di dunia Islam sendiri sedang tumbuh sebuah gerakan kebangkitan atas dasar ideologi Islam yang pelan tapi pasti berhasil membangun kesadaran soal kerusakan sistem yang sedang menghegemoni, serta soal makar negara-negara pengusungnya di negeri-negeri Islam, dan soal peran para antek mereka dari kalangan penguasa muslim sendiri. Juga berhasil membangkitkan kesadaran tentang kewajiban dan urgensi mengembalikan sistem Islam, terutama di kalangan generasi muda yang dalam struktur masyarakat justru dikenal sebagai pelopor perubahan. Sampai-sampai negara-negara pengusung kapitalisme global dan anteknya merasa berkepentingan untuk membajak potensi generasi muda demi melanggengkan penjajahan mereka.

Islam, Support System Generasi Terbaik

Islam sendiri sejatinya tidak anti pada kemajuan teknologi, termasuk bidang digitalisasi. Namun dalam Islam, teknologi adalah wasilah untuk mempermudah kehidupan, sedangkan pengembangannya didedikasikan hanya demi kemuliaan agama dan umat Islam dengan basis akidah dan hukum-hukum syarak.

Negara dalam Islam, yakni sistem Khilafah, bahkan berperan aktif dalam pengembangan teknologi tercanggih dalam kerangka pelaksanaan tupoksinya sebagai raa’in (pengatur) sekaligus junnah (penjaga) umat. Dua fungsi inilah yang menunjukkan bahwa Khilafah justru hadir untuk menyelamatkan generasi, termasuk di ruang digital, yang semuanya hanya bisa mewujud melalui penerapan syariat Islam secara kafah pada seluruh aspek kehidupan.

Hal ini terkait realitas bahwa syariat Islam memang datang sebagai solusi seluruh problem kehidupan yang jika diterapkan akan mampu menjaga fitrah kebaikan yang ada pada manusia dari zaman ke zaman. Akal, naluri, jiwa, harta, kehormatan, semua dijaga oleh aturan-aturan Islam. Begitu pun semua qimah (nilai perbuatan) yang diinginkan manusia, mulai dari moral, materi, ruhiah, dan kemanusiaan, semuanya dijamin bisa mewujud secara selaras dengan penerapan seluruh aturan-aturan Islam.

Menilik sejarah peradaban Islam, tampak bahwa penerapan Islam secara kafah dalam naungan Khilafah menjadi kunci munculnya generasi terbaik yang berhasil membawa umat pada kebangkitan. Generasi Islam ini kukuh dalam ketakwaan dan ahli dalam menyolusi berbagai problem kehidupan. Wajar jika sepanjang belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai pionir peradaban dan tampil sebagai sebaik-baik umat.

Terlebih dalam Islam terdapat berlapis-lapis perlindungan yang menjamin lahirnya generasi pemimpin arsitek peradaban cemerlang. Lapis pertama berupa benteng ketakwaan yang inheren ada pada dirinya sendiri, antara lain diperoleh melalui ajaran tentang akidah dan moral, serta sebagai dampak penerapan sistem pendidikan berbasis akidah, serta pengajaran dan dakwah Islam, dan lainnya.

Lapis kedua berupa keluarga yang kokoh, baik struktur dan fungsinya, serta lapis ketiga berupa masyarakat yang memberi lingkungan kondusif dengan tradisi amar makruf nahi mungkar yang sangat kental. Lapis kedua dan ketiga ini niscaya muncul karena dukungan penerapan syariat, seperti sistem ekonomi yang adil dan menyejahterakan, sistem keuangan negara (baitulmal) yang kuat dan berkesinambungan, sistem sosial yang agung dan menjaga masyarakat dari keburukan, sistem hukum yang mengeliminasi kemaksiatan dan kriminalitas, serta sistem media massa yang mencegah penyebaran keburukan, dan lainnya.

Adapun lapis terakhir adalah keberadaan negara yang menjadi support system yang utuh dan menyeluruh bagi terwujudnya seluruh lapis perlindungan yang lainnya. Caranya adalah dengan menerapkan seluruh syariat Islam secara praktis dalam seluruh peri kehidupan masyarakat, tidak terkecuali di ruang digital. Khilafah bahkan meniscayakan penggunaan ruang digital sebagai sarana pendidikan dan penguat dakwah, sekaligus alat propaganda untuk menunjukkan kekuatan negara di hadapan negara-negara luar.

Oleh karenanya, Khilafah akan memastikan tidak ada satu pihak pun yang berani mendatangkan kemudaratan. Hal ini tentu menuntut independensi dan kekuatan dalam berbagai aspek, termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang. Semua ini sejalan dengan fakta Khilafah sebagai negara yang memiliki visi global, yakni sebagai pengemban risalah Islam yang wajib menyebarkan dakwah ke seluruh alam, sekaligus bervisi memimpin peradaban cemerlang yang mengharuskan Khilafah selalu terdepan dalam segala hal.

Butuh Perjuangan

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa perjuangan menegakkan Khilafah sebagai penegak dan penerap syariat bukan hanya wajib, melainkan juga urgen untuk menyelamatkan generasi yang hari ini dirusak oleh sistem sekuler kapitalisme global. Rasulullah ﷺ telah mencontohkan jalan mewujudkannya, yakni dengan fokus menyadarkan umat dengan Islam sebagai ideologi melalui pembinaan intensif dan berjemaah, disertai proses peleburan di tengah umat yang seluruh aktivitasnya mengarah pada terbentuknya basis dukungan massa sebagai prasyarat bagi tegaknya negara yang kuat dan berdaulat.

Perjuangan mewujudkan Khilafah ini tentu bukan perkara mudah. Merupakan sunatullah akan banyak rintangan dan tantangan, terutama dari para penjaga sistem kapitalisme, khususnya lagi negara-negara adidaya bersama para anteknya sebagaimana yang dahulu juga dihadapi oleh kelompok dakwah Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya.

Para pejuang Islam hari ini harus teguh dan sabar menapaki jalannya bersama jemaah dakwah yang terbukti lurus dan konsisten, serta tidak boleh menyelisihi bahkan satu mili pun dari jalan yang baginda Rasulullah ﷺ tempuh, hingga kemenangan terwujud atau kita gugur di jalan perjuangan. [MNews/SNA]

Share

2 thoughts on “[Editorial] Tanggung Jawab Menyelamatkan Generasi dari Pengarusan Sekularisasi di Ruang Digital”

  1. Daya rusak sistem kapitalis memang luar biasa. Hanya Islam yg mampu mengembalikan kemuliaan kaum muslimin termasuk pemuda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *