Pergerakan Pemuda, Diarahkan ke Mana?

Pergerakan Pemuda, Diarahkan ke Mana?

Muslimah News, FOKUS — Pada momen peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) yang ke-97 tahun 2025 Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa bangsa ini akan maju dengan semangat dan kerja keras para pemuda. Presiden juga berpesan agar para pemuda tidak takut bermimpi besar dan tidak takut gagal karena pemuda bukan pelengkap sejarah, melainkan penentu sejarah berikutnya. Dengan tajuk ”Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu” HSP diharapkan bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi spririt pemuda untuk bergerak nyata mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Keinginan Prabowo untuk memberdayakan pemuda agar bergerak nyata mewujudkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar sangat mungkin terwujud jika arah pemberdayaannya benar. Wilayah yang sangat luas, sumber daya alam melimpah, dan bonus demografi menjadi modal besar untuk mewujudkan cita-cita itu.

Mengikuti Arahan Penjajah

Jika kita menengok ke belakang, spirit Sumpah Pemuda sejatinya adalah membebaskan Nusantara dari penjajahan fisik yang dilakukan oleh negara-negara kafir penjajah seperti Belanda, Jepang, Inggris dan lainnya. Indonesia memang akhirnya merdeka dari penjajahan fisik. Namun, sejak berakhirnya Perang Dunia II para penjajah Barat mengubah metode penjajahannya dari penjajahan fisik ke penjajahan pemikiran.

Penjajahan pemikiran ditujukan untuk melancarkan serangan ide sekularisme kapitalisme ke dunia Islam, khususnya para pemuda muslim. Barat yang menganut sistem sekuler kapitalisme berusaha keras menghunjamkan sistem rusak dan merusak ini untuk mengikis pemikiran dan pemahaman Islam dari benak umat dan menghilangkan kebanggaannya sebagai pemuda muslim. Dengan pemikiran sekuler ini, para pemuda diarahkan untuk meninggalkan syariat sebagai pegangan hidup dan pengaturan urusan politik kenegaraan.

Ideologi kapitalisme sekuler merancang penjajahan baru dengan menjadikan pemuda sebagai sasaran utamanya. Penjajah mengarahkan pemikiran dan pergerakan pemuda demi melestarikan penjajahan mereka. Melalui Lembaga internasional seperti PBB, Amerika dan negara-negara Barat membuat grand design pemberdayaan pemuda dalam Youth 2030: UN 2030 Strategy.

Youth 2030 adalah kerangka kerja PBB untuk mengintensifkan peran pemuda di tiga pilar, yakni perdamaian dan keamanan, hak asasi manusia (HAM), dan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Ini menjadi strategi politik PBB agar diadopsi oleh masing-masing negara yang menjadi anggotanya.

Pemerintah Indonesia membentuk banyak duta untuk merealisasikan kerangka kerja PBB itu. Salah satunya adalah Duta Damai yang diinisiasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga Indonesia dari paham radikal dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda di ruang digital. Ada lebih dari 1.200 Duta Damai BNPT yang tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Namun yang perlu dicermati, dalam narasi yang dikampanyekan Duta Damai terdapat cara pandang sekuler dan liberal. Duta Damai sejatinya adalah duta sekularisme, liberalisme, dan demokrasi sebagai sistem politik. Ini semua jelas bertentangan dengan akidah Islam yang meyakini bahwa Allah Swt. adalah Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur.

Ada juga Duta Moderasi yang diinisiasi oleh Kementerian Agama. Duta Moderasi adalah agen yang ditugaskan untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan saling menghargai di tengah keberagaman. Moderasi agama yang dimaksud adalah membangun Islam yang menerima sistem demokrasi. Moderasi beragama ini diarahkan untuk mengukuhkan hegemoni penjajahan dan menghalangi kebangkitan Islam kafah.

Narasi moderasi beragama ditujukan untuk mencegah penyebaran paham ekstrem dan radikal. Namun, yang perlu diwaspadai adalah bahwa yang disebut paham ekstrem dan radikal oleh Barat adalah muslim yang menghendaki penerapan syariat Islam kafah demi tegaknya kembali peradaban Islam.

Jadi peran pemuda dalam perdamaian dan keamanan mewujud dalam Duta Damai ataupun Duta Moderasi Beragama yang bertujuan untuk menyebarkan narasi perdamaian alaBarat, yakni moderasi Islam. Tujuannya adalah penghapusan peran agama (Islam) dalam pengaturan kehidupan, termasuk kehidupan bernegara (sekularisme). Narasi perdamaian yang sejatinya deradikalisasi membuat para pemuda tidak mengenal agamanya sendiri, bahkan menghujat Islam. Hukum-hukum Islam yang sejatinya menjadi solusi setiap persoalan dikatakan kuno, ribet, pemecah belah persatuan, dan lainnya.

Barat juga mengaruskan narasi HAM yang ditujukan untuk menjaga kebebasan individu dalam beragama dan berperilaku. Barat berupaya mempromosikan ide-ide rusak, seperti kebebasan, HAM, dan demokrasi, sebagai ide yang harus diadopsi pemuda muslim. Barat mencegah pemuda muslim memahami Islam sebagai agama yang mengatur urusan politik, kenegaraan, ekonomi, sosial, hankam, serta peradilan. Barat takut Islam akan menggantikan sistem rusak kapitalisme melalui tangan para pemuda muslim. Narasi HAM akhirnya merusak cara hidup pemuda muslim. Mereka hidup bebas, bebas bergaul dengan lawan jenis, bebas menyalurkan hasrat seksual, bebas berbicara, dan bebas berekspresi. Para pemuda tumbuh tanpa adab, hanya mengejar kesenangan sesaat.

Pelestarian Kepentingan Kapitalisme

Adapun pembangunan berkelanjutan (SDGs) juga harus dipahami sebagai pelestarian kepentingan kapitalisme dalam isu ekonomi, pendidikan, lingkungan, pariwisata, dan sebagainya. Sebagai contoh dalam isu ekonomi terdapat tujuan ke-8 SDGs, yaitu upaya kontekstualisasi promosi pekerjaan yang layak bagi pemuda dalam meraih pertumbuhan ekonomi yang stabil. Secara khusus, pemuda harus memperoleh pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mampu berkontribusi dalam ekonomi produktif. Mereka butuh akses ke pasar kerja yang dapat menyerap mereka ke dalam angkatan kerja.

Untuk tujuan ini pemerintah mendorong pemuda menjadi Duta Wisata dan Ekonomi Kreatif. Program ini bertujuan melibatkan generasi muda dalam mempromosikan pariwisata dan produk ekonomi kreatif di daerah masing-masing. Pemilihan Duta Wisata yang mencakup aspek ekonomi kreatif menjadi ajang tahunan. Grand Final Pemilihan Duta Wisata Indonesia Tahun 2025 berlangsung di Balikpapan pada 5—10 November 2025.

Namun, program ini sesungguhnya sedang mengerdilkan potensi pemuda hanya sebagai tenaga kerja murah untuk mendongkrak perekonomian dunia di bawah desain kapitalisme. Selain itu, mempromosikan pariwisata sebagai tumpuan penyumbang devisa negara justru memalingkan potensi kekayaan utama negeri ini, yakni sumber daya alam yang melimpah yang saat ini dikuasai asing dan aseng.

Demikianlah, Barat melalui antek-anteknya mengarahkan para pemuda agar menyibukkan diri menjadi duta-duta demi kepentingan mereka, melalui Duta Moderasi, Duta Wisata, Duta UNICEF, Duta WHO, Duta Lingkungan, dan seterusnya. Duta-duta ini menjadi ajang tahunan untuk menjaring potensi pemuda sesuai arahan Barat. Walhasil duta-duta itu tidak akan pernah mampu mewujudkan Indonesia mandiri dan menjadi bangsa yang besar karena bergerak di bawah arahan penjajah.

Sungguh, pemuda muslim tidak boleh masuk ke dalam jebakan Barat sebab akan mengaborsi perannya untuk membangun peradaban gemilang. Dibutuhkan arah pergerakan yang mampu melejitkan potensi generasi muda dan tidak akan menyia-nyiakan potensi besar mereka.

Rasulullah Saw. Mencontohkan Langkah Membangun Negara Besar

Rasulullah saw. adalah sosok pemuda yang berhasil membangun bangsa yang besar. Pengakuan ini disampaikan cendekiawan Barat Michael H. Hart, dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Ia menempatkan Muhammad Rasulullah saw. sebagai pribadi nomor satu yang paling berpengaruh dalam perubahan peradaban dunia. Selama 23 tahun setelah mendapatkan wahyu berupa risalah Islam, Muhammad saw. mengubah dunia dari kegelapan menjadi cahaya terang benderang Islam sehingga Islam menjadi rahmatan lil alamin.

Syekh Ahmad Athiyat dalam kitab Ath-Thariq (Jalan Baru Islam) hlm. 295—299 menggambarkan tahapan dakwah Rasulullah dalam menegakkan negara besar itu. Pertama, Rasulullah saw. membina para sahabat dengan akidah Islam. Kondisi ini berlangsung selama beberapa tahun sampai orang yang mengimaninya berjumlah 40 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka berkumpul di rumah Arqam. Di situlah Rasulullah saw. mengajarkan Islam kepada mereka sehingga mereka menjadi orang-orang yang berkepribadian Islam, hidup hanya untuk Islam, dan tidak rida dengan kehidupan dunia kecuali dalam naungan Islam.

Tahapan kedua, ini dimulai dengan adanya perintah Allah Swt. kepada Rasul-Nya untuk menyerukan dakwah Islam kepada masyarakat. Dakwah tidak dilakukan secara fardiyah (individu), tetapi secara jama’iyah (kelompok) dan ada perintah untuk menampakkan kelompok, jemaah, atau partainya. Hal itu terjadi tiga tahun setelah diutusnya Rasulullah saw.

Pada tahapan ini berlangsung perang pemikiran, konflik antara ide-ide Islam dengan ide-ide kufur, dan berlangsung pula perjuangan politik. Rasulullah saw. membongkar kebobrokan dan kejahatan para pemuka Quraisy. Rasulullah sering kali mencela mereka karena menyembah berhala, benda yang tidak bisa memberikan manfaat ataupun mudarat, seraya membacakan kepada mereka,

اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وٰرِدُوْنَ

“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS Al-Anbiya: 98).

Kaum Quraisy pun mulai menyakiti Rasulullah saw. dan menyiksa para sahabatnya, terutama kaum duafa di antara mereka seperti keluarga Yasir, Bilal, dan sebagainya. Penyiksaan demi penyiksaan datang silih berganti. Kaum muslim berani maju menjadi korban dan syuhada, sedangkan kaum Quraisy tetap dalam pembangkangan dan kekufuran mereka.

Tahapan berinteraksi dengan masyarakat Quraisy yang kafir ini sampai pada kondisi membatu (intoleransi). Ucapan Rasulullah saw. pun tidak dipedulikan lagi (dianggap angin lalu), atau malah mendapatkan reaksi berupa lemparan papan kayu atau kantung penuh batu.

Thalab an-Nushrah

Ketika keadaan makin genting menimpa kaum muslim, Rasulullah pun mulai mencari lahan yang lebih subur bagi dakwahnya dan kaum yang siap melindungi dakwah dan anggota jemaahnya, serta siap menolong agama-Nya. Inilah yang disebut dengan mencari perlindungan dan pertolongan (thalab al-himayah wa an-nushrah).

Rasulullah saw. berulang kali berusaha meminta pertolongan, tetapi beliau gagal hingga lebih dari sepuluh kali. Beliau malah menerima sambutan yang sangat buruk dan penolakan yang sangat menyakitkan. Tidak ada satu kabilah pun yang mau menolongnya, kecuali Bani Amir bin Sha’sha’ah yang memberikan syarat pada beliau agar merekalah yang berkuasa kelak. Rasulullah saw. pun menjawab bahwa kekuasaan (otoritas) itu hanya milik Allah semata, yang ditetapkan berdasar apa yang Dia inginkan.

Keadaan itu terus berlangsung hingga Allah menggembirakan Rasul dengan datangnya jemaah Aus dan Khazraj dalam rangka memberikan baiat kepada beliau yang dikenal sebagai Baiat Aqabah Pertama atau Baiat an-Nisa. Di bukit Aqabah ini jemaah Aus dan Khazraj bersumpah setia pada Rasulullah saw. Mereka, berjumlah dua belas orang laki-laki, bersumpah setia untuk tidak mempersekutukan Allah, berbuat zina, mencuri, dan tidak melakukan hal yang serupa itu.

Baiat ini disebut juga Baiat an-Nisa karena kata/formula (al-shigat) ini digunakan Rasulullah dalam membaiat kaum wanita. Peristiwa tersebut terjadi sebelum disyariatkannya jihad yang menggunakan perangkat fisik. Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin Umair bersama jemaah yang telah beriman itu ke kota Madinah, tiada lain untuk mengajarkan Islam kepada mereka dan menyeru manusia kepadanya.

Tokoh Madinah, yaitu Saad bin Mu’adz dan As’ad bin Zurarah menyambut seruan itu sehingga tersebarlah Islam di Madinah. Kemudian terjadilah Baiat Aqabah Kedua yang dikenal pula dengan Baiat al-Harb (sumpah setia untuk berperang), tiada lain karena jemaah Aus dan Khazraj yang berjumlah 73 orang laki-laki dan 2 orang wanita bersumpah setia pada Rasulullah saw. Mereka siap memerangi orang-orang kafir dan berjanji untuk melindungi beliau saw. jika berhijrah ke Madinah.

Tahapan ketiga, Rasulullah saw. berhijrah ke Kota Madinah dan menyemai benih negara Islam yang siap menceburkan diri ke dalam kancah peperangan dan mengukuhkan berbagai tatanan negara teragung, demi kelangsungan agama termulia sepanjang sejarahnya.

Pemuda Pengisi Panggung Kedigdayaan Peradaban Islam

Tatanan negara Islam yang didirikan Rasulullah menjadi role model bagi tatanan negara Islam berikutnya yang dilanjutkan oleh para khalifah. Para khalifah itu mampu mengantarkan Daulah Islam menjadi daulah yang besar dan mengukir peradaban Islam yang agung. Sejarah penaklukan dan perluasan dunia oleh peradaban Islam tidak pernah meninggalkan peran politik dan strategis kaum muda. Tokoh muda seperti Khalid bin Walid, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dan ratusan pemuda mulia lainnya selalu mengisi panggung kedigdayaan peradaban Islam.

Hal itu terjadi karena Khilafah berhasil mendidik pemuda dengan Islam kafah dan membentengi pemuda dari pemikiran merusak. Dengan itu potensi besar pemuda teroptimalisasi untuk perjuangan Islam, tidak terbelokkan untuk kesenangan dunia yang fana. Khilafah membentengi pemikiran pemuda melalui beberapa mekanisme utama yang berakar pada penerapan syariat Islam secara kafah. Strategi Khilafah dalam hal ini adalah:

Pertama, Khilafah menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang kuat serta memastikan generasi muda memahami tujuan hidup dan memiliki kepribadian Islam yang kukuh sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ideologi asing atau perilaku menyimpang. (Muqaddimah Dustur pasal 165, 166, 167, 169, 174).

Kedua, Khilafah berfungsi sebagai pengendali dan perisai informasi. Khalifah akan mengontrol konten media yang bisa merusak moral atau pemikiran, serta mencegah paparan ide-ide berbahaya seperti liberalisme atau perilaku menyimpang lainnya. (Muqaddimah ad-Dustur pasal 103).

Ketiga, Khilafah menciptakan lingkungan masyarakat yang islami yang amar makruf nahi mungkar menjadi salah satu pilar penegaknya. Hal ini mengurangi ruang gerak bagi pemikiran dan perilaku merusak untuk berkembang.

Keempat, negara Khilafah bertanggung jawab penuh untuk mengurus rakyatnya, termasuk menjaga kemuliaan dan masa depan generasi muda. Pemuda tidak dibiarkan menghadapi tantangan pemikiran rusak sendirian, melainkan dilindungi oleh kebijakan dan sistem negara.

Kelima, dalam naungan Khilafah, pemuda diberdayakan untuk berperan aktif dalam melestarikan peradaban Islam dan menjadi agen perubahan hakiki, juga menyalurkan energi dan semangat mereka ke arah yang positif dan konstruktif sesuai syariat. 

Penjagaan Khilafah terhadap generasi muda berhasil membangun pemahaman yang jelas bahwa tujuan dalam hidup dan pandangan yang benar tentang kesuksesan bukanlah mengejar status yang tinggi atau kenikmatan dunia lainnya, melainkan mendapat rida Allah Swt. dan surga-Nya. Kerinduan kepada surga akan mengangkat mereka di atas kesenangan dunia yang sementara dan memungkinkan mereka untuk menerima peraturan Islam diterapkan dalam kehidupan mereka. Hal ini juga memunculkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka terhadap umat ini khususnya dan umat manusia pada umumnya. Sifat-sifat seperti inilah yang mewujud dalam diri Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Muhammad al-Fatih dan ribuan pemuda lainnya.

Mengikuti Jejak Rasulullah

Saat ini ketika para pemuda diharapkan menjadi pioner perubahan membangun bangsa yang besar, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti jejak Rasulullah saw. Para pemuda harus membangun megaproyek ini dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Para pemuda butuh amal jama’i (berjemaah) bersama sebuah partai Islam ideologis.

Islam telah mendesain bangunan partai Islam ideologis sebagaimana dalam QS Ali Imran: 104, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Sifat dan karakter utama partai Islam adalah mengoreksi berbagai kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan tuntutan syariat. Dakwah amar makruf nahi mungkar berdimensi politik lokal maupun global. Partai Islam harus berasaskan akidah Islam, menolak sekularisme, dan hanya mengambil Islam dalam menawarkan solusi berbagai problematik umat.

Pemuda muslim sebagai bagian umat yang satu membutuhkan kesatuan institusi politik Islam. Oleh karenanya, partai Islam ideologis harus bersifat internasional agar mudah mencermati perkembangan dakwah Islam di berbagai negeri muslim ataupun di berbagai negeri di mana pun pemuda muslim berada. Keberadaan sebuah partai politik dengan prinsip “think globally, act locally” adalah konsekuensi logis kehidupan era kini kala global networking menjadi kebutuhan kaum muda untuk berkiprah.

Partai Islam ideologis tidak akan menjerumuskan pemuda ke dalam desain kapitalisme global, tidak membiarkan asing membajak dan mengeksploitasi pemuda menjadi bumper sistem kapitalisme yang gagal mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan keamanan dunia.

Walhasil pergerakan pemuda harus diarahkan ke partai Islam ideologis sebagai wadah pemuda muslim yang merindukan negeri ini menjadi bangsa yang besar. Partai Islam ideologis merupakan representasi Hizb [ar]-Rasul masa kini yang beranggotakan para pemuda ansar dan muhajirin abad ke-21 yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Bahkan, kebesarannya bukan hanya untuk bangsa ini, tetapi menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tidak ada jalan untuk mewujudkannya selain meniti jalan Rasulullah. Firman Allah Taala, ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan ia banyak menyebut Allah.” (TQS Al-Ahzab [33]:21). [MNews/IA-RR]

Share

4 thoughts on “Pergerakan Pemuda, Diarahkan ke Mana?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *