Penulis: Abdul Qadim Zallum
Muslimah News, TELAAH KITAB — Perumpamaan kata globalisasi di antara istilah-istilah baru bagaikan jilbab di antara pakaian dan kuda Troya di antara sarana-sarana perang. Artinya, kata tersebut menutupi apa yang terkandung di dalamnya untuk menyembunyikan sesuatu yang ditutupinya. Bahkan, menyembunyikan lebih banyak dari sekadar sesuatu yang dapat ditutupi.
Bukti yang sangat jelas terhadap hal itu adalah peristiwa yang pernah terjadi di Beirut pada akhir 1997. Saat itu, Pusat Studi Kesatuan Arab sebagai salah satu lembaga peninggalan kaum nasionalis Arab menyelenggarakan konferensi untuk mengkaji globalisasi dan sikap yang harus diambil negara-negara Arab untuk menghadapinya. Mereka seakan-akan menganggap bahwa globalisasi bertolak belakang dan mengancam ide nasionalisme.
Dalam konsideran yang terdapat dalam undangan konferensi, dinyatakan bahwa topik konferensi adalah (1) Globalisasi dan metode negara-negara Arab dalam memahami dan menyikapinya, (2) Kemunculan globalisasi di bidang politik, ekonomi, dan budaya, (3) Sejarah, riwayat, dan peran globalisasi saat ini, (4) Sikap Amerika terhadap globalisasi, khususnya setelah runtuhnya Uni Soviet dan padamnya Perang Dingin, (5) Dampak globalisasi di bidang ekonomi dan pembangunan di negara-negara Arab, (6) Pencarian peran dan identitas kebudayaan Arab.
Pada konferensi itu, diundang puluhan ulama dan profesor dari berbagai universitas. Ternyata mereka mempunyai persepsi yang simpang siur mengenai globalisasi dan cara menyikapinya. Koran-koran lokal telah mempublikasikan resume berbagai lontaran peserta konferensi tersebut yang diselenggarakan tiga hari berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa konferensi itu lebih tepat disebut “debat kusir” daripada sebuah konferensi yang serius membahas suatu pemikiran. Akhirnya, panitia konferensi memutuskan bahwa konferensi tidak akan mengeluarkan resolusi atau rekomendasi apa pun.
Globalisasi adalah istilah baru dalam bahasa Inggris dan Prancis yang muncul sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Istilah ini tidak digunakan untuk menyifati sesuatu, yakni bahwa keberadaan atau terwujudnya sesuatu itu telah berskala global di sebagian besar penjuru dunia. Akan tetapi, istilah tersebut digunakan untuk menyatakan bahwa ada satu atau beberapa pelaku ekonomi yang bermaksud mengglobalkan sesuatu.
Misalnya, ada satu perusahaan tertentu yang mengadopsi kebijakan produksi yang memandang seluruh dunia sebagai tempat yang layak untuk memproduksi barangnya. Perusahaan tersebut lantas benar-benar memproduksi barangnya di satu atau beberapa negara dengan biaya produksi yang lebih rendah daripada di negara lainnya.
Pada saat itulah dikatakan bahwa perusahaan tersebut telah mengglobalisasikan produknya. Istilah ini diterapkan pula untuk kegiatan-kegiatan lain dari perusahaan tersebut atau perusahaan lainnya, misalnya ketika perusahaan itu mengadopsi kebijakan globalisasi untuk memasarkan dan mempromosikan produknya, untuk mencari komoditas-komoditas baru beserta diversifikasinya, untuk mempekerjakan para buruh, ahli, dan manajer, ataupun untuk menarik para investor dan kreditor guna membiayai kegiatan-kegiatang perusahaan, dan lain sebagainya.
Istilah globalisasi pertama kali digunakan untuk menyifati kegiatan perusahaan-perusahaan besar Amerika pada awal pertengahan 80-an. Pada saat Ronald Reagan menjadi presiden Amerika pada 1981, ia mengambil kebijakan-kebijakan yang berani dalam hubungan internasional, baik di bidang ekonomi maupun politik. Kebijakannya mendapat dukungan kuat dari kalangan bisnis Amerika.
Di antara kebijakan itu adalah kebijakan dolar kuat untuk menarik para investor di luar negeri agar mereka mau menginvestasikan modalnya pada obligasi-obligasi pemerintah Amerika dan pasar-pasar modal yang ada di sana. Upaya ini dibuat dalam rangka membiayai program-program Reagan untuk mempersenjatai kembali Amerika dan untuk memukul Uni Soviet dalam perlombaan senjata yang tengah berkecamuk saat itu. Program ini benar-benar telah berhasil menjatuhkan perekonomian komunisme pada 1989.
Kebijakan dolar kuat ini mengakibatkan nilai dolar mengalami kenaikan yang tinggi dan tetap konstan pada tahun-tahun pertama pemerintahan Reagan. Indeks nilai tukar dolar apabila diukur dengan mata uang negara-negara lain dan dibandingkan dengan pertukaran perdagangan Amerika mencapai 159 poin pada Februari 1985. Padahal, pada bulan pertama pemerintahan Reagan, yakni Januari 1981, indeks nilai tukar dolar adalah 91 poin. Artinya, nilai tukar dolar naik sekitar 75 persen.
Di antara keberanian langkah politik Reagan adalah pengabaiannya terhadap dampak negatif atau efek samping dari kebijakan dolar kuat yang diambilnya. Ini karena ia mengonsentrasikan diri untuk memenangkan pertarungan antara kapitalisme melawan komunisme. Di antara dampak negatif tersebut adalah meningkatnya nilai dolar yang telah melemahkan kemampuan Amerika dalam kompetisi antara produk asing dengan produk Amerika di dalam negeri Amerika.
Akibatnya, ekspor Amerika merosot sementara impornya melonjak tajam. Defisit neraca perdagangan luar negeri Amerika makin terakumulasi dalam jumlah besar pada masa Reagan. Ini karena jumlah totalnya pada masa pemerintahan Reagan pada 80-an telah mencapai US$723 miliar. Padahal, pada masa presiden sebelumnya pada awal 80-an, jumlah total defisit hanya sekitar US$4 miliar.
Di antara dampak negatif kebijakan dolar kuat adalah berkurangnya laba dari banyak perusahaan Amerika sebagai akibat dari adanya persaingan antara produk asing dengan produk Amerika yang harganya menggunakan standar dolar. Kondisi ini memaksa perusahaan-perusahaan Amerika untuk menurunkan harga barangnya. Kemudian mereka meninjau secara serius cara mengurangi biaya produksi barangnya, khususnya upah untuk buruh Amerika.
Sekelompok profesor dari beberapa universitas di Amerika lalu melontarkan ide restrukturisasi bagi perusahan-perusahaan ini. Upaya ini dilakukan dengan mengadakan tinjauan ulang secara mendasar terhadap kegiatan-kegiatan perusahaan, baik dalam hal produksi, pemasaran, maupun kegiatan lainnya. Ide ini mendapat sambutan hangat dari kalangan investor dan pengusaha Amerika.
Penerapan ide ini secara nyata ternyata mengakibatkan ditutupnya banyak pabrik dan cabang-cabang perusahaan Amerika, serta diberhentikannya sejumlah besar pegawai dan buruh perusahaan dengan pesangon yang besar. Ini seperti yang pernah dilakukan oleh General Motor, perusahaan mobil terbesar di Amerika yang memberhentikan sekaligus 74 ribu karyawannya. Begitu pula IBM, perusahaan komputer terbesar di sana yang memberhentikan sekitar 60 ribu karyawannya dalam tiga tahap pada waktu yang hampir bersamaan. [MNews/RY-YG]
Sumber: Abdul Qadim Zallum, Persepsi-Persepsi Berbahaya untuk Menghantam Islam dan Mengokohkan Peradaban Barat.
Bersambung ke “Globalisasi” Bagian 2/3.

One thought on “[Persepsi Berbahaya] Globalisasi (Bagian 1/3)”