Muslimah News, LENSA DAERAH — Puluhan aktivis muslimah dari berbagai kampus di Bandung Raya, Jawa Barat, berkumpul dalam acara Next Level Activism: “GenZ’s Journey to Happiness”, Ahad (12-10-2025). Pada acara ini diungkap bahwa batasan bahagia dalam Islam itu sudah clear.
Mengawali acara, aktivis dakwah nasional Iffah Ainur Rochmah berpesan, “Bahagia itu adalah ketika Allah rida. Namun hari ini, kondisi yang mencemaskan para ibunda adalah dunia mencengkeram anak muda dengan program-program yang menjauhkannya dari syariat. Belum lagi tuntutan dari berbagai sisi, semisal tuntutan menjadi sukses sebagaimana standar media sosial.”
Ia melanjutkan, Allah Swt. menciptakan kita tidak sia-sia. “Allah Swt. memberikan tugas dan tanggung jawab pada kita semua. Generasi muda tidak boleh stuck pada problem semisal mental illness. Kegelapan pasti akan berlalu jika Gen Z yang berjumlah 25 juta orang saat ini turut berperan dengan berjuang mengembalikan agama Allah, yaitu dengan penegakan Khilafah,” ujarnya penuh semangat.
Ia menuturkan tiga hal yang harus dilakukan generasi muda. “Pertama, mulailah memahami Islam kafah dengan mengkajinya secara rutin. Kedua, anak muda membutuhkan circle agar tidak insecure ketika menjalankan syariat Allah dan bisa tetap berada dalam ketaatan. Ketiga, dengan belajar ngomong untuk menyampaikan Islam yang sudah dipahaminya,” bebernya.
Ketaatan
Makna bahagia juga disampaikan oleh Winda, salah seorang aktivis organisasi kepemudaan di Jabar. “Makna bahagia itu saat kita mendapatkan ketenangan hati dan berada dalam ketaatan karena ketaatan ini yang akan menghantarkan untuk mendapat rida Allah. Caranya, dengan mengkaji Islam kafah dan bergabung dengan jemaah dakwah untuk menyampaikan Islam.” tuturnya.
Aktivis muslimah dari komunitas Back to Muslim Identity (BMI), Barkah, turut menyampaikan bahwa pembahasan bahagia ini tidak pernah selesai. “Bahasan bahagia itu enggak kelar-kelar karena banyak yang mencari kebahagiaannya sendiri. Kita harus sadar karena kita hidup dalam sistem kapitalisme yang sedari kecil sudah dibiasakan untuk mengejar materi atau fisik,” urainya.
Padahal, lanjutnya, bahagia hakiki itu bukan bersifat fisik yang bisa membuat kebanyakan orang stres. “Agama Islam pun sudah mengajarkan tentang makna bahagia, yaitu mendapat rida Allah dan acara ini bagus banget untuk membuka pemikiran kita kalau bahagia itu enggak diukur dari materi, tetapi mengambil Islam sebagai jalan hidup sehingga Allah rida dengan kita,” ujarnya.
Selanjutnya, Ghaida Latifah, aktivis muslimah dari salah satu organisasi Islam di Bandung memberikan pandangannya. “Saya terbangunkan (tersadar) dengan sabda Rasulullah saw. yang menyatakan kita akan mengalami lima fase. Saat ini kita ada di fase keempat, yakni mulkan jabariyan (kepemimpinan diktator), dan satu fase lagi menuju Khilafah,” jelasnya.
Jadi, ia menyampaikan, kita harus menyambutnya dengan mencerdaskan masyarakat dan orang-orang sekitar kita. “Menyambut Khilafah itu bergandengan, enggak sendiri-sendiri. Maka, muncul rasa bangga ketika menjadi aktivis yang menyampaikan Islam untuk mendapat rida Allah. Bahagia itu bukan dari materi, tetapi fokus mengejar rida Allah,” imbuhnya.
Sharing Session
Berikutnya, dilaksanakan sharing session bersama Koordinator BMI Jabar Nurhamidah dan aktivis muslimah Rizka dari Moslem Youth Identity.
Nurhamidah menjelaskan bahwa sa’adah (kebahagiaan) merupakan lawan dari syaqawah (kesengsaraan), yaitu memperoleh nikmat dan meraih keberuntungan dalam kebaikan. “Dalam Al-Qur’an, bahagia itu adalah orang-orang yang mendapat Surganya Allah. Imam Ghazali menyampaikan kebahagiaan sejati manusia adalah ketika ia dekat dan diridai oleh Allah. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani juga menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta atau kedudukan, tetapi pada keridaan Allah terhadap hamba-Nya dan keteguhan hamba tersebut di atas syariat Allah,” paparnya.
Ia menambahkan, hari ini kita berada dalam sistem sekuler kapitalisme yang mendorong kita untuk tidak taat, misalnya jadwal kerja padat yang akhirnya sulit untuk menunaikan salat, Bandung menjadi kota yang tinggi tingkat Lg8T dan HIV AIDS-nya serta berbagai maksiat lainnya.
“Urusan dunia hari ini rusak karena penerapan sistem kapitalisme, bahkan urusan ibadah pun dikorupsi. Maka, perlu peran Gen Z untuk berdakwah mengubah kondisi yang ada dengan penerapan Islam secara kafah dan menegakkan Khilafah karena setiap langkah dakwah ini menuju rida Allah. Dakwah adalah sumber kebahagiaan yang dimiliki mukmin,” tandasnya penuh semangat.
Pada pemaparan selanjutnya, Rizka membeberkan berbagai program sebagai aksi riil aktrivis muslimah untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu weekly circle, heart reminder, dan quotes kafah. “Semua program itu merupakan wadah bagi aktivis muslimah untuk memahami Islam kafah secara utuh kemudian menyampaikan kepada komunitas dan jejaringnya,” urainya.
Program-program tersebut, lanjutnya, sebagai support system untuk mendapat rida Allah Swt. dan kebahagiaan hakiki.
Di akhir acara, panitia menyampaikan, peserta yang hadir berkumpul membentuk lingkaran besar dan berbagi tentang makna kebahagiaan sebagai bentuk keseriusan dan kesungguhan untuk mengerahkan potensi demi Islam. [MNews/Kontributor daerah: RHS/Jabar]

Bahagia itu sederhana. Menjadi hamba Allah saja. Titik tanpa koma.
Sepakat apa kata ustadzah Iffah Ainur Rochmah bahwasanya bahagia itu adalah ketika Allah ridho
Masyaallah.. ketika kita bisa memaknai kebahagiaan dengan benar. Hidup kita takkan terbawa arus buruknya sistem hari ini