Muslimah News, FOKUS — Gelombang unjuk rasa besar-besaran terjadi di sejumlah negara dari tiga benua dalam beberapa waktu terakhir. Ribuan warga turun ke jalan menuntut perubahan atas kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat.
Unjuk rasa dilakukan untuk menyoroti isu ekonomi, politik, hak asasi manusia, ketidakpuasan terhadap pemerintah, hingga solidaritas terhadap Gaza. Situasi ini menunjukkan gejolak sosial dan tekanan terhadap elite politik yang dinilai gagal dalam memenuhi kebutuhan rakyat, memberikan keadilan hukum, memberantas korupsi, serta mengangkat harkat dan martabat manusia. Negara yang melakukan unjuk rasa besar-besaran pada pemerintah adalah Indonesia, Nepal, Australia, Prancis, Turki, Timor Leste, Filipina, dan Inggris.
Dunia Kebingungan
Sejatinya bukan hanya delapan negara yang merasakan gejolak politik. Paradoks dirasakan oleh hampir semua manusia di dunia di bawah sistem yang eksis hari ini. Sistem saat ini menjanjikan kesejahteraan, tetapi yang terjadi penderitaan; menjanjikan pemerataan, tetapi yang terjadi ketimpangan; menjanjikan kesamaan hak, tetapi yang terjadi justru diskriminasi dan persekusi; menjanjikan perdamaian, tetapi yang terjadi peperangan; dan menjanjikan ketenteraman, tetapi yang terjadi kerawanan sosial.
Dunia hari ini tengah kebingungan. Resep yang ditawarkan sebagai solusi ternyata racun mematikan yang menimbulkan banyak persoalan. Modernitas yang mereka agungkan hanya menghasilkan kematian, kelaparan, dan peperangan. Hanya pada zaman modern ini ratusan juta manusia di dunia menjadi sulit mengakses pangan. Kebebasan yang mereka agungkan telah menjatuhkan martabat manusia menjadi lebih rendah daripada hewan. Semua resep yang ditawarkan seperti demokrasi, HAM, dan emansipasi tidak terbukti membawa kebaikan.
Instabilitas dunia hari ini tidak lepas dari penerapan ideologi kapitalisme di bawah kepemimpinan Amerika Serikat (AS). Sejak keruntuhan Uni Soviet, AS muncul sebagai kekuatan tunggal yang merajai dunia. AS dengan ideologi kapitalismenya senantiasa berusaha mempertahankan status quo sebagai satu-satunya negara yang mengendalikan percaturan politik global. Demokrasi dan HAM yang merupakan turunan dari konsep ideologi kapitalisme dijajakan AS ke seluruh dunia sebagai alat penjajahan.
Kegagalan Kapitalisme
Saat ini meski AS masih meraja, tetapi tidak akan sanggup berdiri lebih lama lantaran keroposnya ideologi kapitalisme demokrasi. Banyak pakar yang mengkritik betapa ideologi kapitalisme demokrasi merupakan ideologi gagal, bahkan cacat sejak lahir.
Kegagalan kapitalisme global bagi peradaban manusia disebabkan, pertama, penerapan sistem ekonomi kapitalisme melahirkan ketimpangan ekonomi masyarakat.Lembaga riset Oxfam pada 2022 melaporkan, 1% orang terkaya di dunia memiliki lebih dari dua kali lipat kekayaan yang dimiliki oleh 99% sisanya. Data dari World Inequality Database juga menunjukkan bahwa 50% penduduk termiskin hanya menerima sekitar 8% dari total pendapatan global. Sementara itu, 10% orang terkaya mengambil hampir 52%. Angka-angka ini menyoroti disparitas yang signifikan dan makin melebar antara kelompok masyarakat yang kaya dan miskin.
Penerapan ekonomi kapitalisme juga melanggengkan eksploitasi negara maju atas negara miskin. Prof. Noreena Herzt (2005) dalam bukunya The Silent Take Over menyatakan bahwa hegemoni kapitalisme global telah merampas independensi suatu negara secara politik dan ekonomi. Hegemoni kapitalisme makin menguat pada era demokratisasi.
Isu-isu demokratisasi yang dikampanyekan oleh sejumlah negara yang menganut kapitalisme sesungguhnya hanyalah instrumen akal bulus untuk menyandera suatu negara. Ini karena yang ada dalam benak negara-negara kapitalis adalah bagaimana bisa menguasai suatu negara dan kemudian bebas mengambil sumber daya alamnya serta menjadikannya sebagai pasar bagi produk-produknya. Utang ribawi adalah jebakan yang sempurna untuk menguasai sebuah negara. Bahkan jika diperlukan, negara kapitalis akan memberikan pinjaman utang sampai negara debitur tidak lagi mampu membayar utang-utangnya.
Kedua, sekularisme liberal menyebabkan kerusakan sosial. Pasalnya, ukuran kebahagiaan dalam sistem kapitalisme bersifat materialistik sehingga unsur-unsur spiritualitas sosial dalam kehidupan publik diabaikan. Hal ini mengakibatkan penyakit-penyakit sosial makin marak. Kejahatan pun merajalela dan terus berulang tanpa solusi fundamental. Keberadaan agama hanya menjadi pengisi dahaga spiritualitas personal belaka.
Kapitalisme tidak mengenal persaudaraan, tolong-menolong, cinta, kemurahan, dan amanah. Semuanya berganti menjadi mementingkan diri sendiri, tidak berperasaan, kebencian, kebohongan, dan saling tidak percaya. Itulah mengapa AS sebagai jantung kapitalisme dunia menjadi tempat yang paling tidak menghargai kehormatan dan nyawa manusia. Terhadap genosida Gaza yang dilakukan Zion*s Yahudi, AS dan negara-negara Barat lainnya alih-alih bersimpati, justru mendukung Zion*s dengan memfasilitasi persenjataan dan finansial. Rasa kemanusiaan telah hilang di hati para pemimpin itu.
Ketiga, politik kapitalisme dengan sistem demokrasinya telah melahirkan kerusakan. Demokratisasi menjadi agenda kapitalisme Barat untuk bisa diterapkan oleh negara-negara di seantero dunia. Dalam buku The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, Samuel Huntington menjelaskan bagaimana proses pendemokrasian negara-negara dilakukan.
Padahal, demokrasi merupakan sistem bobrok. Laporan utama The Guardian pada 6 Juni 2012 dengan judul British Democracy in Terminal Decline mengungkapkan fakta yang menggemparkan dunia bahwa era demokrasi bakal segera berakhir.
Ada tiga indikator yang memperkuat fenomena tersebut. Pertama, makin hegemoniknya pengaruh korporasi dalam proses pengambilan keputusan publik, baik di lingkungan eksekutif maupun legislatif. Kedua, makin banyaknya politisi yang memperkaya diri dan hanya mementingkan kelompoknya. Ketiga, makin menurunnya partisipasi masyarakat dalam pemilu sebagai wujud kekecewaan mereka terhadap demokrasi. Walaupun tulisan tersebut berbicara tentang Inggris, fakta demokrasi seperti itu sejatinya tidak hanya terjadi di Inggris, tetapi hampir di seluruh dunia.
Standar ganda dipertontonkan dalam penerapan sistem demokrasi. Bagaimana bisa kemenangan demokratis yang diperoleh FIS (salah satu partai peserta pemilu) di Aljazair pada 1992 dibatalkan karena ada anggapan dari Barat bahwa ada tantangan serius terhadap ideologi yang diusung FIS. Hal ini berulang pada Mesir. Kudeta Jenderal Abdel Fatah as-Sisi tahun 2013 terhadap presiden Mursi yang terpilih secara demokratis justru didukung oleh Barat, bahkan diperkuat posisinya hingga kini.
Kritik terhadap demokrasi juga terkait dengan keberpihakan sistem ini kepada para pemilik modal. Hegemoni kepentingan para pemilik modal melalui mekanisme demokrasi inilah yang telah menyuburkan politik uang, suap, kolusi, dan korupsi.
Dunia Penuh Rahmat dengan Islam
Fakta di atas menjadi bukti bahwa kapitalisme gagal memimpin dunia yang mengangkat martabat manusia. Dalam perjalanan sejarah, tidak ada ideologi yang mampu mengangkat martabat manusia serta menebarkan keadilan dan kesejahteraan, selain ideologi Islam.
Hal itu karena secara i’tiqadi diutusnya Rasulullah saw. memang untuk menebar rahmat di muka bumi. Ini sebagaimana firman Allah Swt.
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 107).
Untuk mewujudkan rahmat itu, selama 13 tahun dakwah Rasulullah saw. di Makkah bertujuan menegakkan negara (daulah) yang akan menerapkan syariat Islam kafah. Pada 622 Masehi Rasulullah hijrah ke Madinah dan berhasil membangun daulah Islam. Dengan daulah Islam, visi Nabi memimpin dunia dengan Islam terwujud sehingga rahmat menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Keberhasilan Islam memimpin dunia untuk menebar rahmat diakui oleh sejarawan Barat, salah satunya Will Durant. Dalam buku The Story of Civilization ia menjelaskan tentang keberhasilan Islam menjamin keamanan dunia. Ia mengatakan, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah, dan seni mengalami kejayaan luar biasa sehingga menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”
Dalam menyatukan umat manusia, ia memaparkan, “Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir, bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka sehingga meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka.”
Dalam menciptakan kemajuan ekonomi, ia bertutur, “Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12.045.000 dinar emas. Diduga kuat bahwa jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri Masehi Latin jika digabungkan. Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu pengaruh dari pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri, dan pesatnya aktivitas perdagangan.”
Dalam menjamin kesehatan masyarakat, ia menegaskan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 yang telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”
Bahkan, mantan Presiden AS Barack Obama saat berpidato pada 4 Juni 2009 mengatakan, ”Peradaban berutang besar pada Islam. Islamlah—di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali (renaisans) dan era Pencerahan di Eropa.”(The New York Times, 4-6-2909). Demikianlah, Islam telah terbukti mampu memimpin dunia dengan adil dan sejahtera.
Peran Sentral Khilafah
Semua pencapaian kemajuan peradaan Islam itu tidak lepas dari peran sentral Daulah Khilafah meneruskan Daulah Islam yang diwariskan Rasulullah saw. Kecemerlangan sejarah itu terjadi ketika umat Islam menerapkan sistem negara Khilafah yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar ideologi dan syariat Islam sebagai hukum yang mengatur segenap aspek kehidupan manusia. Ketiga hal ini (akidah, syariat Islam, dan Khilafah) adalah perkara yang paling menentukan kemunculan peradaban Islam yang agung.
Oleh karena itu, siapa pun yang mengkaji ajaran dan sejarah Islam dengan saksama dan ikhlas akan mengakui bahwa Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Para ulama salaf telah banyak membahas urgensi dan kewajiban mendirikan Khilafah.
Menurut Dr. Mahmud al-Khalidi, dalam disertasinya di Universitas Al-Azhar, Mesir menjelaskan, “Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan syariat dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.” (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226).
Dalil kewajiban menegakkan Khilafah sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, tercantum dalam Al-Qur’an, Sunah, dan ijmak sahabat. Salah satunya adalah firman Allah Swt., “Terapkanlah hukum di tengah mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS Al-Maidah [5]: 49).
Syekh Abdullah bin Umar bin Sulaiman ad-Dumaji dalam kitabnya menjelaskan bahwa seruan ini ditujukan kepada Rasulullah saw. dan umatnya untuk bersegera menerapkan hukum-hukum Allah Swt. Perintah ini bukan semata menegakkan pemerintahan dan kekuasaan, melainkan menegakkan imamah (Khilafah). Pasalnya, tidak mungkin menerapkan hukum-hukum Allah Swt. dengan sempurna kecuali dengan metode imamah/Khilafah. Oleh karena itu, semua ayat yang memerintahkan umat menerapkan hukum Allah Swt. menunjukkan kewajiban untuk mengangkat imam/Khalifah yang akan mengurusi hal tersebut. (Al-Imâmah al-’Uzhma ‘inda Ahlus Sunnah, hlm. 48).
Berdasarkan hal ini, para ulama telah bersepakat bahwa wajib atas kaum muslim untuk mendirikan kekhalifahan Islam. Imam Al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir QS Al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat, serta melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264—265).
Ulama lain dari mazhab Syafii, Imam Al-Mawardi, juga menyatakan, “Menegakkan imamah (Khilafah) di tengah umat merupakan kewajiban yang didasarkan pada ijmak sahabat.” (Al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5).
Ulama Tanah Air, K.H.Sulaiman Rasjid (w. 1395 H) dalam karyanya yang terkenal, Fiqih Islam, menulis, “Kaum muslim (ijmak yang muktabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan Khilafah itu adalah fardu kifayah atas semua kaum muslim.” (Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, Cet. 76, Bandung: Sinar Baru Algensindo hlm. 495).
Mengubah Dunia
Kapitalisme telah gagal, dunia membutuhkan tatanan baru yang hanya bisa disediakan oleh Islam dan hanya dapat dilakukan oleh sebuah negara Islam, yaitu Khilafah. Namun, negara Islam yang diwariskan oleh Rasulullah saw. telah runtuh sejak 1924. Sejak saat itu tatanan dunia digantikan dengan tatanan kapitalisme yang rusak.
Oleh karena itu, umat Islam harus berusaha dengan segenap kemampuannya untuk memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah. Terlebih, banyak kaum muslim setelah mendengar dakwah yang mereka ikuti, keimanan dan kesadaran mereka tersentuh. Dengan dasar Al-Qur’an dan Sunah serta kaul (perkataan) ulama, juga argumen historis dan empiris, penjelasan itu terasa demikian kukuh sehingga membuat orang yang ikhlas tidak ada tempat mengelak untuk tidak turut berjuang menegakkan Khilafah.
Meski demikian, masih banyak umat yang belum paham, salah paham, atau pahamnya salah terhadap Khilafah. Oleh karena itu, penting untuk memahamkan atau meluruskan pemahaman mereka secara terus-menerus. Diperlukan kerja keras, cerdas, dan ikhlas untuk menjelaskan ide ini kepada umat. Dengan demikian, banyak umat yang akan terpahamkan.
Memang, akan selalu ada ancaman, tantangan, hambatan, dan rintangan dalam dakwah. Itu sunatullah. Teruslah melangkah, masa depan Islam gemilang menanti, menggantikan kapitalisme yang hampir mati.
Demikianlah, janji Allah dan Rasul-Nya pasti terjadi, sebagaimana sabda Nabi, ”Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar). [MNews/IA-RR]

Aamiin ,semoga khilafah segera tegak
Alhamdulillah