[Kabar] Intelektual Muslimah Bandung: Persoalan Gaza Adalah Persoalan Politik dan Penjajahan

[Kabar] Intelektual Muslimah Bandung: Persoalan Gaza Adalah Persoalan Politik dan Penjajahan

Muslimah News, LENSA DAERAH — Persoalan di Gaza adalah persoalan politik dan penjajahan yang sudah berlangsung lebih dari satu abad. Kondisi tersebut disorot puluhan intelektual muslimah Bandung dalam acara Intellectual Movement for Gaza: “Pelaparan Sistemis di Gaza, di Mana Iman Kita?” pada Sabtu (23-8-2025) di Jawa Barat.

Ustazah Ummu Aiman selaku keynote speaker menyampaikan bahwa Gaza terus bergejolak dan yang hadir dalam acara ini mengharapkan Gaza bebas. “Namun, apakah kita mencukupkan dengan perjanjian, sementara tidak ada mobilisasi militer untuk menghentikan genosida di Gaza?” tanyanya lugas.

Ia mengkritisi sikap penguasa muslim yang dikendalikan negara adidaya melalui perjanjian damai untuk Palestina, juga sistem ekonomi dan politik yang berpihak kepada imperialisme Barat.

“Ini karena persoalan Palestina merupakan salah satu masalah yang menimpa umat Islam tersebab sistem sekularisme kapitalisme. Sistem ini merupakan aktor kejahatan yang mendukung penjajahan Palestina,” cetusnya.

Untuk itu, lanjutnya, sebagai muslim harus memiliki keberanian untuk membongkar kejahatan besar yang terjadi di Palestina. “Sejatinya setiap muslim tergerak untuk memperjuangkan institusi politik besar yang akan memberikan perlindungannya pada umat Islam. Tatanan politik yang bisa menghilangkan ketergantungannya pada penguasa zalim itulah sistem politik Khilafah,” tegasnya.

Pemaparan tersebut memantik Dosen PAI PTN di Bandung, Dr. Nurti Budiyanti, S.Pd., M.Pd., menyampaikan gagasannya. “Alasan kita harus menyuarakan tentang Palestina karena kiblat pertama umat Islam adalah Masjidilaqsa, Palestina lekat dengan sejarah para nabi, Isra Mikraj Nabi saw. terjadi di sana. Palestina juga merupakan tempat perjuangan para sahabat termasuk Umar bin Khaththab yang pada saat itu memimpin Palestina dengan kepemimpinan Islam, disambung Shalahuddin al-Ayubi yang menaklukan Palestina,” urainya.

Bahkan, sambungnya, kaum muslim memiliki misi luar biasa sebagai khalifah di muka bumi yang harus tunduk dan taat kepada Allah, juga sebagai pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. “Oleh karena itu, potensi yang Allah berikan pada kita adalah untuk mengajak kebaikan dan mencegah pada yang mungkar,” imbuhnya.

Bencana Kemanusiaan

Penanggap berikutnya seorang dosen PTN di Bandung, Risti Ragadhita, S.Si., M.Si. mengemukakan pandangannya tentang bantuan sosial untuk Palestina, termasuk aksi boikot umat Islam dunia. “Bencana kelaparan menjadikan Palestina bukan sekadar kritis dan krisis, tapi berada dalam bencana kemanusiaan yang paling buruk,” ungkapnya.

Hal ini, lanjutnya, diperparah oleh penguasa negeri muslim yang tidak membela Palestina. “Mesir justru ikut menutup perbatasan Raffah sehingga bantuan tidak masuk. Bantuan tidak menyentuh akar masalahnya, solusi jangka pendek saja,” ucapnya.

Bahkan, menurutnya, boikot juga tidak menyelesaikan masalah karena perekonomian Zion*s Israel tidak bertumpu pada produk yang diboikot. “Jadi, solusi tuntasnya adalah dengan mencabut akar masalahnya, yaitu penjajahan. Masalah Palestina bukan masalah kemanusiaan, melainkan penjajahan,” tegasnya.

Sesi berikutnya, aktivis dakwah Islam kafah dan Dosen Ilmu Politik UIN SGD Bandung Indira S. Rahmawaty, S.IP., M.Ag. selaku narasumber menyampaikan kondisi dunia sejak Perang Dunia I dan II yang dimainkan negara sekutu.

“Ada sekitar 40.000—50.000 pasukan di Timur Tengah, tapi tidak digerakkan ke Palestina. Ada kepentingan strategis AS di Timur Tengah, yaitu ada upaya untuk meguasai sumber daya alam energi dan ekonomisasi industri militer, mempertahankan dominasi entitas Yahudi, dan ini duri dalam tubuh umat Islam. Kemudian, menghalangi kebangkitan gerakan Islam, yaitu dengan melabelinya dengan teroris,” jelasnya.

Pelaparan di Gaza, tambahnya, bukan bencana alam, tapi kejahatan luar biasa dan bentuk genosida dari kebijakan inetrnasional yang terencana.

“Oleh karena itu, umat Islam wajib memahami dan merespons dengan solusi yang tepat, yaitu sistemis ideologis politis berdasarkan syariat kafah dengan memperjuangkan kembali tegaknya Khilafah,” tegasnya.

Potensi Umat Islam

Penjelasan ini disepakati Dr. Fitria Miftasani, M.Si., seorang peneliti di bidang reaktor nuklir, yang mengajak intelektual yang hadir untuk melihat kekuatan dan potensi umat Islam. “Dari sisi kekuatan demografis, populasi umat Islam sekitar 1,8 miliar atau seperempat dari total populasi dunia. Mayoritas populasi ini berada dalam usia produktif yang mampu membangun ekonomi dan militer. Dari aspek sumber daya alam, negara-negara muslim menguasai sekitar 70% cadangan minyak dunia dan 40% cadangan gas alam global,” paparnya.

Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, UAE, dan Libya, bebernya, mengendalikan sebagian besar cadangan minyak, sementara Qatar, Iran, dan Algeria mendominasi cadangan gas alam. “Selain energi fosil, mereka juga memiliki mineral strategis penting seperti emas di Kazakhstan dan Uzbekistan, tembaga di Iran dan Indonesia, serta deposit fosfat terbesar dunia di Maroko yang mencapai 50 miliar ton dan mengandung 6,9 juta ton uranium,” jabarnya.

Dalam konteks teknologi nuklir, lanjutnya, meskipun masih tertinggal dari negara-negara maju, beberapa negara muslim telah menunjukkan kemajuan. “Pakistan memiliki empat PLTN beroperasi dengan tiga lagi dalam pembangunan, Iran mengoperasikan satu PLTN, sementara UAE dan Turki sedang membangun fasilitas nuklir mereka. Yang menarik adalah potensi bahan bakar nuklir yang mereka miliki sangat besar. Kazakhstan memiliki cadangan uranium 941 ribu ton, terbesar kedua di dunia setelah Australia. Niger memiliki 411 ribu ton, Uzbekistan 130 ribu ton, dan Indonesia 74 ribu ton uranium plus 130 ribu ton thorium. Turki dan Mesir masing-masing memiliki sekitar 380 ribu ton dan 374 ribu ton thorium. Jika dihitung secara keseluruhan, cadangan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan energi nuklir selama kurang lebih 1900 tahun,” ungkapnya.

Selain itu, terangnya, negeri-negeri kaum muslim memiliki kontrol atas jalur perdagangan strategis dunia, seperti Selat Hormuz yang dilalui 20% minyak dunia, Terusan Suez yang menghubungkan Eropa dan Asia, serta Selat Malaka yang menjadi urat nadi perdagangan Asia-Pasifik.

“Namun, sekat-sekat nasionalisme membuat kaum muslim saat ini seolah lemah tidak berdaya dalam menghentikan genosida di Palestina,” sesalnya.

Pada sesi terakhir, pemaparan disampaikan aktivis dakwah Islam kafah sekaligus Dosen FEB Universitas Islam Bandung Asri Suangga, S.E., M.Si..

“Penguasa negara Arab tidak mampu melumpuhkan tentara Zion*s Israel yang lemah, dan terbukti solusi tambal sulam arahan Barat juga gagal. Untuk itu, solusinya adalah dengan menegakkan Khilafah,” ucapnya.

Ia menegaskan, tidak bisa sendirian melawan Zion*s Israel, jadi penting bagi intelektual muslimah menyatukan kekuatan dengan bergabung dalam dakwah jemaah, menguasai tsaqafah Islam, dan menjadikan dirinya pemikir politik (mufakkir siyasiy).

“Kemudian, memahami Islam sebagai ideology, bukan sekadar agama spiritual. Juga, memahami peta politik global dan ideologi dalam perubahan sistemik,” tandasnya. [MNews/Kontributor daerah: RHS/Jabar]

Share

One thought on “[Kabar] Intelektual Muslimah Bandung: Persoalan Gaza Adalah Persoalan Politik dan Penjajahan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *