[Editorial] Sistem Sekuler, Perusak Generasi Islam

[Editorial] Sistem Sekuler, Perusak Generasi Islam

Muslimah News, EDITORIAL — Kabar mengejutkan diungkap Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jawa Barat (Jabar). Angka Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang berasal dari kelompok anak dan remaja di Provinsi Jabar terus mengalami peningkatan. Dari 10.405 ODHA yang terekap (2024), sebanyak 107 ODHA berasal dari kelompok usia 5—14 tahun, 645 orang berusia 15—19 tahun, dan 2.164 orang berusia 20—24 tahun. Artinya, lebih dari 2.900 anak dan remaja masuk bagian dalam statistik HIV di Jawa Barat.

Lebih miris lagi, KPA Jabar menyebutkan bahwa pola penyebaran HIV-nya juga sudah berubah. Jika sebelumnya faktor penggunaan narkoba suntik menjadi penyebab utama, kini hubungan seksual bebas—termasuk maraknya perilaku seks menyimpang (elgebete)—justru menjadi tren yang paling dominan.

Dari survei yang dilakukan KPA Jabar terhadap para siswa SMA ditemukan bahwa rata-rata mereka mengaku telah melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 13—14 tahun, dan itu dilakukan dengan lebih dari satu pasangan dalam satu waktu, serta dilakukan di rumah ketika orang tuanya tidak ada. Disebutkan pula bahwa perilaku ini bukan hanya tren di pusat kota Jabar, tetapi justru marak terjadi di wilayah pinggir kota, seperti kawasan Priangan Timur dan kawasan suburban lainnya.

Puncak Gunung Es

Situasi mengerikan itu bukan hanya terjadi di Jawa Barat. Nyaris semua wilayah di Indonesia menghadapi problem yang sama. Dari tahun ke tahun, jumlah kasus HIV di Indonesia terus meningkat. Tercatat pada 2024 ada 35.415 kasus baru HIV dengan mayoritas menyerang pria (71%) dan usia produktif. Adapun estimasi total ODHA di Indonesia mencapai 570.000 kasus, menempatkan Indonesia di peringkat ke-14 dunia. Meski bisa jadi ada kasus HIV/AIDS akibat penularan dari ibu ke anak, tetapi merebaknya kasus ini tetap saja menunjukkan adanya problem serius terkait moral generasi kita.

Tampak bahwa pergaulan bebas, khususnya di kalangan remaja, sudah lumrah terjadi. Bukan hanya marak di kota-kota besar, melainkan juga di berbagai pelosok daerah, termasuk yang sering diidentikkan sebagai daerah islami. Di Aceh misalnya, jumlah kasus HIV/AIDS terus merangkak. Sejak 2004—2024, jumlah pengidap HIV/AIDS di sana tercatat lebih dari 1.735 kasus. Ditemukan pula bahwa maraknya HIV/AIDS di Serambi Makkah ini ternyata berkelindan dengan merebaknya perilaku seks menyimpang dan pergaulan bebas remaja.

Fenomena ini tentu sangat menyedihkan mengingat kasus-kasus ini hanyalah merupakan puncak gunung es. Terlebih problem kerusakan moral remaja di negeri ini bukan hanya soal maraknya pergaulan bebas dan penyimpangan seksual yang berujung meningkatnya kasus HIV/AIDS dan pernikahan dini. Tidak terhitung kasus lain yang juga menggambarkan potret buram generasi, seperti maraknya kasus narkoba, tawuran yang berakhir pembunuhan, kekerasan seksual termasuk kekerasan dalam pacaran, inses, judi online, pornografi-pornoaksi, hingga berbagai tindak kriminalitas, yang dari tahun ke tahun datanya terus meningkat dan kian mengerikan, seperti anak membunuh orang tua, dll.

Itu semua belum termasuk fenomena kian melemahnya kesehatan mental remaja yang semestinya menjadi perhatian kita semua. Merujuk data dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2024, tercatat sekitar 15,5 juta remaja atau setara dengan 34,9% total populasi remaja di Indonesia atau satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Meningkatnya kasus bunuh diri, krisis jati diri, dan sejenisnya—termasuk di kalangan remaja dan mahasiswa—menunjukkan tingkat keparahan kesehatan mental generasi muda Indonesia saat ini. Mereka tampil sebagai generasi rapuh yang cenderung mudah menyerah, alias tidak memiliki ketahanan ideologis dalam menghadapi problem kehidupan, sekalipun itu bukan persoalan yang berat.

Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan adanya lonjakan kasus bunuh diri di Indonesia. Sejak 2013—2024, tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri. Lebih dari 46% kasus tersebut melibatkan remaja. Senada, Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim Polri) menyebut kasus bunuh diri di Indonesia meningkat 60% pada lima tahun terakhir. Sepanjang Januari—Oktober 2024 saja, angka kasus bunuh diri telah menyentuh angka 1.023 kasus. (Goodstat, Oktober 2024).

Semua fenomena di atas jelas menunjukkan ada problem besar yang sedang dihadapi bangsa ini. Problem ini tentu tidak saling berdiri sendiri melainkan sudah menjadi problem sistemis yang solusinya juga harus sistemis, dan tentu saja harus segera diatasi. Bukankah akan sulit bagi bangsa ini untuk bisa meraih visi Indonesia Emas 2045 yang terus pemerintah gaung-gaungkan, sedangkan kondisi generasi mudanya sudah sebobrok ini? Bukankah kita tidak bisa berharap negeri ini mampu tegak berdiri sebagai negara berdaulat dan mandiri, sedangkan calon-calon pemimpinnya serapuh ini?

Dampak Penerapan Sistem Sekuler

Tidak dimungkiri bahwa pangkal dari semua ini adalah karena diterapkannya sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal dalam berbagai aspek kehidupan. Sistem yang mendewakan kebebasan dan menjadikan kebahagiaan berdasarkan capaian materi ini terbukti telah melahirkan individu-individu yang ketakwaannya lemah, masyarakat yang jauh dari nilai-nilai kebaikan, asing dengan tradisi amar makruf nahi mungkar; serta negara yang abai terhadap tupoksinya sebagai pengurus dan penjaga umat, baik dalam urusan dunia, apalagi urusan akhirat rakyat.

Hal itu tersebab sekularisme yang melandasinya yang memang menolak kehadiran agama sebagai tuntunan kehidupan. Akibatnya, lahirlah berbagai aturan kehidupan yang serba rusak dan merusak. Alih-alih mampu menyolusi berbagai problem kehidupan manusia, aturan-aturan tersebut justru terus memproduksi masalah baru yang tidak pernah mampu diselesaikan. Penerapan sistem politik ekonomi kapitalisme, misalnya, telah melahirkan gap sosial yang sedemikian lebar. Si kaya makin kaya, si miskin makin miskin. Kekayaan hanya beredar pada sebagian kecil orang, sedangkan kemiskinan menimpa mayoritas rakyatnya dan membuat rapuh pertahanan keluarga-keluarga muslim.

Di tengah terasingnya peran agama dan moral dalam kehidupan, memungkinkan bagi masyarakat, termasuk generasi yang lemah iman, terlibat dalam berbagai transaksi haram yang dilegalkan oleh pemegang kekuasaan. Begitu pun dengan sistem pergaulan. Negara penganut sekularisme menolak campur negara dalam urusan moral masyarakat yang dianggap privat. Alih-alih berupaya menguatkan profil generasi hingga punya ketahanan ideologis dengan menancapkan akidah Islam dan menerapkan hukum-hukumnya, negara malah berupaya keras menjauhkan generasi dari sumber kekuatan Islam yang hakiki dan meracuni mereka dengan proyek moderasi dan menakut-nakuti mereka dengan narasi radikalisasi.

Semua itu memang sejalan dengan prinsip kebebasan yang inheren dengan paham sekuler liberal dan dalam praktiknya wajib diberi ruang besar oleh negara karena dianggap sebagai bagian hak asasi manusia. Alhasil, pergaulan masyarakat berjalan tanpa batasan. Spirit kerja sama membangun peradaban hilang tertutup dorongan hawa nafsu yang dilegalkan. Wajar jika merebak berbagai problem dekadensi moral yang potretnya sudah digambarkan.

Ndilalah-nya, semua kondisi buruk tersebut diperkuat dengan penerapan sistem-sistem lainnya, seperti sistem politik demokrasi yang oportunistis yang membuat negara mudah dikangkangi kepentingan asing dan kekuatan uang. Juga sistem pendidikan sekularistik yang memaksa lembaga pendidikan hanya fokus melayani kepentingan industri, seperti mencetak mesin tenaga kerja yang minus dari ketinggian akhlak dan moral, serta sistem hukum yang mandul dalam mengatasi berbagai pelanggaran di tengah masyarakat, termasuk merebaknya kriminalitas remaja.

Yang tidak kalah berbahaya adalah keberadaan sistem informasi dan kemediamassaan berparadigma sekuler yang justru aktif merusak kepribadian Islam para anggota masyarakatnya, sekaligus berhasil menjebol pertahanan keluarga dan masyarakatnya sebagai benteng terakhir bagi umat. Media informasi juga jelas-jelas telah gagal menguatkan performa “negara Islam sebagai perisai umat” karena fungsi media kini tidak lebih sebagai alat propaganda pemikiran dan budaya asing yang bertentangan dengan aturan-aturan Islam. Propaganda ini masif dilancarkan demi melemahkan mental dan ketakwaan umat Islam (ghazwu al-fikr) hingga hegemoni sistem kapitalisme global sebagai wujud lain penjajahan Barat atas dunia Islam bisa terus dipertahankan.

Sistem Islam, Pencetak Generasi Terbaik

Menilik sejarah peradaban Islam, tampak bahwa penerapan Islam secara kafah dalam naungan Khilafah menjadi kunci munculnya generasi terbaik yang berhasil membawa umat pada kebangkitan. Generasi Islam ini kukuh dalam ketakwaan dan ahli dalam menyolusi berbagai problem kehidupan. Wajar jika sepanjang belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai pionir peradaban. Fakta ini diakui banyak sejarawan yang jujur dalam hal keilmuan. Ajaran Islam memang memiliki perhatian besar terhadap masalah generasi. Negara yang menerapkannya juga memiliki visi penyelamatan generasi.

Itu semua tampak dari berbagai hukum yang jika kafah diterapkan akan mampu tampil sebagai lapis-lapis perlindungan yang menjamin lahirnya generasi pemimpin arsitek peradaban cemerlang. Lapis pertama berupa benteng ketakwaan yang inheren ada pada dirinya. Lapis kedua berupa keluarga yang struktur dan fungsinya kokoh. Lapis ketiga berupa masyarakat yang memberi lingkungan kondusif. Lalu lapis terakhir berupa keberadaan negara sebagai support system bagi lapis-lapis lainnya.

Dalam Islam, negara bahkan merupakan support system terbaik bagi tampilnya generasi terbaik pelopor kebangkitan, yakni dengan jalan menerapkan seluruh hukum Islam. Hal ini dikarenakan hukum Islam sejatinya diturunkan oleh Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna sebagai jalan kebahagiaan. Bukan hanya di dunia yang fana, tetapi hingga di alam keabadian.

Hukum-hukum Islam memang datang sebagai solusi seluruh problem kehidupan yang jika diterapkan akan mampu menjaga fitrah kebaikan yang ada pada manusia dari zaman ke zaman. Akal, naluri, jiwa, harta, dan kehormatan, semua dijaga oleh aturan-aturan Islam. Begitu pun semua qimah (nilai) perbuatan yang manusia inginkan, dijamin bisa mewujud selaras dengan penerapan seluruh aturan-aturan Islam.

Hanya saja, penerapan seluruh aturan Islam ini hanya mungkin dilakukan oleh negara yang berparadigma Islam atau tegak di atas akidah Islam, bukan negara sekuler yang justru alergi dengan ajaran Islam. Alhasil, sudah saatnya umat berjuang agar di tengah kerusakan ini segera tegak sistem Islam yang akan memfungsikan diri sebagai pengurus dan penjaga umat. Itulah sistem Khilafah yang kedatangannya di akhir zaman sudah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya, tetapi diperintahkan untuk diperjuangkan.

Untuk menapakinya, tentu butuh keseriusan dan kesabaran, serta butuh sinergi kuat dari berbagai komponen umat karena musuh tentu tidak akan pernah rela kekuasaan yang ada di genggamannya terlepas begitu saja. Mereka akan mengerahkan segala daya, termasuk melibatkan para anteknya untuk menghalangi perjuangan penegakkan Khilafah.

Sungguh, ujung perjuangan ini adalah kemenangan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ  “Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Baihaqi, Abu Dawud, dll.)

Saat bisyarah itu terwujud, generasi Islam akan meraih predikat yang telah Allah sematkan, yakni menjadi sebaik-baik umat yang dilahirkan di antara manusia, sebagai pemimpin peradaban cemerlang. Wallahualam. [MNews/SNA]

Share

4 thoughts on “[Editorial] Sistem Sekuler, Perusak Generasi Islam”

  1. Maa syaa Allah, Sistem Islam adalah satu-satunya solusi dalam berbagai permasalahan dalam kehidupan.

  2. Sungguh, ujung perjuangan ini adalah kemenangan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ “Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Baihaqi, Abu Dawud, dll.)

    Saat bisyarah itu terwujud, generasi Islam akan meraih predikat yang telah Allah sematkan, yakni menjadi sebaik-baik umat yang dilahirkan di antara manusia, sebagai pemimpin peradaban cemerlang. Wallahualam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *