Muslimah News, NASIONAL — Di hadapan ribuan peserta daring dan ratusan peserta luring dari berbagai kalangan, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan penyebab perubahan yang didengungkan saat ini tidak kunjung berhasil.
“Satu hal yang sangat menonjol adalah bahwa perubahan yang digagas itu sering kali bersifat kosmetik, bukan sistemis,” ungkapnya di acara Dialog Muharam dengan tajuk, ”Hijrah: Merajut Ukhuah, Merangkai Peradaban Islam Kafah”, Sabtu (28-6-2025).
Ia melanjutkan, perubahan itu hanya pada tataran individu atau moralitas parsial, sementara sistem yang ada, baik sistem sosial, sistem politik, maupun sistem ekonomi yang ada tetaplah mewarisi dari sistem kolonial dan hegemoni global hari ini.
”Ada beberapa masalah utama dalam catatan saya. Pertama, kita sering kehilangan arah dan visi perubahan. Banyak yang ingin berubah, tetapi tidak tahu atau tidak cukup jelas akan dibawa ke mana perubahan itu dan dengan dasar apa kita berubah. Seharusnya sebagai seorang muslim arah perubahan ya ke arah Islam dengan dasar Islam,” bebernya.
Kedua, sebutnya, menjadikan sistem demokrasi sekuler yang sangat rusak dan merusak menjadi kerangka utama perubahan, padahal bukan sistem yang lahir dari Islam.
“Ketiga, ketakutan terhadap Islam kafah. Apalagi sepanjang 5—10 tahun terakhir di masa rezim kemarin banyak individu dan kelompok yang merasa risih ketika Islam dibawa ke arah publik dan negara. Bahkan disebut sebagai pikiran radikal yang dicitrakan akan membawa kepada keterbelakangan, kekerasan, konflik, diskriminasi,” sesalnya.
Keempat, ia menjelaskan, ketiadaan kepemimpinan umat. Menurutnya, sejak runtuhnya Khilafah pada 1924 umat Islam tidak lagi memiliki institusi politik, juga tidak mendapatkan tokoh yang bisa menggerakkan ke arah Islam.
Langkah Konkret
UIY lalu menjelaskan langkah konkret yang seharusnya dilakukan umat Islam. “Kita mesti memahami betul bahwa ketika kita berbicara tentang hijrah, hijrah itu bukan tentang orang per orang,” ungkapnya.
Meski Rasulullah saw. menyampaikan ibda’ bi nafsi, ucapnya, tetapi hijrah harus dipahami sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat berpindah dari tatanan yang penuh dengan kemaksiatan (sistem jahiliah) kepada sistem Islam.
“Oleh karena itu, langkah-langkah yang harus ditempuh, pertama, setiap individu wajib meningkatkan pemahaman terhadap tsaqafah Islam (pengetahuan yang dasar pembahasannya akidah Islam),” jelasnya.
Peningkatan tsaqafah Islam itu, lanjutnya, tidak sebatas fikih ibadah, tetapi fikih politik, fikih ekonomi, fikih sanksi (uqubat), sistem sosial, dan lain-lain agar tergambar ke mana arah perubahan yang dituju.
“Kedua, harus terjadi hijrah pemikiran, meninggalkan cara berpikir yang sekularistik, liberal, individualistis, menggantinya dengan cara berpikir yang islami, yang integral, berbasis pemahaman kita terhadap tsaqafah Islam,” terangnya.
Ketiga, jelas UIY, pemikiran itu harus didakwahkan karena kebangkitan umat adalah kebangkitan pemikiran, kenaikan taraf berfikir.
”Hanya orang yang paham Islam yang akan bangkit dengan Islamnya itu. Dari mana ia bangkit, ia paham? Dipahamkan oleh yang lebih dulu paham. Oleh karena itu, yang sudah paham tidak boleh diam, harus menyebarkan terus, tidak boleh takut kalau dikatakan omong doang. Kita selama ini hanya omong doang, tetapi kenapa dihentikan? Itu menunjukkan bahwa ini bukan sembarang omong, tetapi omong yang menggerakkan, yang menggugah, yang menyadarkan,” bebernya.
Membentuk Komunitas
UIY menegaskan, langkah di atas adalah langkah individu, sedangkan secara komunitas wajib membentuk komunitas dakwah ideologis, yaitu komunitas yang tidak sekadar berbagi kebaikan, tetapi juga memperjuangkan tegaknya Islam sebagai solusi sistemia.
”Ada banyak kegiatan sosial yang dilakukan oleh komunitas ini itu, bagus. Akan tetapi, fungsinya tidak boleh berhenti sampai di sosial sebab kalau berhenti di situ, tidak akan menggerakkan perubahan apa-apa,” tegasnya.
Di samping itu, terang UIY, harus ada upaya dari komunitas untuk mengadvokasi pemikiran Islam, melawan opini global yang memojokkan Islam, dan menyuarakan kembali ide-ide besar peradaban Islam. ”Ini yang disebut perang pemikiran (gazwul fikri) dan itu besar sekali pengaruhnya sekaligus juga besar korbannya,” tukasnya.
Langkah selanjutnya, kata UIY, terus membangun solidaritas umat lintas bangsa, lintas mazhab, dan tetap waspada terhadap politik adu domba antar mazhab. [MNews/IA]

Maa syaa Allah, sepakat,
Semoga kaum muslimin tersadarkan akan pemahaman yg sama dg Islam yg sesungguhnya