Penulis: Abdullah
Sambungan dari Bagian 1/3
Muslimah News, TELAAH KITAB — Kebutuhan/Ketergantungan
Manusia membutuhkan banyak hal untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Ia memerlukan zat dalam bentuk makanan dan air agar bisa bertahan hidup. la perlu udara, khususnya oksigen, untuk bernafas setiap saat. Ia perlu hujan untuk membasahi daratan, mengairi sungai, dan menyuburkan tumbuhan agar dimakan oleh hewan, lalu hewannya dikonsumsi oleh manusia.
Manusia juga perlu sistem alam semesta ini berfungsi dalam tatanan yang ada seperti sekarang ini agar bisa memelihara kehidupannya. Akan tetapi, manusia tidak punya kendali atas pengaturan sistem itu atau pun atas eksistensinya. Ringkasnya, manusia membutuhkan dan bergantung pada sesuatu demi mempertahankan eksistensinya.
Mortalitas
Akhirnya, tidak ada manusia yang bisa menghindari kematian. Inilah fakta mortalitas manusia. Salah satu fakta definitif eksistensi manusia ialah bahwa setiap orang akan mati, hilang eksistensinya dari bentuknya yang sekarang.
Jadi, fakta-fakta definitifnya ialah manusia itu terbatas, lemah, membutuhkan yang lain, dan bersifat mortal. Membutuhkan yang lain berarti ia tidak mengendalikan eksistensinya sendiri. la justru bergantung pada sesuatu yang lain untuk memperoleh makanan demi mempertahankan eksistensinya.
Realitas menunjukkan, manusia mengetahui bahwa segala sesuatu yang bersifat terbatas, lemah, dan membutuhkan yang lain, pastinya diciptakan. Oleh karenanya, ketika melihat mobil, ia pasti tahu bahwa ada yang merakitnya. Sebabnya, ia tahu mobil itu terbatas dan lemah. Oleh karena itu, mobil tidak mampu merakit sendiri komponen-komponennya. Demikian pula, ketika manusia melihat sebuah bangunan. Ia bertanya siapa perancang, arsitek, dan pengembang yang membangun gedung itu.
Sementara itu, manusia membutuhkan sesuatu, berarti manusia itu bergantung kepada sesuatu. Siapa yang menciptakan manusia dan mengatur sistem alam semesta yang menopang kehidupannya? Siapa yang ada di balik eksistensi manusia?
Secara definitif, berdasarkan fakta-fakta dan realitas definitif, manusia rasional menyadari tentang keharusan adanya Pencipta dan Pengatur di balik eksistensinya. Akan tetapi, siapakah Sang Pencipta dan Pengatur itu?
Ketika menentukan Sang Pencipta (X), kita harus mendefinisikan dengan benar maksud Pencipta yang sesungguhnya. Pencipta (untuk sementara kita menamainya X) adalah yang menciptakan atau yang membuat sesuatu yang diciptakan atau dibuat. Realitas menunjukkan, segala sesuatu yang terbatas (dengan kata lain keberadaannya tunduk pada keterbatasan tertentu) dan lemah (tunduk pada aturan yang mengenainya tanpa punya pilihan), pasti membutuhkan yang lain (bergantung pada sesuatu yang lain demi eksistensi dan keberlangsungannya).
Jadi, kita bisa mengatakan secara definitif bahwa segala sesuatu yang terbatas dan lemah itu senantiasa membutuhkan yang lain. Ini adalah sifat-sifat dari ciptaan. Sementara itu, X tidak punya sifat-sifat seperti ini. Sang Pencipta tidak boleh bersifat terbatas, lemah, atau membutuhkan yang lain. Kalau X punya sifat-sifat itu, berarti X adalah ciptaan, padahal kita sudah nyatakan bahwa X adalah Sang Pencipta.
Oleh karena itu, kita mendefinisikan Sang Pencipta dengan sifat-sifat tertentu, sebagai lawan dari sifat-sifat ciptaan. Sifat X, Sang Pencipta, adalah tidak terbatas, tidak lemah, dan tidak membutuhkan yang lain. X bersifat absolut, Maha Kuasa, dan bersifat kekal. X sebagai Pencipta, harus ada dengan sendirinya, tanpa bergantung kepada sesuatu yang lain. Justru manusia dan seluruh jenis makhluk yang eksistensinya harus bergantung kepada X. Jadi, di manakah X ini?
Perihal Alam Semesta
Jika kita amati realitas eksternal manusia, yaitu alam semesta, lalu mengkajinya secara rasional, kita akan menemukan bahwa alam semesta juga memiliki sifat-sifat sebagai ciptaan, yaitu sifat-sifat sebagai makhluk.
Keterbatasan
Segala unsur alam semesta yang bisa kita indra memiliki batasan. Matahari berukuran sangat besar dan terlihat dominan di angkasa. Akan tetapi, ukuran, volume, bahkan durasi matahari terbatas, misalnya hanya terlihat pada siang hari. Hal yang sama berlaku juga bagi bulan.
Lautan begitu luas dan gelombangnya begitu besar, tetapi lautan juga terbatas dalam hal kedalaman, ukuran, dan volumenya. Laut terbatasi oleh daratan, sedangkan daratan sendiri terbatasi oleh lautan. Gunung berdiri kokoh, menjulang begitu tinggi, tetapi ukurannya juga terbatas.
Dengan demikian, segala sesuatu yang kita indra bersifat terbatas. Bahkan, karena pengindraan manusia bersifat terbatas, maka segala sesuatu yang kita indra juga terbatas. Kenyataan bahwa manusia dengan keterbatasan pengindraannya dapat melihat laut, daratan, gunung, bulan, planet-planet, matahari, bintang-bintang, dan lain-lain, menunjukkan bahwa semua objek itu juga bersifat terbatas. [MNews/RY-YG]
Sumber: Abdullah, Siapa yang Layak sebagai Pembuat Hukum.

One thought on “[Pembuat Hukum] Bukti Rasional Eksistensi Sang Pencipta (Bagian 2/3)”