Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Terdapat dua masalah penting dalam perkara ini. Pertama, panjang dan pendeknya jangka waktu dakwah sebelum berdirinya Daulah secara pasti adalah untuk kemenangan dakwah, baik terealisasinya menjelaskan kejujuran setelah adanya ujian atau terealisasi sebagai penyiapan suasana dan penghilangan rintangan yang besar.
Kedua, sesungguhnya peneguhan itu pasti akan terealisasi bagi orang yang layak mendapatkannya pada waktu dan tempat yang telah ditentukan oleh Allah Swt. bagi para pengemban dakwah. Sesungguhnya panjang atau pendeknya jangka waktu dalam hal tersebut tidak menunjukkan ketakistikamahan dakwah atau ketakmurnian ide-idenya.
Para sahabat Rasulullah saw., mereka adalah generasi manusia terbaik. Sekalipun demikian, mereka pernah datang kepada Rasulullah saw., lalu meminta beliau berdoa. Mereka memohon disegerakan pertolongan, peneguhan, dan pemberian kekuasaan. Kemudian Rasulullah saw. menenangkan mereka dan berkata bahwa perkara itu pasti akan terealisasi, dengan cepat atau lambat.
Beliau juga bersabda kepada mereka bahwa mereka tergesa-gesa. Mereka meminta disegerakan, padahal perkara tersebut akan direalisasikan oleh Allah Swt. pada waktu dan tempat yang baik bagi dakwah dan para pengembannya, yaitu para sahabat.
Secara pasti, para sahabat layak mendapat pertolongan pada waktu itu. Sungguh, telah terealisasi di tengah mereka syarat-syaratnya. Sebabnya, mereka adalah generasi terbaik dan hal itu dipersaksikan oleh Allah Swt. dengan keistikamahan mereka.
Akan tetapi, masalahnya berkaitan dengan sesuatu lainnya yang tersembunyi dari para sahabat. Secara riil, hal itu merupakan kebaikan bagi dakwah dan para sahabat. Sungguh, para sahabat telah meraih pahala yang besar dengan bersikap sabar. Dengan demikian, suasana dakwah pun menjadi siap.
Sebaliknya, slogan-slogan dan ide-ide dari pemikiran jahiliah telah tersungkur selama jangka waktu tersebut. Di sisi lain, jumlah kaum mukmin yang baru pun terus bertambah. Kemudian kegembiraan besar itu datang dengan datangnya pertolongan yang tidak pernah terpikirkan oleh para sahabat dan tidak pernah mereka perkirakan akan datang dengan taraf seperti itu. Madinah al-Munawwarah akhirnya menjadi tanah kekuatan dan peneguhan yang baik, serta tempat tinggal orang-orang pilihan.
Pada hari ini, lamanya waktu sejak awal dakwah adalah kebaikan bagi dakwah di segala medan. Siapa saja yang memperhatikan kemajuan yang berhasil diraih Hizb di Turki dan Asia Tengah secara khusus, ia akan melihat bahwa semua itu terwujud pada dekade terakhir ini.
Siapa saja yang memperhatikan tahun-tahun terakhir ini, ia akan bisa melihat bahwa suasana dakwah telah bersinar terang hingga dalam pandangan kaum kafir. Penyebabnya adalah telah tersungkurnya slogan-slogan para penguasa kaki tangan yang berdiri menghalangi Hizb dan ide-idenya. Juga tersungkurnya slogan-slogan kapitalisme, setelah sosialisme sebagai sebuah ideologi runtuh terlebih dahulu. Semua itu merupakan bagian dari berita gembira yang mengisyaratkan telah dekat datangnya kegembiraan atas izin Allah Taala.
Terakhir saya katakan, bahwa Hizb telah sampai di depan pintu Khilafah secara kuat, solid, lantang, dan menantang. Hal itu terjadi setelah Hizb berhasil melampaui berbagai rintangan dan goncangan besar. Saat ini, Hizb sedang menunggu izin Allah Swt., bukan dari pihak lain, untuk memasuki pintu itu dan menerima kepemimpinan mengemban amanah wahyu dari langit. Hal ini persis seperti Rasulullah saw. yang mengembannya bersama manusia-manusia terbaik di Madinah al-Munawwarah.
Sesungguhnya kondisi para pengemban dakwah saat ini persis seperti kondisi Khabab, Bilal, dan lainnya ketika mereka menemui Rasulullah saw. dan meminta beliau berdoa memohon agar Allah Swt. menyegerakan kemenangan. Oleh karenanya, kami juga memohon kepada Allah Swt. supaya menyegerakan kemenangan dalam waktu dekat, setelah para pengemban dakwah berjuang dengan baik dan ikhlas selama 55 tahun Hijriah. Kemenangan ini untuk merealisasikan janji Allah kepada kaum mukmin, yaitu para sahabat Rasulullah saw. dan orang-orang mukhlis yang datang sesudah mereka.
Hal ini sesuai janji Allah Swt. di dalam Al-Qur’an, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nûr: 55).
Sebagaimana para sahabat ridhwânullâh ‘alayhim diberi kekuasaan oleh Allah Swt., kita juga memohon kepada-Nya supaya menyinarkan cahaya Daulah, Daulah Khilafah Islamiah Rasyidah II. Kita juga memohon agar Allah Swt. menyebarkan cahaya-Nya ke seluruh muka bumi. Dengan demikian, kehidupan Islam akan berlanjut kembali, keadilan tersebar, dan rahmat-Nya merata kepada umat manusia. Semua ini sebagai hasil dari kembalinya Khilafah yang sebelumnya terputus.
Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (Hari Kiamat).” (QS Ghafir: 51).
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (QS Al-Qashash: 5—6).
“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Ali ‘Imrân: 126).
“Mereka berkata, ‘Kapan itu (akan terjadi)?’ Katakanlah, ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.'” (QS Al-Isra’: 51).
Akhir permohonan kami bahwa segala puji hanyalah bagi Allah, Rabb Semesta Alam. [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.
