Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Sesungguhnya masalah sedikit dan banyaknya sumber pemasukan dan potensi di dalam negeri Daulah Islamiah, bergantung pada tempat berdiri Daulah Islamiah dan kemampuan negara tersebut, baik yang berkaitan dengan sumber daya manusia, sumber daya materi, maupun bahan mentah.
Namun, masalahnya harus diperhitungkan berdasarkan perhitungan terburuk, khususnya bahwa Daulah Islamiah itu pada galibnya akan menghadapi embargo ekonomi dan peperangan fisik. Juga akan menghadapi upaya-upaya provokasi negara-negara yang berbatasan dengan Daulah Islamiah, seperti yang telah kami sebutkan pada pembahasan perang fisik dan embargo.
Pada galibnya, tantangan itu pada awal mulanya adalah besar. Kadang kala potensi yang ada kecil dibandingkan dengan besarnya tantangan itu. Bagaimana menyesuaikan diri dengan realitas tersebut? Bagaimana Daulah membentengi diri di hadapan tantangan yang besar itu?
Pertama, Daulah dan para pelaksananya wajib mencari segala cara, medan, dan potensi yang memungkinkan, baik di dalam maupun luar negeri. Hal itu untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam rangka melawan dan agar tetap tegar.
Kebutuhan utama adalah makanan dan minuman untuk seluruh individu rakyat Daulah. Demikian pula hal-hal yang menjadi keharusan untuk menyediakan pangan dan minuman itu, baik berupa listrik, bahan bakar, atau bahan-bahan lainnya. Masalah pengadaan energi terkait erat dengan berbagai kebutuhan pokok. Sebabnya, sebagian besar dari jenis makanan memerlukan energi. Demikian pula pengeluaran air memerlukan energi.
Kebutuhan ini sangat penting, yaitu makanan, minuman, dan sarana yang dibutuhkan untuk pengadaannya. Semua itu merupakan kebutuhan terpenting bagi kelangsungan Daulah dan ketegarannya di hadapan berbagai serangan dan upaya memalingkan manusia dari jalan Allah yang dikomandoi oleh negara-negara adidaya bersama dengan negara-negara agen mereka yang bertetangga dengan Daulah Islamiah.
Kaum kafir pada masa Rasulullah saw., sebelum dan setelah berdirinya Daulah, telah berupaya untuk menghalanginya dari kaum muslim. Hal ini dilakukan supaya kaum muslim mengumumkan penyerahan diri. Kami telah membicarakan masalah penyediaan makanan dan minuman pada waktu kami membicarakan masalah embargo.
Di antara masalah yang paling menonjol adalah penerapan politik hidup sederhana dibandingkan dengan potensi yang ada. Hal ini agar potensi yang ada cukup untuk menghadapi embargo dalam waktu yang panjang. Demikian pula penerapan politik solidaritas sosial di antara masyarakat, khususnya dalam masalah kebutuhan pokok. Ini sebagaimana yang telah diterapkan oleh Rasulullah saw. pada awal masa beliau tiba di Madinah al-Munawwarah dalam strategi persaudaraan di antara sahabat.
Juga upaya memperluas produksi pertanian atau industrialisasi bahan makanan dengan cara-cara yang memungkinkan. Selain itu, Daulah juga wajib untuk mewujudkan politik pendistribusian bahan pangan jika produksi dan sumber-sumbernya terbatas.
Adapun masalah energi, masalah tersebut merupakan masalah yang sangat sensitif (kritis), khususnya karena air dan makanan terkait erat dengan masalah energi ini. Masalah ini memerlukan pengerahan segala daya untuk mendistribusikannya secara adil dalam penggunaan sumber-sumber energi.
Hendaknya dalam hal itu dibatasi untuk kebutuhan yang sangat mendesak dan penting. Misalnya, alat-alat trasportasi harus dibatasi penggunaannya dalam kebutuhan-kebutuhan penting dan tidak diizinkan menggunakannya untuk kebutuhan-kebutuhan seperti sebelumnya. Sebabnya, masalahnya di sini menjadi terkait erat dengan kebutuhan-kebutuhan pokok dan dengan kelangsungan dan keberlanjutan Daulah.
Kedua, mengaktifkan semua potensi para ahli dan cendekiawan, serta teknik-teknik mereka dalam mencari sarana-sarana energi pendukung, misalnya energi matahari untuk penerangan, pemanasan, dan menggerakkan alat transportasi, begitu pula energi air jika ada. Masalah ini merupakan masalah yang mungkin dilakukan inovasi. Ini karena dalam medan sains dan teknologi bisa dilakukan kreasi dan inovasi.
Provokasi untuk melakukan kreasi dan inovasi itu tidak boleh dibatasi hanya terhadap para ahli dan cendekiawan Daulah Islamiah. Akan tetapi pelaksana negara juga berupaya untuk membeli pemikiran ahli dan cendekiawan dari luar, program-program sains modern dari para cendekiawan, serta pusat-pusat penelitian dan pengkajian.
Ketiga, pengorganisasian berbagai gerakan rahasia melalui intelijen di dalam dan luar Daulah. Hal ini untuk melarikan sumber-sumber energi, bahan bakar, dan bahan pangan dengan jalan yang memungkinkan, baik melalui perbatasan perairan negara-negara tetangga, melalui jaringan pipa, atau jalan lain yang memungkinkan.
Masalah ini dahulu juga dilakukan oleh Rasul saw. dan para sahabat dalam masalah makanan selama embargo di Makkah al-Mukarramah. Pada saat itu, muatan-muatan bahan makanan sampai kepada beliau secara rahasia dari sebagian orang yang bersimpati di Makkah.
Ibnu Ishan meriwayatkan, ia berkata, “Abu Jahal bin Hisyam seperti yang disebutkan, pernah memergoki Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad bersama budaknya membawa gandum yang ingin diantarkan kepada bibinya, yaitu Khadijah binti Khuwailid ra. yang berada bersama Rasulullah saw. di lembah. Abu Jahal menghalanginya dan berkata, ‘Apakah engkau akan pergi membawa makanan ini kepada Bani Hasyim? Demi Allah, jangan pergi membawa makanan itu. Jika tidak, aku akan mempermalukanmu di Makkah.’ Kemudian datang Abu al-Bahtari bin Hisyam bin al-Harits bin Asad. Ia berkata, ‘Ada apa engkau dengannya?’ Abu Jahal menjawab, ‘la akan membawa makanan kepada Bani hasyim.’ Abu al-Bahtari berkata, ‘Makanan itu adalah milik bibinya yang akan ia kirimkan kepadanya. Apakah engkau akan menghalanginya menyampaikan makanan bibinya? Biarkan ia.’ Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Abu Jahal laknatullah tidak mau membiarkannya sehingga ia berkelahi dengan Abu al-Bahtari. Abu al-Bahtari memegang janggut onta dan menariknya dengan sangat keras.” [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.

One thought on “[Khilafah Rasyidah] Kurangnya Sumber Daya dan Potensi Berbanding Besarnya Tantangan (Bagian 1/2)”