Muslimah News, LENSA DAERAH — Kasus pelecehan seksual yang dilakukan tenaga kesehatan mendapat sorotan puluhan tokoh dari berbagai daerah di Jawa Barat dalam Temu Tokoh Muslimah Jawa Barat yang menjadi agenda rutin komunitas Formasi Kaffah.
Pertemuan bertajuk “Tinjauan Kode Etik Kesehatan dalam Tindak Pelecehan Seksual oleh Tenaga Kesehatan” di Bandung pada Sabtu (17-5-2025) tersebut mengungkap bahwa penerapan sistem sekuler kapitalisme telah menyuburkan pelecehan di dunia medis.
Prihatin
Praktisi kesehatan dr. Ahyani Raksanagara, M.Kes. menyampaikan keprihatinannya terkait berbagai kasus yang terjadi di kalangan tenaga medis, seperti kasus pelecehan seksual tersebut karena menyebabkan masyarakat sangat khawatir, marah, dan bertanya-tanya penyebab hal ini bisa terjadi di kalangan yang berpendidikan tinggi.
“Saya sebagai bagian dari tenaga kesehatan merasa sedih, kecewa dan marah karena banyak dokter yang tulus, tapi itu oknum,” ucapnya.
Ia menuturkan, ada organisasi kedokteran yang dibentuk untuk menyatukan para dokter dan meningkatkan profesionalisme serta etika kedokteran di Indonesia.
“Etika kedokteran ini mengatur masalah hubungan yang berhubungan dengan sikap para dokter terhadap sejawat, para pembantunya, serta yang sangat penting adalah mengatur tentang sikap dan tindakan seorang dokter terhadap penderita yang menjadi tanggung jawabnya,” ujar dr. Ahyani.
Ia menyatakan, sumpah dan janji dokter yang diucapkan, haruslah dilaksanakan dengan sepenuh hati saat melaksanakan praktik kedokteran. “Wajib menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan mengamalkan kode etik kedokteran. Pelanggaran etika oleh profesi akan langsung dilakukan pemberhentian sebagai anggota,” tegasnya.
Menurutnya, dalam menindaklanjuti kasus yang terjadi, haruslah dilihat dari berbagai aspek. Dari kasusnya, ia mengatakan, haruslah ditangani dan dilakukan upaya pencegahan.
“Dari sistem pendidikan, kita harus melihat bagaimana biaya dan kesempatan. Dari sistem pelayanan kesehatan, kita melihat juga bagaimana penghargaan dan perlindungannya. Kita juga meninjau dari nilai-nilai sebagai dokter dari sudut pandang keluarga, masyarakat, contoh keteladanan, dan lain-lain,” bebernya.
Berdasarkan hal itu, ia menilai, ada pergeseran visi dokter yang tadinya pengabdian menjadi transaksional, yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme.
Islam Kafah
Berikutnya Hj. Ummu Aiman, Founder Formasi Kaffah memaparkan materi tentang “Pelayanan Kesehatan dan Kode Etik Kesehatan dalam Riayah Islam Kafah”.
“Problem dalam pelayanan kesehatan tidak hanya pada kode etik, namun juga fasilitas kesehatan, birokrasi dan undang-undang, serta pendidikan nakes,” jelasnya.
Problem tenaga medis yang rapuh, lanjutnya, dimulai dari rapuhnya sistem pelayanan kesehatan yang lahir dari sistem sekuler kapitalisme.
“Dalam ranah publik, aturan agama dianggap tidak penting, hanya mengatur di ranah individu sehingga pelayanan kesehatan dalam sistem kapitalisme dinilai sebagai sektor kehidupan yang sangat strategis dan merupakan hajat hidup untuk bisa menjadi sumber cuan.” ujarnya.
Hal ini, ungkapnya, sangat berbeda dengan pe-riayah-an (pelayanan) Islam kafah. “Sebagaimana pada masa Rasulullah saw. dan khulafaurasyidin, pelayanan kesehatan merupakan bagian dari kemaslahatan dan fasilitas publik yang harus dirasakan dan dinikmati masyarakat. Negara menjamin manfaat dari fasilitas tersebut sebagai bagian dari pelayanan negara bagi rakyatnya,” paparnya.
Kode etik kesehatan dalam Islam sangatlah simpel, sambungnya, yaitu dijalankan menurut hukum syarak dan maqashid syariah (tujuan yang ingin dicapai syariat)
“Pemberlakuan hukum syarak dan uqubat (sanksi) akan menegakkan keadilan, memberikan efek jera, dan penebus dosa. Islam mengintegrasikan antara ketakwaan individu, masyarakat yang bertakwa, dan negara yang menjalankan sistem takwa yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat, yaitu dalam institusi Khilafah,” urainya.
Tanggapan
Beragam tanggapan muncul dari tokoh praktisi kesehatan, praktisi pendidikan, mahasiswi, penggerak majelis taklim, serta mubaligah, mulai dari menyatakan rasa miris pada fakta saat ini, juga rasa bersyukur dan beruntung bisa hadir di acara ini.
Para tokoh bersepakat bahwa atmosfer kapitalisme dirasakan praktisi di banyak bidang, termasuk kesehatan, sehingga harus ada pelurusan kode etik berbasis ketakwaan sehingga keberkahan bisa didapatkan. Ini karena, sambung mereka, sistem kapitalisme memberi peluang terciptanya lingkungan yang mudah untuk melanggar kode etik sehingga penting untuk kembali pada penerapan syariat Islam secara kafah.
Aksi nyata tokoh, bagi mereka, diperlukan untuk terus mengedukasi umat dan menyadarkan umat tentang keberadaannya sebagai hamba Allah untuk mengembalikan kehidupan islami. [MNews/Kontributor daerah: NLM/Jabar]
