Penulis: dr. Hamdan Fahmi
Muslimah News, TELAAH KITAB — Demikian juga menunjukkan kekontinuan perang dan permusuhan kaum kafir itu hingga kelak Allah Swt. mewarisi bumi beserta segala isinya. Peperangan dan permusuhan kaum kafir tidak akan berhenti, kecuali dengan salah satu dari dua perkara, yakni kaum kafir itu masuk Islam atau sebaliknya kaum muslim murtad keluar dari agama mereka, lalu berubah menjadi kafir seperti kaum kafir itu.
Fakta-fakta sejarah–sejak masa Rasulullah saw. dan setelahnya sepanjang masa Islam hingga masa kita sekarang—telah menjadi bukti kebenaran berita-berita ilahiah yang bersifat qath’i dan gamblang itu. Pada masa Rasul saw., kaum kafir telah berupaya untuk membunuh beliau. Allah Swt. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal: 30).
Kaum kafir telah berupaya “mencekik leher” Rasulullah saw. dalam rangka mengeluarkan beliau dan para sahabat, yaitu kaum mukmin dari agama mereka. Setelah daulah berdiri, kaum kafir berupaya mencabut dakwah beliau saw. dari akarnya di muka bumi dalam berbagai peperangan berdarah yang silih berganti, yaitu dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan lainnya.
Setelah masa Rasul saw., permusuhan kaum kafir pun terus berlanjut. Kali ini dilakukan oleh Persia dan Romawi, serta penganut agama-agama lain. Permusuhan itu terwujud secara riil dalam berbagai peperangan yang tidak pernah berhenti sepanjang sejarah Islam.
Begitu pula kondisinya hari ini. Peperangan yang kejam dilancarkan terhadap Islam dan kaum muslim yang ikhlas untuk mengeluarkan mereka dari tujuannya, bahkan dari agamanya. Peperangan itu tidak akan lebih ringan keganasannya pada saat tegaknya Daulah Islam. Jalan di hadapan daulah juga tidak akan ditebari oleh bunga dan tetumbuhan yang harum semerbak seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang. Akan tetapi sungguh, peperangan akan begitu keras dan mematikan.
Kafir Barat khususnya, tidak akan diam berpangku tangan melihat negara yang baru lahir itu terus tumbuh, makin kuat dan kokoh tubuhnya dari hari ke hari. Ini karena Barat, khususnya Eropa, mengerti betul makna Daulah Islam, tujuan-tujuan, dan pengaruhnya terhadap ideologi Barat, negara-negara Barat, berbagai kepentingan, dan masa depannya.
Makna berdirinya Daulah Islam adalah berdirinya satu kekuatan yang tegak di atas landasan akidah islamiah, penerapan hukum-hukum Islam di dalam negeri, berjuang untuk menyatukan neger-negeri kaum muslim secara keseluruhan, berjuang mencabut kekufuran dari akar-akarnya, dan memangkas pengaruh-pengaruhnya. Demikian pula berjuang untuk mengemban Islam sebagai risalah yang menantang semua ideologi kaum kafir.
Berdirinya Daulah Islamiah itu berarti penghancuran sistem kapitalisme kufur, yang telah diselubungi dengan selimut busuk dan merusak dari para pemimpin kapitalisme yang terdiri dari para pemilik perusahaan besar dan para penguasa. Mereka memperbudak bangsa-bangsa dan memeras darah bangsa-bangsa itu di bawah slogan kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia.
Sesungguhnya kaum kafir, khususnya Barat, memahami dengan baik makna berdirinya Daulah Islamiah lebih dari apa yang dipahami oleh putera-putera kaum muslim sendiri. Tidak pernah hilang dari benak mereka ingatan akan perang Balkan, pengepungan kota Wina, peperangan Balath asy-Syuhada’ di pintu gerbang Prancis, pembebasan Konstantinopel, dan lain-lain.
Oleh karena itu, kaum kafir, khususnya Barat, akan berdiri mengadang Daulah Islamiah dengan segala kekuatan dan strategi yang mereka miliki supaya mereka bisa menghancurkan dan melenyapkan Daulah Islamiah, seandainya mereka mampu melakukannya. Akan tetapi dengan izin Allah, mereka tidak akan pernah mampu melakukannya. Allah Swt. berfirman, “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal: 30).
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32). [MNews/RY-YG]
Sumber: dr. Hamdan Fahmi, Khilafah Rasyidah.
