Muslimah News, LENSA DAERAH — Jejak Islam di bumi nusantara memang tidak bisa dimungkiri. Bahkan, dalam menyambut Ramadan, tradisi-tradisi islami mewarnai di berbagai daerah di nusantara. Salah satunya di Kampung Bustaman yang bersebelahan dengan Kawasan Pecinan dan Kota Lama Semarang. Mereka memiliki tradisi unik gebyuran Bustaman. Dalam menyambut Ramadan, mereka awali dengan tradisi ini, yakni perang air sebagai simbol membersihkan dosa.
Warga kampung menyiapkan air dibungkus plastik yang akan dipakai untuk perang air nantinya. Setiap rumah menyediakan sekitar 300 kantong plastik berisi air sehingga ketika ada 50 rumah bisa terkumpul 15 ribu kantong. Tradisi ini dilakukan kira-kira sepekan sebelum Ramadan dimulai, Ahad (23-2-2025). Selepas Asar di depan musala mereka melaksanakan tradisi rutin tersebut.
Sebelum dimulai, ada salah satu warga yang ditugaskan untuk mencoreng-coreng muka setiap orang yang melintas berangkat ke musala. Filosofinya coreng-coreng muka adalah tanda dosa-dosa yang masih melekat sehingga, ketika perang air dimulai, maka coreng-coreng di muka akan hilang karena terkena gebyuran air tersebut. Mereka memang sengaja berangkat gebyuran dalam kondisi belepotan penuh coreng di muka yang melambangkan dosa-dosa yang dilakukan selama ini.
Gebyuran
Ketika semua warga kampung sudah berkumpul di depan musala, mereka memulai gebyuran selepas Asar. Diawali dengan lima anak yang duduk berjejer, lalu diguyur air kendi sehingga coretan yang di muka menjadi bersih. Di saat yang bersamaan, warga bersiap menunggu aba-aba dari titir kentungan yang dibunyikan. Semua boleh saling lempar air ketika titir kentungan dibunyikan.
Sontak, riuh warga kampung langsung pecah ketika perang air dimulai. Saking asyik dan menariknya acara ini, banyak warga di luar kampung datang dan ikut meramaikan perang air ini. Tidak peduli berapa pun usianya, dari anak-anak sampai kakek-nenek semua ikut perang air ini. Namanya gebyuran, maka harus siap basah kuyup. Jadi, peserta pantang takut basah.
Ketika air dalam kantong plastik habis, para warga belum berhenti melakukan perang air. Mereka mengambil selang atau air dalam timbo untuk melanjutkan perang air. Tradisi ini berlangsung kurang lebih 1 jam dan di akhir acara diakhiri dengan gotong royong membersihkan sampah bekas bungkus air. Setelah itu, para warga dan tamu undangan dipersilakan makan gulai kambing, hidangan khas kampung ini.
Simbol
Gebyuran Bustaman menjadikan air sebagai simbol pembersih dosa. Dalam Islam, air digunakan untuk bersuci baik dalam wudu untuk menghilangkan hadas kecil maupun mandi untuk menghilangkan hadas besar. Tradisi ini tidak jauh dari syariat IsIam. Mereka melakukan gebyuran Bustaman sebagai simbol membersihkan dosa. Dalam Islam, dosa harus dibersihkan dengan memohon ampunan kepada Allah Swt..
Tradisi ini mengingatkan masyarakat agar menyucikan diri dari dosa sebelum datang Ramadan, yakni dengan memperbanyak amalan saleh. Sebagai contoh, meminta ampunan kepada Allah Swt. juga saling memberi dan meminta maaf agar bersih dari dosa sebelum Ramadan, sehingga bisa melaksanakan ibadah Ramadan dengan khusyuk.
Jejak
Menurut kepercayaan warga setempat, tradisi Gebyuran sudah ada sejak 1742 (sumber lain mengatakan tahun 1743), dipelopori Kiai Bustam (Kiai Ngabehi Kertoboso/Sayid Abdullah Muhammad Bustam), seorang Arab-Jawa perintis terbentuknya permukiman Bustaman. Kiai Bustam zaman dulu menggebyuri cucu-cucunya sebelum Ramadan sebagai tanda penyucian.
Hal itu, tidak berbeda dengan beberapa hasil penelitian kekinian yang menyebut tradisi Gebyuran sudah ada sejak masa Kiai Bustam 1742. Salah satunya hasil penelitian tim Disbudpar Kota Semarang dalam Laporan Akhir Kajian Sejarah Kampung Bustaman. Hal ini makin memperkuat keyakinan umat Islam, budaya gebyuran Bustaman adalah jejak Islam yang lestari sampai pada hari ini.
Tidak hanya soal budaya, seharusnya masyarakat diatur dengan syariat Islam secara keseluruhan agar keberkahan turun dari langit. Dalam menjaga kesucian masyarakat agar terhindar dari dosa, tidak bisa dilakukan sendirian atau berkelompok. Namun, harus difasilitasi negara dengan menerapkan sistem Islam secara totalitas.
Penerapan Islam dalam bingkai negara adalah satu-satunya cara yang paling jitu untuk mengondisikan masyarakat agar dalam keadaan iman dan taat kepada Allah Swt.. Baik penguasa maupun masyarakat, semua mengamalkan Islam secara kafah sebagai sarana meningkatkan ketakwaan. Apabila ada yang melanggar perintah-Nya, negara menegakkan hukum Islam untuk menjaga jiwa, harta, dan akal masyarakat secara keseluruhan. [MNews/IK]
