Muslimah News, LENSA DAERAH — Menyambut kedatangan bulan suci Ramadan, masyarakat Suku Sunda di Jawa Barat masih menjalankan tradisi yang khas dan kental dengan nuansa kebersamaan dan spiritualitas. Tradisi itu adalah Munggahan. Tradisi ini memiliki makna mendalam dalam persiapan menyambut bulan yang penuh dengan keberkahan.
Wajar jika tradisi Munggahan hingga kini masih terus lestari karena sejak lama menjadi momen penting bagi masyarakat Islam suku Sunda di Jawa Barat. Tradisi ini selalu dilakukan menjelang bulan Ramadan atau pada akhir bulan Syakban (satu atau dua hari menjelang bulan Ramadan). Tradisi Sunda ini tidak hanya sekadar persiapan fisik, melainkan juga persiapan mental dan spiritual.
Munggahan sendiri berasal dari bahasa Sunda, yaitu unggah yang memiliki makna naik, merupakan ungkapan syukur kepada Allah serta upaya membersihkan diri dari hal-hal negatif dalam setahun sebelumnya.
Tradisi tersebut memiliki kegiatan yang bervariasi sesuai dengan dominasi budaya di wilayahnya, tetapi umumnya Munggahan diisi dengan acara berkumpul bersama keluarga dan kerabat, makan bersama (botram), saling bermaafan, dan berdoa bersama. Selain itu, ada pula yang mengunjungi tempat wisata bersama keluarga, serta berziarah ke makam orang tua atau saudara yang telah meninggal.
Asal Mula
Asal mula tradisi Munggahan tidak terlepas dari proses islamisasi di tanah air serta teknik penyebarannya. Salah satunya, yaitu menghubungkan tradisi dan kebudayaan dengan ajaran Islam. Masuknya Islam di Tanah Sunda bermula sekitar abad ke-7 M.
Mengutip dari Jurnal Ilmu Ushuluddin, Sujati (2020) menyatakan bahwa Islam di Tatar Sunda membawa keunikan pada budaya masyarakat Sunda. Di tanah Sunda, terdapat dua kebudayaan, yakni syariat Islam dan budaya masyarakat Sunda. Terjadi akulturasi keduanya sehingga melahirkan budaya baru tanpa menghilangkan sifat dari setiap unsur. Inilah yang dipercaya menjadi asal muasal dari tradisi Munggahan.
Selain itu, melihat aktivitasnya, tradisi Munggahan tampak dipenuhi dengan kegembiraan, hal ini tidak lain karena datangnya Ramadan dianggap sebagai berkah yang harus disambut dengan sukacita. Sebuah Hadits dari Rasulullah saw. turut memperkuat makna kegembiraan dalam menyambut bulan suci tersebut, “Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”
Spirit Agama
Spirit agama yang selalu menjadi sumber inspirasi budaya yang dilakukan para pendahulu sudah semestinya dilanjutkan oleh generasi setelahnya. Masyarakat Sunda memang dikenal dengan masyarakat yang memegang teguh agama Islam. Seperti unggkapan yang mahsyur yang menyebut bahwa “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam.”
Demikian pula saat menjalankan tradisi Munggahan, tidak terlepas dari tujuan dari pelaksanaan shaum Ramadan itu sendiri, yaitu takwa kepada Allah Swt.. Adapun takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dalam seluruh aktivitas, baik saat beribadah, berekonomi, bergaul, berbudaya, berpolitik, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara.
Dengan puasa Ramadan, pribadi-pribadi kaum muslim ditempah dan dilatih untuk meninggalkan yang mubah seperti makan minum, apalagi yang haram. Oleh karenanya, pascapuasa Ramadan akan menghasilkan pribadi-pribadi yang kuat untuk mengekang nafsu syahwat/meninggalkan maksiat.
Imam Al-Qaththan dalam Tafsir Alqaththan menafsirkan “ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ”- agar kalian bertakwa menyatakan bahwa artinya agar kalian bertakwa dengan meninggalkan syahwat yang mubah.
Dengan puasa, kaum muslim dilatih melakukan keutamaan dan keinginan yang kuat untuk mengekang nafsu dan meninggalkan syahwat yang diharamkan karena takut kepada Allah baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Begitulah para pendahulu kita sangat memperhatikan keimanan dan ketakwaan dan mengimplementasikannya dalam aktivitas kehidupan sekalipun itu berupa tradisi dan budaya. Meskipun saat ini, pemahaman agama Islam mulai terkikis karena dominasi dari sistem sekuler kapitalisme dalam masyarakat Sunda.
Harapannya, pelestarian tradisi Munggahan menjadi pemantik masyarakat Sunda untuk kembali berpegang teguh kepada ajaran Islam sebagaimana para pendahulunya. Jika tidak, maka itu sebenarnya tidak sesuai dengan tradisi dan budaya Sunda. [MNews/Kontributor Daerah: LLS/Jabar]
