Gaza Menyambut Ramadan dalam Kondisi Terjajah

Gaza Menyambut Ramadan dalam Kondisi Terjajah

Muslimah News, FOKUS — Gaza masih tidak beranjak dari kondisi terjajah. Menyambut bulan Ramadan yang mulia, Gaza masih berkecamuk dalam kesedihan dan keterpurukan. Presiden AS Donald Trump telah memicu kemarahan global ketika ia mengusulkan agar AS “mengambil alih Jalur Gaza” dengan memindahkan secara permanen 2,4 juta penduduk Gaza ke negara tetangga, Mesir dan Yordania. Rencana Trump mendorong para pemimpin negara-negara Arab melakukan pertemuan di Arab Saudi untuk membahas perlawanan terhadap rencana tersebut. Pertemuan tersebut dihadiri pemimpin dari tujuh negara Arab, yaitu Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.

Mesir dan sejumlah negara Arab berencana membangun mekanisme pemerintahan di Jalur Gaza tanpa harus mengungsi dan melibatkan Hamas. Pembangunan kembali Jalur Gaza ditaksir memakan waktu tiga hingga lima tahun dengan biaya lebih dari US$53 miliar atau Rp856 triliun.

Sementara itu, di tengah kesepakatan gencatan senjata, Zion*s Yahudi tidak menghentikan serangan. Bahkan, mereka menghalangi mobil dan peralatan konstruksi memasuki wilayah Gaza dengan alasan masalah keamanan. Di sisi lain, Hamas membebaskan 6 sandera Zion*s Yahudi di Nuseirat, Gaza pada Sabtu (22-2-2025). Namun, Zion*s Yahudi lagi-lagi ingkar janji. Mereka menunda pembebasan 600 tahanan Palestina yang telah disetujui untuk dibebaskan.

Pahlawan Kesiangan?

Setelah lebih dari 1,5 tahun Gaza babak belur akibat kebengisan Zion*s Yahudi, kini negara Arab bak tampil sebagai pahlawan kesiangan. Rencana mereka yang ingin merekonstruksi Gaza tanpa mengungsi seolah menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat Palestina. Namun, sejauh ini apa yang sudah dilakukan negara-negara Arab tetangga Palestina ketika Zion*s Yahudi membumihanguskan Gaza hingga puluhan ribu muslim Palestina harus kehilangan nyawa? Respons negeri-negeri muslim sebatas kecaman, ancaman, kutukan, dan menawarkan solusi dua negara sebagaimana yang selalu digaungkan PBB dan AS.

Kita sudah mengetahui akal bulus AS dan sekutunya, Zion*s Yahudi. Usulan Trump untuk merelokasi penduduk Gaza dengan dalih pembangunan hanyalah kamuflase AS yang ingin mengusir muslim Gaza secara permanen agar leluasa menguasai Palestina secara menyeluruh. Begitu pun dengan solusi dua negara, sejatinya hanyalah akal-akalan AS untuk membentuk pemerintahan boneka di bawah hegemoninya.

AS tidak akan berpihak pada nasib kaum muslim di Palestina. AS akan terus berdiri untuk kepentingannya sendiri dan kolega abadinya, yakni Zion*s Yahudi. Masalah Timur Tengah, terutama Palestina, sangat penting bagi AS. Inilah yang menyebabkan AS tidak pernah melepaskan pandangannya sedetik pun untuk ikut campur dalam konflik di Timur Tengah.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani telah menjelaskan hal ini dalam kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir hlm. 132, “Masalah Timur Tengah merupakan masalah yang terkait dengan Islam dan bahayanya bagi Barat. Terkait dengan letaknya yang strategis dan dominasinya terhadap transportasi Eropa, Afrika, dan Asia. Terkait dengan negara Yahudi yang menjadi garis pertahanan terdepan dari pertahanan Barat. Terkait pula dengan penjajahan serta hasil-hasil penjajahan, terutama minyak. Jadi, masalah Timur Tengah adalah masalah yang terkait dengan Islam, letak strategis, negara Yahudi, penjajahan, dan minyak. Tidak diragukan lagi masalah ini sangat penting, tidak hanya untuk penduduk kawasan Timur Tengah dan kaum muslim, melainkan juga untuk seluruh dunia. Adapun Islam, ia telah dan senantiasa menjadi bahaya besar atas AS dan Barat. Kawasan Timur Tengah dapat dianggap tempat titik tolak yang alamiah untuk dakwah Islam ke seluruh dunia. Oleh karena itu, tidak aneh bahwa AS menjadikan Islam sebagai musuh utama satu-satunya bagi AS setelah runtuhnya sosialisme. AS menggunakan slogan-slogan terorisme, ekstremitas agama, dan fundamentalisme agama sebagai kedok untuk menyerang Islam dan kaum muslim di kawasan ini. AS berusaha dengan segala kekuatan yang dimilikinya untuk menjauhkan gerakan-gerakan Islam politis dari kekuasaan. Hal itu dilakukan melalui cara kekerasan, kebrutalan, penyiksaan, dan pembendungan yang dijalankan oleh rezim-rezim pemerintahan yang menjadi pengikut AS di kawasan ini.”

Dukungan AS Memperkuat Penjajahan

Ibarat benalu, Zion*s Yahudi tumbuh menumpang dan mengisap tanah Palestina yang ditumpanginya. Ia parasit bagi muslim Palestina. Ia tumbuh subur berkat bantuan dan dukungan total AS. Jika benalu ini terus dibiarkan, ia akan bertambah banyak dan menyebabkan Palestina hancur dan pada akhirnya punah dicaplok Zion*s Yahudi. Untuk membersihkan benalu dari tanah Palestina, mau tidak mau harus memutus apa pun yang membuatnya tumbuh dan berkembang biak. Dukungan penuh AS terhadap Zion*s Yahudi sejatinya telah membuka borok AS. Negara yang menyebut dirinya polisi dunia dan antiteror itu nyatanya menjadi negara pendukung utama teroris seperti Zion*s Yahudi. Lantas, mengapa kaum muslim dunia masih saja berharap pada PBB yang notabene disetir AS?

Untuk membersihkan Zion*s Yahudi dari Palestina, kaum muslim harus berani mengambil langkah konkret dan taktis.

Pertama, jangan lagi berharap pada lembaga dunia seperti PBB. Hadirnya PBB tidak berpengaruh pada nasib Palestina. Dewan Keamanan PBB mandul karena peran sentral AS di lembaga tersebut. Sebagai contoh, keanggotaan Indonesia sebagai anggota DK PBB tidak berimplikasi apa pun terhadap perilaku Zion*s Yahudi yang makin biadab. Hanya kutukan dan kecaman yang nyaring dibunyikan, tetapi minim hasil. Zion*s Yahudi bergeming. AS tutup mata dan telinga.

Kedua, menyeret Zion*s Yahudi ke Mahkamah Internasional atas kejahatan kemanusiaan adalah hal yang mustahil. Dukungan AS menjadi alasannya. Ia tidak akan membiarkan golden boy-nya diadili. Hal itu tampak dari keputusan AS yang tidak lagi memandang ilegal keberadaan Zion*s Yahudi yang menjajah dan merampas tanah milik kaum muslim Palestina. Dari masa ke masa dukungan AS kepada Zion*s Yahudi tidak akan berubah meski berganti presiden.

Ketiga, two state solution dan diplomasi bukanlah solusi. Membagi dua tanah untuk Palestina dan Zion*s Yahudi adalah bentuk pengkhianatan. Palestina adalah tanah kharajiyah yang diperoleh dengan darah dan air mata kaum muslim, selamanya akan menjadi milik kaum muslim. Sementara itu, Zion*s Yahudi hanyalah entitas parasit yang menumpang hidup di Palestina. Keberadaannya sebagai negara dipaksakan oleh Barat. Berbagai jalan diplomasi hingga gencatan senjata tidak memberi arti apa-apa. Menghadapi Zion*s Yahudi bukanlah dengan diplomasi atau duduk manis berdiskusi. Mereka hanya bisa dibasmi dengan memeranginya.

Keempat, persatuan kaum muslim harus diwujudkan. Palestina adalah ujian ikatan akidah. Palestina adalah cobaan ukhuwah islamiah. Ukhuwah itu tidak tampak tatkala nation state telah mengerat tubuh kaum muslim menjadi puluhan negara. Negara bangsa inilah yang membuat Liga Arab sulit melawan Zion*s Yahudi meski mereka mendukung Palestina. Namun, dukungan itu bagai lip service semata. Belum ada tindakan nyata dari Liga Arab untuk mengusir penjajah Yahudi dari tanah para nabi. Hal itu dikarenakan kepentingan politik dan kerja sama mereka dengan Zion*s Yahudi dan AS. Di satu sisi mereka mendukung, tetapi di sisi lain berjabat tangan dengan pembantai muslim Palestina. Akidah pun tergadai atas nama kepentingan bangsa.

Telah banyak kesepakatan dan perundingan yang dilakukan, tetapi tidak mengubah sikap bebal Zion*s Yahudi. Meski berkali-kali Israel melanggar hukum dan konsensus internasional, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang berani memerangi Zion*s Yahudi secara terang-terangan. Dukungan terhadap Palestina hanya berkutat pada kecaman, bantuan makanan dan obat-obatan, solidaritas, serta kemanusiaan. Palestina membutuhkan lebih dari itu. Pembebasan tanah Palestina dengan pengiriman tentara dan kehidupan yang tenang dan sejahtera, itulah yang paling Palestina butuhkan.

Khilafah Solusi Tunggal Palestina

Masalah Palestina adalah masalah kaum muslim. Tidak boleh ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain. Apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Zion*s Yahudi. Oleh karena itu, sikap seharusnya terhadap mereka yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah Swt. perintahkan, yakni perangi dan usir!

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka, serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum mukmin.” (TQS At-Taubah [9]: 14).

Ketiadaan Khilafah membuat negeri-negeri muslim terjajah dan terisolasi. Oleh karenanya, penegakan Khilafah sebagai solusi atas Palestina dan negeri muslim lainnya adalah perkara mendesak dan penting. Tegaknya Khilafah harus terus diperjuangkan dan diserukan hingga kaum muslim memiliki kesadaran menjadikan Islam sebagai aturan bernegara. Umat harus memiliki kesadaran politik bahwa nasib Islam dan kaum muslim tidak akan mulia dengan ikatan kebangsaan. Kemuliaan dan kehormatan Islam dan kaum muslim hanya akan terwujud dalam ikatan akidah Islam serta penyatuan negeri-negeri muslim dalam naungan Khilafah.

Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain Khilafah Islamiah. Dengan Khilafah, sekat bangsa akan tercerai, persatuan kaum muslim akan mewujud. Akidah Islam menjadi fondasi kekuatan umat Islam. Khalifah akan menyerukan jihad memerangi musuh-musuh Islam. Hanya jihad dan Khilafah solusi fundamental untuk Palestina dan negeri muslim lainnya yang masih terjajah. Dengan Khilafah, muslim Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya tidak akan lagi merasakan duka pada bulan suci Ramadan. Pembebasan Palestina akan menjadi kabar gembira yang disambut penuh sukacita oleh seluruh kaum muslim. Kehadiran Khilafah menjadikan Ramadan yang bahagia, khusyuk beribadah, dan berkah bagi kita semua. Semoga tahun ini adalah Ramadan terakhir tanpa Khilafah. Wallahualam. [MNews/CJ-RR]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *