Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Sambungan dari Bagian 6/7
Muslimah News, TELAAH KITAB — Tiga tahapan dakwah Islam telah dijelaskan untuk membentuk masyarakat Islam yang khas. Ini merupakan metode syar’i praktis untuk melangsungkan kehidupan Islam dan tidaklah diperkenankan menyelisihinya. Oleh karenanya, orang-orang yang selalu beraktivitas untuk perubahan atas dasar Islam harus mengikatkan diri dengan semua tahapan dakwah tersebut.
Rasulullah saw. adalah seorang individu dalam masyarakat Makkah. Allah Swt. telah menyatukan Islam pada dirinya, baik pemikiran dan metode (thariqah). Dengan demikian, Rasulullah saw. menjadi manusia yang berpemikiran bersih dan jernih, serta memiliki metode yang jelas dan lurus. Manusia berkepribadian khas ini tidaklah diam, tetapi terus memengaruhi bagian-bagian lain dari masyarakat di sekitarnya.
Kemudian, Rasulullah saw. membentuk kepribadian khas pada mereka sehingga mereka menjadi sebuah kelompok (kutlah) yang padu dengan pilarnya adalah manusia, pemikiran, dan metode. Mereka bergerak dalam masyarakatnya yang sakit untuk mendeteksi rahasia penyakitnya. Mereka mulai mengadakan pengobatan yang efektif dan manjur sesuai resep yang telah diberikan oleh Tuhan Semesta Alam.
Masyarakat itu mulai dibius dan diinjeksi sehingga terjadilah interaksi di dalam jaringan-jaringan dan sel-selnya, di antara obat dan kuman-kuman penyakit itu. Dengan terus menginjeksikan obat yang efektif dan manjur, kuman-kuman itu akan melemah sehingga dapat dibinasakan. Hasilnya, tubuh ini telah sehat kembali. Darah-darah kehidupan mengalir di dalamnya.
Terjadilah keselarasan, keserasian, dan keharmonisan di antara anggota-anggotanya yang beraktivitas untuk perubahan dan antara semua anggota yang lain. Mereka meletakkan sistem dari ideologi yang memancar dari akidahnya pada tempat penerapannya sehingga masyarakat itu menjadi khas dan bangkit.
Orang-orang yang beraktivitas untuk perubahan itu terus beraktivitas pada masyarakat lain di sekitarnya. Ini dilakukan untuk menghasilkan keselarasan antara mereka dan masyarakat, sekaligus untuk mentransfer kesehatan kepada masyarakat. Ini karena interaksi dan percampuran mereka semua dengan masyarakat yang khas dan bangkit. Dengan begitu, kesehatan hakiki merata di semua penjuru dunia. Penyakit-penyakit mereka terputus. Kuman-kuman jatuh berserakan dan musnah di pembuluh-pembuluh darah yang panas sehingga tubuh ini selamat dari kuman-kuman.
Orang-orang yang beraktivitas di dalam kelompok (kutlah) tersebut harus bisa menggambarkan dan menentukan penyakit-penyakit masyarakat dengan gambaran mendetail. Dengan demikian diketahui segala sesuatu yang ada di dalam masyarakat itu, seperti individu-individunya, pemikiran-pemikirannya, perasaan-perasaannya, dan sistemnya. Juga agar diketahui segala sesuatu yang ada di dalamnya, seperti pergerakan-pergerakan internal dan pengaruh-pengaruh eksternalnya.
Kemudian, mereka harus mengkaji ideologi yang diadopsi (tabani) untuk pengubahan (taghyiir) dengan cermat dan mendalam. Mereka mengadopsi segala hal yang dibutuhkan bagi kutlah untuk melakukan perubahan. Mereka tidak melakukan tabani yang tidak dibutuhkan dalam melakukan perubahan, walaupun masyarakat menuntut hukum-hukum yang mereka butuhkan dalam kehidupannya sebagai individu.
Orang-orang yang beraktivitas dalam kelompok tersebut harus beriman terhadap kelayakan metode dan pemikiran mereka dengan iman yang tidak terdapat keraguan dan dugaan. Mereka jangan sampai ketakutan menghadapi berbagai kesulitan yang bisa memengaruhi cita-citanya. Mereka juga jangan sampai kehabisan kesabaran disebabkan panjangnya perjalanan yang mereka lalui sehingga mereka menjadi seperti orang-orang dalam firman Allah Swt., “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS Al-Azhab: 23).
Mereka akan menjadi orang-orang yang layak bagi janji Allah yang tertera dalam firman-Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan orang-orang berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul supaya kalian diberi rahmat.” (QS An-Nur: 55–56). [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.
