Penulis: Muhammad Husain Abdullah
Muslimah News, TELAAH KITAB — Keteguhan pendirian Rasulullah saw. mendorong Abu Thalib untuk berkata kepada anak lelaki saudaranya itu, “Berangkatlah, wahai anak saudaraku. Katakanlah apa yang kamu suka. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkanmu karena sesuatu, selamanya.”
Orang-orang Quraisy menempuh berbagai cara dan usaha untuk menghalangi dan menghentikan dakwah baru tersebut. Mereka mencoba dengan cara politik. Walid bin Mughirah disuruh menyebarkan berita bahwa Muhammad adalah tukang sihir yang memisahkan antara seseorang dengan saudaranya, antara laki-laki dengan istrinya, dan antara laki-laki dengan keluarganya.
Hal ini menjadikan mereka yang duduk di jalan-jalan membicarakan masalah tersebut kepada orang-orang yang datang saat musim haji. Akhirnya berita Rasulullah saw. tersebar di seluruh Jazairah Arab. Akan tetapi Nabi saw. terus gigih dan menantang dalam dakwahnya hingga mereka mengancam dan menakut-nakutinya. Mereka juga mengerahkan orang-orang bodoh dan anak-anak kecil. Kemudian mereka semua mendustakan, menyakiti, dan menuduhnya sebagai tukang syair, tukang sihir, dukun, dan gila.
Mereka pernah mengelilingi Nabi saw. seraya berkata, “Apakah kamu orangnya yang berkata begini-begini kepada Tuhan-Tuhan kami dan agama kami?” Beliau saw. lalu berkata kepada mereka, “Ya benar, akulah orangnya yang mengatakan itu semua.” Kemudian seorang laki-laki mengambil gulungan selendangnya (hendak mencekik Nabi saw.). Abu Bakar segera berdiri seraya berkata, “Apakah kalian akan membunuh laki-laki hanya karena perkataannya, ‘Tuhanku adalah Allah?'”
Selanjutnya, mereka menawarkan kemuliaan, kerajaan, dan harta kepada Rasulullah saw.. Mereka menuntut Rasulullah saw. agar meminta Allah mengalirkan sungai-sungai untuk mereka, seperti sungai-sungai Syam dan Irak. Mereka juga menuntut Allah membangkitkan nenek moyang mereka yang sudah mati, serta menjadikan kebun-kebun dan istana-istana untuk mereka. Tidak hanya itu, mereka juga menuntut Allah memberi rezeki kepada mereka berupa harta karun dari emas dan perak, serta menuntut agar Rasulullah saw. minta kepada Allah supaya menjatuhkan gumpalan-gumpalan dari langit.
Rasulullah saw. lalu bersabda kepada mereka, “Tidak untuk itu aku diutus kepada kalian. Aku datang kepada kalian hanya membawa sesuatu di mana Allah mengutusku dengannya. Aku benar-benar telah menyampaikan kepada kalian sesuatu yang aku diutus kepada kalian dengannya. Kalau kalian menerimanya, sesuatu itu menjadi bagian kalian di dunia dan akhirat. Namun apabila kalian menolaknya, aku bersabar dan menunggu perintah Allah sehingga Dia menghukumi di antara aku dan kalian.”
Kemudian mereka menempuh berbagai cara untuk memalingkan manusia dari Islam dan dari mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Mereka memalingkan dengan cerita-cerita Nadhar bin Harits tentang raja-raja Persia dan Rustam. Hanya saja semua metode, cara, serangan, serta pengerahan dan kesulitan-kesulitan tidak mampu menggoyahkan dan memalingkan Rasulullah saw. dari tujuan dan kehendaknya menyampaikan Islam.
Semua kabilah di Makkah segan kepada Abu Thalib, Bani Hasyim, dan Bani Abdu Manaf sehingga mereka tidak berani menyakiti Rasulullah saw. secara berlebihan dan keterlaluan. Setiap kabilah hanya mencurahkan perhatiannya kepada orang-orang muslim yang lemah yang berada di kabilah tersebut.
Setiap kabilah menahan dan menyiksa mereka dengan memukuli, serta tidak memberi makanan dan minuman. Semua dilakukan untuk memalingkan mereka dari agama baru yang dipeluknya. Oleh karenanya, di antara mereka ada yang terfitnah hingga meninggalkan agamanya karena kerasnya siksaan. Namun ada pula mereka yang tetap bertahan atas agamanya hingga ruh terpisah dari tubuhnya.
Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Seandainya kalian keluar berhijrah ke tanah Habasyah, di sana ada raja yang tidak ada seorang pun di sisinya teraniaya. Tanah itu adalah tanah kejujuran, sampai Allah menjadikan kelapangan kepada kalian dari cobaan yang menimpa kalian.”
Demikianlah, hijrah pertama bagi kaum muslim adalah ke Tanah Habasyah. Orang Quraisy lalu mengirimkan orang-orangnya untuk mencari mereka, tetapi Raja Najasyi menolak keras menyerahkan mereka kepada orang Quraisy.
Orang-orang Quraisy melihat bahwa orang-orang muslim dalam keadaan aman di sisi Raja Najasyi. Mereka pun melihat bahwa Umar dan Hamzah yang termasuk golongan Quraisy yang sangat gagah berani benar-benar telah memeluk Islam dan Islam telah menyebar di setiap kabilah.
Kemudian para pemimpin Quraisy berkumpul dan bermusyawarah. Mereka sepakat menulis surat perjanjian bahwa mereka tidak akan menikahkan wanita-wanitanya kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang menjadi pendukung Muhammad saw..
Mereka (orang Quraisy) pun tidak akan berjual beli kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Itu semua dilakukan agar kedua Bani melepaskan diri dari mendukung Rasulullah saw..
Selanjutnya orang Quraisy menawarkan kepada Rasulullah saw. akan kebersamaan dalam beribadah sehingga turun firman Allah Swt., “Katakanlah, ‘Hai, orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian, dan untukku agamaku.’” (QS Al Kafirun: 1—6).
Namun demikian, Rasulullah saw. dan para sahabatnya tetap meneruskan perjuangan politiknya untuk perubahan. Mereka tidak berpaling kepada tawaran materi dan berbagai serangan dari pihak lawan. Ketetapan hati mereka tidak tercerai-berai oleh berbagai kesulitan yang menimpa.
Selanjutnya adalah tahapan ketiga, yakni pembangun negara dan pengambilalihan pemerintahan.
Rasulullah saw. terus mengadakan perjuangan politik melawan orang Quraisy tanpa memedulikan tawaran-tawaran materi mereka dan bahaya yang diarahkan mereka kepadanya. Beliau saw. menyingkap kebatilan keyakinan dan aktivitas buruk mereka dengan menjelaskan kebenaran yang diturunkan Allah Swt. berupa Al-Qur’an sebagai mukjizat.
Hanya saja masyarakat Makkah tetap bersikeras pada pemikiran-pemikiran kufur sebagai konsekuensi dari keingkaran dan kesombongan para pembesar mereka. Rasulullah saw. lalu mencari pertolongan dari kabilah-kabilah yang mengelilingi Makkah pada musim haji. Rasulullah saw. melakukan hal ini untuk melindungi dakwah dan membangun negara.
Akhirnya, Allah Swt. menyiapkan Madinah al-Munawwarah untuk dakwah tersebut. Penduduk Madinah menerima dakwah Islam. Mereka memberikan pertolongan kepada Rasulullah saw. pada Baiat Aqabah II. Kemudian Nabi saw. bersama sahabatnya hijrah ke Madinah dan membangun negara Islam di sana. [MNews/RY-YG]
Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.
