[Mafahim Islamiyyah] Pemahaman Aktivitas dalam Islam (Bagian 1/11)

[Mafahim Islamiyyah] Pemahaman Aktivitas dalam Islam (Bagian 1/11)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Muslimah News, TELAAH KITAB — Hakikat Aktivitas

Manusia adalah materi. Allah Swt. benar-benar telah meniupkan ruh sebagai rahasia kehidupan (nyawa) pada manusia. Allah juga telah memberikan potensi hidup pada manusia yang tecermin dalam tiga potensi, yakni kebutuhan jasmani, naluri-naluri, dan akal (idrak). Semuanya telah ada pada setiap manusia yang hidup. Bagaimana mempergunakannya?

Berbagai kebutuhan jasmani dan naluri selalu menuntut pemenuhan. Manusia akan mulai memenuhinya karena ada pembangkit internal untuk kebutuhan jasmani dan pembangkit eksternal untuk naluri. Manusia menggunakan organ tubuh serta fungsi-fungsi organ tubuhnya untuk melakukan aktivitas agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani dan naluri-nalurinya.

Penelitian mendalam terhadap berbagai aktivitas manusia menemukan bahwa aktivitas manusia hanyalah materi. Ini karena perbuatan manusia pada dasarnya merupakan energi. Adapun energi, ia merupakan salah satu bentuk materi. Para ilmuwan telah menemukan substansi energi setelah mereka berhasil menemukan atom.

Mereka menemukan bahwa materi itu bisa berpindah menjadi energi. Mereka menemukan pula bahwa energi bisa berpindah menjadi materi. Melalui eksperimen, mereka membuktikan bahwa sinar dapat berubah menjadi materi yang tersusun dari elektron dan proton.

Aktivitas manusia adalah usaha yang dicurahkan untuk menggerakkan organ jasmaninya, seperti kedua tangan, kedua kaki, mulut, dan lain-lain. Adapun usaha adalah energi yang dihasilkan dari proses kimiawi berbagai makanan dan udara (oksigen) pada tubuh manusia. Kapan saja manusia itu beraktivitas yang membutuhkan kemampuan prima, ia akan membutuhkan banyak materi (nutrisi).

Tukang besi, tukang kayu, dan tukang batu, mereka semua mempergunakan organ tubuh dan otot-ototnya untuk melaksanakan aktivitas. Mereka membutuhkan banyak nutrisi yang berbeda dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh ahli atom dan pemimpin politik.

Organ gerak, seperti kedua tangan, membutuhkan materi-materi (nutrisi) yang berbeda dengan materi-materi yang dibutuhkan oleh organ berpikir, yaitu otak. Yang demikian itu harus diperhatikan agar setiap organ bisa melaksanakan fungsinya dengan baik. Ketika materi yang dibutuhkan organ tertentu untuk melaksanakan fungsinya habis, maka pengindraan menyampaikan kekurangan itu kepada otak. Selanjutnya, manusia mulai beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkannya. Kebutuhan tersebut dapat berupa materi, seperti makanan, minuman, dan udara. Dapat pula berupa kebutuhan nonmateri, seperti tidur dan istirahat. Kalau kebutuhan jasmani ini tidak terpenuhi, sudah barang tentu tubuh menghadapi kerusakan.

Dilihat dari sisi ini, tubuh manusia menyerupai kendaraan bermotor. Ketika materi-materi yang menjalankannya habis, seperti minyak solar, oli, bensin, atau air, maka semua komponennya terhenti. Bahkan kondisi habis atau kekurangan ini dapat mengakibatkan kerusakan. Begitu pula ketika tubuh manusia kehabisan materi pokok untuk organ-organ tubuhnya, seperti gula, garam, protein, atau bermacam vitamin. Tubuhnya bisa lelah, letih, sakit, dan rusak.

Namun demikian, energi yang dihasilkan dari reaksi kimiawi terhadap materi-materi yang dipergunakan oleh tubuh manusia itu tidak mungkin dimanfaatkan oleh tubuh tanpa adanya potensi/energi kehidupan. Potensi kehidupan ini muncul dari adanya ruh sebagai rahasia kehidupan (nyawa) dalam diri manusia.

Terdapat banyak gerakan otomatis dalam organ tubuh manusia, seperti jantung, perut, dua paru-paru, dan lain-lain. Semua gerakan tersebut berjalan ketika manusia itu masih hidup. Apabila ia telah mati, organ tersebut tidak aktif lagi dan tubuh pun terhenti dari mengonsumsi makanan. Dengan demikian, potensi kehidupan (thaqatul al-hayawiyah) adalah pengendali utama tubuh beserta apa yang ada dalam tubuh dari berbagai naluri, kebutuhan jasmani, dan idrak (akal). Begitu pula semua yang dihasilkan darinya, seperti gerak, reproduksi, dan tumbuh.

Manejemen Aktivitas (Tanzhimul Amal)

Beragam aktivitas yang dilakukan manusia tidak keluar dari aktivitas-aktivitas untuk memenuhi bermacam naluri dan kebutuhan jasmani. Di antaranya adalah aktivitas yang berupa aktivitas semata, seperti salat, berjalan, berjual beli, dan makan.

Bermacam aktivitas dan segala sesuatu (benda-benda) ini melahirkan berbagai interaksi antarmanusia. Pemenuhan naluri seksual melahirkan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Akad jual-beli menghasilkan interaksi antara penjual dan pembeli. Menyelamatkan orang yang tenggelam memunculkan interaksi antara penolong dan orang yang ditolongnya. Berbagai interaksi antarmanusia ini akan melahirkan berbagai problem yang membutuhkan solusi.

Kalau berbagai problem manusia tidak diselesaikan, kehidupan manusia akan anarkistis dan kacau-balau. Pihak yang kuat akan memperbudak, menindas, dan menzalimi yang lemah. Akibatnya pemenuhan bermacam naluri dan kebutuhan jasmani tidak terpenuhi dengan cara yang benar. Kalau sudah demikian, meratalah ketakutan, pembunuhan, dan konflik di antara manusia.

Apalagi jika pihak yang kuat dan cerdas tidak membatasi untuk menguasai segala sesuatu dan merealisasikan berbagai keinginannya. Mereka tidak mengandalkan kekuatan badan semata, bahkan sampai menggunakan berbagai sarana (wasilah) pembunuhan, seperti berbagai jenis senjata untuk merealisasikan keinginannya.

Setiap manusia harus memuaskan bermacam naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan baik dan benar. Ini agar tidak timbul kontradiksi dengan pemenuhan-pemenuhan orang lain, juga agar bisa hidup mulia. Dengan demikian harus ada standar untuk menghukumi segala aktivitas dan sesuatu (benda) yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Pemahaman Aktivitas dalam Islam (Bagian 1/11)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *