[Mafahim Islamiyyah] Idrak (Bagian 2/5)

[Mafahim Islamiyyah] Idrak (Bagian 2/5)

Penulis: Muhammad Husain Abdullah

Sambungan dari Bagian 1/5

Muslimah News, TELAAH KITAB — C. Indra

Pengindraan terhadap realitas ini lalu berpindah ke otak melalui panca indra atau sebagian indra. Indra penglihatan beserta perangkatnya adalah mata. Indra pendengaran perangkatnya adalah telinga. Indra peraba dengan perangkatnya, yakni kulit. Indra perasa perangkatnya adalah lidah. Adapun perangkat indra penciuman adalah hidung.

Cara mengindra dengan mata bisa sempurna (optimal) melalui cara berikut. Cahaya yang terefleksi dari materi diterima oleh kornea mata dan sampai ke retina. Kemudian retina ini menyampaikannya ke sel penglihatan yang berbentuk arus listrik sehingga cahaya tersebut sampai ke pusat penglihatan, yaitu di otak belakang.

Pada saat itulah manusia bisa melihat gambar yang ada di depannya. Akan tetapi manusia tidak dapat memikirkannya, yakni tidak dapat menghukuminya, kecuali dengan merujuk pada informasi-informasi yang tersimpan sebelumnya pada otak tentang sesuatu yang dilihatnya.

Penglihatan ini terbatas. Ia mempunyai jarak pandang yang tidak dapat dilampauinya. Dengan demikian, manusia tidak akan mampu melihat bakteri, virus, atom, dan bintang yang sangat jauh dengan mata telanjang. Ternyata sesuatu yang tidak dapat kita lihat jumlahnya lebih banyak dari yang dapat kita lihat. Allah Swt. berfirman, “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kalian lihat. Dan dengan apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.” (QS Al-Haqqah: 38—40).

Indra pendengaran adalah salah satu indra yang paling vital. Ini karena dengan indra ini manusia dapat meraih segudang ilmu. Allah Swt. seringkali menyebutnya pada ayat-ayat sebelum kata al-abshor. Allah Swt. berfirman, “Atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan.” (QS Yunus: 31).

“Dan Dia telah menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan….” (QS An-Nahl: 78).

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al-Isra’: 36).

Organ pendengaran adalah telinga. Telinga ini menerima gelombang suara, lalu disampaikan oleh sel pendengaran ke otak. Telinga manusia mampu menangkap suara-suara yang frekuensinya antara 16-20.000 getaran per detik (Hz). Sedangkan suara-suara yang getarannya lebih dari itu, telinga manusia tidak mampu memindahkannya ke otak. Manusia hanya bisa mendengar sebagian kecil suara-suara yang ada di sekitarnya.

Adapun telinga kucing mampu memindahkan suara yang getarannya mencapai 50.000 getaran per detik. Begitu pula telinga kelelawar, bisa memindahkan suara yang getarannya mencapai 120.000 getaran per detik. Bahkan telinga kelelawar bisa menggantikan penglihatannya dalam mengontrol segala sesuatu.

“Dan pada bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang yakin.” (QS Az-Zariyat: 20).

Indra peraba menggunakan sel-sel perasa yang banyak dan tersebar pada seluruh tubuh, terutama pada kulit. Setiap sel mempunyai fungsi tertentu.

Indra peraba mempunyai sel-sel yang tidak bisa berganti menjadi peraba sakit atau menjadi perasa dingin dan panas. Sel-sel perasa sakit ini ada pada kulit. Itulah sebabnya ketika tubuh manusia ditusuk dengan jarum panjang, lalu jarum itu melewati kulit, maka manusia langsung merasakan sakitnya. Akan tetapi ketika jarum itu telah masuk ke dalam pembuluh nadi, maka manusia tidak merasakan sakit di tengah masuknya jarum ke tempat setelah kulit.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dengan ayat-ayat Kami, kelak Kami akan masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa’: 56).

Setiap kali kulit mereka hangus, Allah Swt. mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru supaya sel-sel perasa pada kulit memindahkan kepada mereka rasa sakit akibat terbakar. Adapun hidung beserta mulut, keduanya memindahkan perasa bau dan pengecap dengan jalan reaksi kimia melalui sel-sel penciuman dan sel-sel perasa kepada otak. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah.

Share

One thought on “[Mafahim Islamiyyah] Idrak (Bagian 2/5)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *