Ancaman “Generasi Hilang” di Palestina

Ancaman “Generasi Hilang” di Palestina

Muslimah News, FOKUS — Sebuah video yang beredar di media menunjukan puluhan anak sedang belajar di dalam tenda pengungsian. Tenda yang sempit dan banyaknya anak membuat mereka terpaksa duduk berdesak-desakan di atas tikar tipis. Dengan tas dan alat tulis seadanya, mereka belajar bahasa Arab, matematika, dan sains di ruang kelas darurat di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah.

Sementara itu, anak-anak lainnya belajar di luar tenda karena tidak ada cukup ruangan untuk menampung semuanya. Mereka duduk di kursi sederhana, sisanya duduk di tanah tanpa alas. Sang guru menjelaskan pelajaran dengan papan tulis. Terpancar semangat anak-anak itu untuk mengais ilmu.

Video tersebut menggambarkan kondisi Gaza saat ini. Anak-anak Gaza tengah mengalami ancaman hilangnya generasi karena Zion*s Yahudi telah menghancurkan 352 sekolah di Jalur Gaza.

Pada Sabtu (11-1-2025), Zion*s Yahudi telah memborbardir Sekolah Halwa di Kota Jabalia, Gaza utara yang menjadi tempat penampungan hingga menewaskan delapan orang, termasuk dua anak-anak. Sekolah Halwa merupakan penampungan bagi ribuan pengungsi. Seperti biasa, Zion*s Yahudi berkilah serangan tersebut ditujukan untuk menargetkan Hamas.

Sebelumnya, pada 11 September 2024 Zion*s Yahudi telah menyerang Sekolah Al-Jawni yang dikelola PBB di Gaza. Akibat serangan tersebut, 18 orang tewas, termasuk enam staf Lembaga Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA).

Kelas darurat di pengungsian merupakan upaya muslim Palestina untuk menyediakan pendidikan bagi generasi muda. PBB menyatakan separuh dari anak-anak usia sekolah di Gaza kini melewatkan tahun kedua pendidikan formal mereka secara berturut-turut.

UNRWA juga memperingatkan bahwa perang dapat memundurkan perkembangan pendidikan bagi generasi muda di Gaza hingga lima tahun. Ini memunculkan kekhawatiran adanya “generasi yang hilang” dari anak-anak Palestina yang secara permanen terluka oleh trauma dan keterbatasan.

Nasib Umat Islam Tanpa Junnah

Serangan Zion*s Yahudi telah memutus kesempatan anak-anak Gaza untuk mengenyam pendidikan sebagai bekal untuk membangun peradaban. Miris, dunia dan lembaga internasional seperti PBB, Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan Liga Arab hanya diam meski mengetahui besarnya jumlah korban dan kerusakan sarana pendidikan di Palestina. Tidak ada satu pun pihak, baik negara maupun lembaga internasional, yang mengerahkan militer untuk menghentikan tindakan Zion*s Yahudi menghancurkan sekolah-sekolah di Gaza.

Bahkan, ketika sekolah milik PBB dibombardir Zion*s Yahudi, Juru bicara PBB Stephane Dujarric hanya menyatakan mengutuk semua serangan udara yang menargetkan warga sipil dan fasilitas PBB. Namun, respons PBB hanya berhenti sebatas kecaman. Pada hari-hari berikutnya, Zion*s Yahudi kembali mengulangi aksinya menghancurkan sekolah. Ini membuktikan bahwa dunia bersikap abai terhadap masa depan peradaban Palestina dan Islam.

Sekitar 46.537 muslim Palestina tewas akibat genosida Zion*s Yahudi. Kematian mereka hanya dianggap angka oleh dunia yang kini dikuasai ideologi sekuler kapitalisme. Barat bahkan masih membela Zion*s Yahudi dengan narasi-narasi palsu yang menyesatkan seperti bahwa Zion*s Yahudi hanya membela diri dari serangan Hamas. Juga klaim adanya negeri yang dijanjikan bagi bangsa Yahudi.

Berbekal narasi palsu dan klaim penuh kebohongan ini, Barat menawarkan solusi dua negara yang membagi wilayah Palestina menjadi dua. Yang luas untuk Zion*s Yahudi dan yang sedikit untuk pemilik aslinya, yaitu muslim Palestina.

Barat lantas memaksa dunia untuk menerima solusi tersebut sebagai penyelesaian atas masalah Palestina. Pada saat yang sama, mereka menutup mata atas banyaknya korban di pihak Palestina, terutama anak-anak.

Inilah kondisi umat Islam tanpa junnah (perisai). Muslim Palestina sendirian tanpa pelindung, umat Islam tidak kuasa berjihad membantu saudaranya di Palestina. Ini terjadi karena nasionalisme telah membelenggu negeri-negeri muslim sehingga mereka memandang masalah Palestina sebagai urusan domestik Palestina yang harus diselesaikan sendiri oleh muslim di sana.

Kaum muslim di luar Palestina merasa cukup dengan memberi bantuan sekadarnya. Mereka menutup mata terhadap genosida yang dilakukan Zion*s Yahudi terhadap saudara muslim mereka di Palestina. Mereka seolah-olah tidak tahu bahwa bantuan kemanusiaan mereka ditahan oleh Zion*s Yahudi dan tidak sampai kepada muslim Palestina. Miris, mereka bahkan mengirim banyak kain kafan untuk muslim Palestina seolah-olah memaklumi kematian saudaranya.

Sejatinya, akar masalah di Palestina adalah pendudukan Zion*s Yahudi di bumi Palestina. Oleh karenanya, masa depan anak-anak Palestina hanya akan terselamatkan jika Zion*s Yahudi dikalahkan dan diusir dari sana. Namun, ini bukan perkara mudah karena Zioni*s Yahudi didukung oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Untuk itu dibutuhkan adanya jihad yang  diselenggarakan oleh Khilafah yang menaungi seluruh muslim sedunia. Khilafah akan menjadi junnah bagi kaum muslim Palestina. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)

Imam al-Manawi al-Qahiri menegaskan bahwa al-imam dalam hadis ini yakni al-imam al-a’zham, istilah yang sama diungkapkan oleh Imam ash-Shan’ani yaitu para ulama ketika menyebut al-imâm al-a’zham berkonotasi imâm al-muslimîn, dan imâm al-muslimîn adalah al-khalifah (Irfan Abu Naveed, 5-2-2023).

Untuk mewujudkan tegaknya Negara Khilafah, umat wajib berjuang menyeru penguasa negeri muslim untuk mengirimkan tantara muslim untuk berjihad membebaskan Palestina. Saat ini para tentara muslim sedunia sedang menunggu komando jihad dari seorang khalifah.

Jumlah tentara muslim sedunia sangat besar. Kekuatan persenjataannya juga besar. Gabungan tentara muslim di Timur Tengah saja cukup untuk mengalahkan Zion*s Yahudi hingga mereka lari bersembunyi di balik pohon dan bebatuan, apalagi jika ditambah dengan tentara muslim dari wilayah lainnya. Dengan demikian, bebasnya Palestina membutuhkan tegaknya Khilafah yang akan menjaga umat dari musuh-musuh Allah.

Khilafah Melindungi Generasi

Negara Khilafah akan senantiasa melindungi jiwa kaum muslim, termasuk anak-anak di seluruh wilayah Khilafah. Ini karena jiwa seorang muslim begitu berharga dalam pandangan Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasai 3987, Turmudzi 1455).

Khilafah akan menjadikan pembebasan Palestina sebagai agenda utama sejak hari pertama tegaknya negara kaum muslim ini. Khilafah akan mengirimkan tentara berikut persenjataan lengkap untuk mengalahkan Zion*s Yahudi hingga dipastikan kekalahannya.

Khilafah akan menolak solusi dua negara dan tidak akan mau terikat dengan solusi apa pun yang didiktekan AS melalui lembaga internasional. Sebaliknya, Khilafah akan mengerahkan kekuatan terbaik untuk menyelenggarakan jihad dan mengalahkan Zion*s Yahudi sebagaimana perintah Allah Taala, “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka.” (QS Al-Anfal [8]: 60).

Khilafah akan mengembalikan tanah milik muslim Palestina sesuai haknya. Khilafah juga akan membangun negeri Palestina hingga seluruh warganya bisa hidup dengan aman dan nyaman. Khilafah juga akan menjamin pendidikan berkualitas dan gratis bagi generasi sehingga akan lahir generasi berkepribadian Islam.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam buku Muqaddimah ad-Dustur Pasal 173, “Negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh warga dengan cuma-cuma serta mereka diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dengan fasilitas sebaik mungkin.”

Khilafah akan membangun gedung-gedung sekolah dan melengkapinya dengan laboratorium, perpustakaan, asrama, dan sarana prasarana lainnya sehingga pendidikan bisa terselenggara dengan baik. Khilafah juga akan menyediakan para guru, dosen, tenaga administrasi, dan lainnya untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk menuntut ilmu. Ini sebagaimana amanat Rasulullah saw., “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah no. 224).

Dengan perlindungan Khilafah, anak-anak Palestina akan kembali bisa menuntut ilmu dalam kondisi aman dan ceria karena hilangnya penjajahan atas mereka. Wallahualam bissawab. [MNews/RR-NA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *