Muslimah News, LENSA DAERAH — Risalah Akhir Tahun (RATU) 2024 sukses diselenggarakan di Pontianak, Kalimantan Barat, Ahad (22-12-2024).
Kepada MNews, panitia menyampaikan, agenda ini membahas fenomena pergantian kepemimpinan yang senantiasa melenakan sebagian besar masyarakat, termasuk di Kalimantan Barat. Berbagai model kepemimpinan ditawarkan, janji-janji manis pun diucapkan. Namun, rakyat selalu lupa dengan sistemnya. Hingga akhirnya mereka kembali terjerumus dalam kekecewaan akibat kebijakan-kebijakan zalim yang dikeluarkan para pemimpin pilihannya.
Profil Kepemimpinan
Ustazah Kusuma Dewi dan Ustazah Neng Erlita, pembicara RATU, dengan gamblang dan komparatif menjelaskan tentang profil kepemimpinan sekuler yang disebut populis otoriter dan profil kepemimpinan Islam yang sedemikian ideal.
Keduanya menyampaikan, kesengsaraan yang dirasakan rakyat hari ini di berbagai sektor adalah dampak dari penerapan sistem sekuler yang jauh dari fungsi ri’ayah (pelayan) dan justru pro pada kepentingan segelintir orang.
Sebaliknya, mereka menjelaskan, kepemimpinan Islam mampu membawa umat pada kemuliaan dan level kesejahteraan yang tinggi. Ini karena, lanjut pembicara, para pemimpin Islam memiliki kepribadian yang selayaknya ada pada diri seorang pemimpin, baik dari sisi kepribadian, maupun relasi yang ideal dengan rakyatnya.
Para pembicara menguraikan, dari sisi kepribadian, pemimpin Islam memiliki kepribadian Islam yang kuat. “Sementara itu, dari sisi relasi dengan rakyatnya, mereka melingkupi kehidupan politik dengan nasihat takwa, tidak berani merampas harta milik umum, dan konsisten menerapkan syariat Islam kafah dalam kehidupan bernegara,” jelas para pembicara.
Respons Peserta
Kondisi terebut diamini salah satu peserta, seorang dokter gigi yang telah mengabdikan diri dan ilmunya di puskesmas dan rumah sakit selama enam tahun. Ia menyampaikan keprihatinan atas kebijakan di sektor kesehatan. “Sistem kesehatan hari ini tidak berpihak pada rakyat miskin,” ucapnya.
Ia mengatakan, banyak pasien yang tidak segera mendapat tindakan kesehatan karena tersangkut dengan aturan administrasi yang ruwet. “Meskipun ada program BPJS, banyak pasien yang terabaikan, bahkan nyawa melayang dengan sia-sia, tidak sempat ditolong,” sesalnya.
Selanjutnya, seorang aktivis mahasiswa menyampaikan kegetiran hatinya yang selalu turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi terkait kebijakan pemerintah yang dinilai menyengsarakan rakyat. Suasana haru biru menyelimuti saat ia mengatakan bahwa aksi demi aksi terus dilakukan, tetapi belum menyentuh perasaan penguasa agar senantiasa memperhatikan rakyatnya.
Padahal, menurutnya, amanah jabatan akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah Taala. Ia pun menyimpulkan, jika berharap kepada penguasa saat ini, kekecewaan akan selalu terulang sehingga perubahan itu tidak cukup dari sosok, tetapi lahir dari sistem yang sempurna.
Respons berikutnya disampaikan seorang mubaligah yang menyampaikan perasaan hatinya dengan suara terbata-bata. Ia menyatakan, banyak orang yang tidak layak ikut dalam agenda pemilihan pilkada maupun caleg sehingga yang terpilih adalah para pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri. Ia mempertanyakan, apakah berikutnya harus kuat mendobrak pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri ini?
Semua pertanyaan dan tanggapan peserta tersebut, dijawab para pembicara dengan mengerucut pada satu kesimpulan bahwa kehidupan ideal penuh berkah hanya akan mewujud jika Islam diterapkan secara kafah.
“Hanya saja, penerapan Islam kafah untuk mewujudkan kepemimpinan Islam ini harus diperjuangkan oleh seluruh kaum muslim, termasuk para tokoh yang hadir,” tutup para pembicara. [MNews/Kontributor: Mia]
