[Kabar] Akademisi: Anak-Anak Harus Menguasai Siber dan AI dengan Bimbingan Agama

[Kabar] Akademisi: Anak-Anak Harus Menguasai Siber dan AI dengan Bimbingan Agama

Muslimah News, NASIONAL — Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutannya pada acara Penyerahan DIPA dan Buku Alokasi TKD, Selasa (10-12-2024), menekankan pentingnya generasi muda Indonesia menguasai bidang siber dan kecerdasan buatan (AI).

Hal ini berangkat dari realitas bahwa Indonesia sebagai negara besar yang berpotensi menjadi kekuatan dunia, menghadapi beragam ancaman eksternal. Serangan siber, misalnya, dapat mengganggu stabilitas nasional, melemahkan kepercayaan masyarakat, serta merusak sistem administrasi penting yang mengelola data jutaan warga.

“Jadi kita waspada juga dengan penggunaan teknologi elektronik dan sebagai kita juga rawan gangguan dari teknologi serangan siber. Berjalan untuk itu, kita harus kerja keras menghasilkan anak-anak kita yang menguasai teknologi ini, menguasai siber, menguasai AI,” papar Prabowo.

Bimbingan Agama

Namun, akademisi Umi Sa’adah, S.Kom., M.Kom. mengingatkan, untuk menguasai teknologi tetap membutuhkan bimbingan moral dan agama.

“Di tengah semua potensi kemajuan ini, penggunaan teknologi tanpa bimbingan moral dan agama dapat melahirkan ancaman yang bahkan lebih berbahaya,” ujarnya kepada MNews, Jumat (13-12-2024).

Ia menggambarkan, meningkatnya intensitas serangan siber bukan semata persoalan teknis. Kebocoran data yang terjadi beberapa tahun terakhir—mulai dari ratusan juta data pribadi warga hingga informasi sensitif lain—, ungkapnya, membuktikan bahwa pelaku di balik insiden ini sering kali memiliki penguasaan teknologi tinggi.

“Namun, ketiadaan nilai-nilai moral dan spiritual menyebabkan kemampuan tersebut digunakan untuk merusak, bukan membangun,” ucapnya mencontohkan kasus peretas dengan julukan ‘Bjorka yang mengeklaim membobol dan memperjualbelikan data pendaftaran kartu SIM warga Indonesia pada 2022 dan menciptakan keresahan luas di masyarakat.

Dampaknya, kata Umi, tidak hanya berupa potensi penipuan digital dan pencurian identitas, tetapi juga manipulasi opini publik yang dapat menggoyahkan stabilitas sosial dan politik.

Dalam analisisnya, kecerdasan buatan pun menghadirkan tantangan serupa. “AI bukan lagi tren semata, tetapi fondasi baru dalam memudahkan banyak aspek kehidupan, baik dari sisi meningkatkan presisi diagnosis medis, mengoptimalkan strategi pertahanan, hingga mendorong efisiensi sektor keuangan dan pertanian,” urainya.

Ia mengutip laporan European Union Agency for Cybersecurity (ENISA) pada 2023 yang menunjukkan peningkatan pemanfaatan deep fake—rekaman palsu hasil rekayasa AI—untuk mengaburkan fakta, memprovokasi konflik, dan merusak kepercayaan terhadap institusi resmi.

“Tanpa landasan nilai-nilai spiritual, para penguasa teknologi berisiko menciptakan senjata sosial yang justru mengguncang fondasi peradaban dari dalam,” cetusnya.

Kemajuan Peradaban

Sebaliknya, Umi memaparkan, sejarah Islam membuktikan bahwa perpaduan antara penguasaan ilmu dan kedalaman agama dapat menghasilkan kemajuan yang tidak hanya bermanfaat bagi umat Islam, tetapi juga bagi peradaban dunia.

“Pada masa kejayaan Islam sekitar 750–1258 M, ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibn Al-Haytham, dan Ibnu Sina tidak hanya menguasai sains dan teknologi pada level tertinggi, tetapi juga mendalami agama (tafaqquh fiddin) dengan kukuh,” jabarnya.

Para ilmuwan tersebut memandang pengetahuan bukan sebagai sarana mencari pengakuan atau keuntungan materi, sambungnya, melainkan jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Dalam pandangan mereka, sains adalah alat untuk mendukung negara Khilafah dalam menciptakan kemaslahatan bagi umat,” ucapnya.

Hasilnya, ia menuturkan, peradaban Islam melahirkan fondasi ilmu matematika, optik, dan kedokteran yang masih relevan hingga hari ini serta menjadi bukti abadi bahwa inovasi yang berlandaskan iman dapat membawa manfaat melintasi batas ruang dan waktu.

Dengan demikian, ungkapnya, faktor yang paling mendesak adalah memastikan anak-anak memiliki fundamental agama yang kuat, bukan semata ritual, tetapi agama sebagai panduan komprehensif dalam kehidupan.

“Landasan ini akan mengarahkan mereka saat berhadapan dengan teknologi canggih. Juga memastikan bahwa kecerdasan siber atau AI tidak berujung pada kerusakan moral dan sosial, tetapi justru  diarahkan sebagai rahmat bagi peradaban manusia,” pungkasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *