[Kabar] Banjir Bandang dan Tanah Longsor Menerpa Sukabumi

[Kabar] Banjir Bandang dan Tanah Longsor Menerpa Sukabumi

Muslimah News, LENSA DAERAH — Sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diterjang banjir bandang setelah dua hari berturut-turut hujan mengguyur wilayah itu.

“Selama dua hari terakhir, Kabupaten Sukabumi diguyur hujan deras yang merata di seluruh wilayah. Akibatnya, 20 kecamatan dan 27 desa terdampak bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Deden Sumpeno, Rabu (4-12-2024).

Banjir setinggi lebih dari satu meter setidaknya melanda sejumlah kampung dan desa dalam wilayah Kecamatan Ciemas, Palabuhanratu, Cidolog, Gegerbitung, Tegalbuleud, hingga Kecamatan Pabuaran.

Kecamatan dengan dampak terparah meliputi Sagaranten dan Parbuaran. Akses jalan Provinsi Baros-Sagaranten juga dilaporkan terputus. Kondisi ini menyulitkan pergerakan menuju wilayah Selatan karena hanya tersisa satu jalur melalui Cikembar dan Jampang Tengah.

Selain banjir, dalam waktu bersamaan BPBD Sukabumi juga melaporkan adanya bencana tanah longsor dan pergerakan tanah. Hasil rekapitulasi sementara kejadian bencana untuk bencana tanah longsor terjadi di 13 titik, banjir sembilan titik, angin kencang tujuh titik, dan pergerakan tanah di empat titik, yang tersebar di 22 kecamatan.

Tidak hanya itu, cuaca ekstrem gelombang tinggi yang disertai angin kencang juga menyebabkan bencana di Pantai Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi. Puluhan kapal yang tengah disandarkan di Dermaga Ujunggenteng rusak dan karam pada Selasa (3-12-2024).

“Ada sekitar 63 unit kapal nelayan yang terdampak gelombang tinggi laut selatan Kabupaten Sukabumi tepatnya di Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap,” ujar Ketua Rukun Nelayan Ujunggenteng, Asep Jaka.

Secara terpisah, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menyebut banjir bandang Sukabumi adalah efek dari gangguan cuaca skala sinoptik yang menghasilkan hujan persisten.

“Waspada Jawa Barat Selatan dan Banten (Lebak, Pandeglang), potensi hujan persisten masih tinggi,” tulisnya di akun media sosial X, Rabu (4-12-2024).

Tanggap Darurat Bencana

Pemerintah Kabupaten Sukabumi menetapkan status tanggap darurat bencana sepekan ke depan pascabencana ini.

“Status tanggap darurat bencana ini kami tetapkan selama tujuh hari atau sepekan dan bisa diperpanjang setelah dilakukan evaluasi,” kata Sekda Kabupaten Sukabumi Ade Suryaman, Rabu (4-12-2024).

Selain menetapkan status tanggap darurat, pihaknya juga sudah mendirikan posko tanggap darurat dan penanggulangan bencana di Pendopo Kabupaten Sukabumi.

Potensi Bencana

Terkait bencana yang sering menyapa Indonesia, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Fahmi Amhar mengingatkan, Indonesia memang bukan hanya negeri yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi juga negeri dengan potensi bencana alam yang berlimpah

“Kita berada di persimpangan angin dan arus laut antara Asia–Australia dan antara Hindia–Pasifik, maka bencana banjir, abrasi gelombang pasang, puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan rajin berkunjung,” tuturnya kepada MNews, Kamis (5-12-2024).

Ia menyesalkan, bangsa ini masih belum banyak belajar. “Seharusnya mereka adalah maestro-maestro dunia dalam menghadapi bencana. Seharusnya bangsa-bangsa lain banyak belajar ke Indonesia. Namun yang terjadi, bencana belum benar-benar ditangkal, baru dihadapi sebatas tawakal,” ujarnya miris.

Ia lalu membandingkan dengan Daulah Islam pada masa lalu dalam menangani bencana. “Wilayah Daulah Islam yang amat luas juga bersentuhan dengan berbagai potensi bencana alam. Wilayah sekitar gurun di Timur Tengah dan Afrika Utara amat rawan kekeringan. Lembah sungai Nil di Mesir atau sungai Eufrat-Tigris di Irak amat rawan banjir. Selain itu kadang-kadang wabah penyakit yang hingga abad 18 belum diketahui pasti penyebab maupun obatnya datang menghantam, misalnya cacar (variolla) atau pes. Namun toh Daulah Islam tetap berdiri tegak lebih dari 12 abad,” urainya.

Hal itu, menurutnya, karena penguasa Daulah Islam menaruh perhatian yang besar agar tersedia fasilitas umum yang mampu melindungi rakyat dari berbagai bencana.

“Mereka membayar para insinyur untuk membuat alat dan metode peringatan dini, mendirikan bangunan tahan bencana, membangun bunker cadangan logistik, hingga melatih masyarakat untuk selalu tanggap darurat,” jelasnya.  

Para pemimpin dalam Daulah Islam, lanjutnya, juga orang-orang yang terlatih dalam tanggap darurat. “Mereka orang-orang yang tahu apa yang harus dikerjakan dalam situasi normal maupun genting,” pungkasnya.  

Semoga negara ini banyak belajar dari Daulah Islam dalam memitigasi bencana. Segenap tim redaksi MNews ikut belasungkawa atas musibah yang menimpa berbagai wilayah di Sukabumi. Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran kepada semua pihak yang terdampak. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *