[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 15/22)

[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 15/22)

Sambungan dari Bagian 14/22

Muslimah News, TELAAH KITAB — Peristiwa ini merupakan pertolongan bagi Rasul yang telah dibentangkan oleh Allah Taala. Ayat tersebut mengandung kabar gembira mengenai keberhasilan dakwah,

“Orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al Ahqaf: 32).

Benar, berita gembira ini berpengaruh nyata di dalam jiwa Rasul saw. sehingga beliau berencana kembali ke Makkah dan menyampaikan dakwah dengan kesungguhan baru dan perhatian yang besar. Pada saat itu, Zaid bin Haritsah bertanya, “Bagaimana Anda masuk kepada mereka (masuk ke Makkah), sementara mereka telah mengusir Anda?”

Rasul menjawab, “Zaid, sesungguhnya Allah telah menjadikan atas kesulitan yang engkau lihat itu suatu solusi dan jalan keluar. Sesungguhnya Allah Maha Menolong agama- Nya dan Maha Memenangkan Nabi-Nya.”

Kemudian beliau berjalan. Ketika sudah dekat Makkah, beliau berdiam di Gua Hira’ dan mengutus seorang laki-laki dari Bani Khuza’ah kepada Akhnas bin Syariq agar melindungi beliau. Akhnas berkata, “Sesungguhnya aku ini sekutu (Quraisy) dan sekutu tidak bisa melindungi.”

Rasul lalu mengutus orang kepada Suhail bin Amr. Kemudian, Suhail berkata, “Sesungguhnya Bani Amir tidak akan melindungi Bani Ka’ab.”

Rasul saw. kemudian mengutus orang kepada Muth’im bin Adi. Muth’im menyetujuinya dan ia mengutus utusan kepada Rasul (memberitahukan) agar beliau masuk. Akhirnya Rasul masuk kembali ke Makkah bersama Zaid bin Haritsah. Keduanya masuk ke Makkah dan masuk ke Masjidilharam.

Muth’im berdiri di atas tunggangannya dan menyeru, “Hai sekalian orang Quraisy, sungguh aku telah memberi perlindungan kepada Muhammad. Oleh karena itu, janganlah salah seorang dari kalian berbuat sekehendaknya kepada Muhammad.”

Beliau berhenti di dekat hajar aswad, lalu menciumnya dan mengerjakan salat dua rakaat. Kemudian beliau pulang ke rumah beliau, sementara Muth’im dan anak-anaknya terus bersiaga dengan senjata hingga beliau masuk rumah. Dengan ini perjalanan dan keluarnya beliau ke Thaif telah selesai.

Setelah Rasul saw. kembali ke Makkah, beliau melanjutkan dakwah kepada Allah dan menawarkan dirinya kepada berbagai utusan dan kepada banyak kabilah. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang menjawab seruan Rasul. Begitu juga beliau menawarkan diri beliau kepada individu-individu dan hanya sekelompok kecil orang menjawab seruan dakwah beliau.

Di antaranya adalah Suwaid bin Shamid, Iyas bin Muadz, Abu Dzar al-Ghifari, Thufail bin Amr ad-Dausi, dan Dhimad al-Azdi. Sebagaimana Rasul saw. menyampaikan dakwah beliau, orang-orang musyrik juga menyampaikan penyerangan, pelecehan, dan penentangan kepada Rasul dan para sahabat beliau. Mereka juga menzalimi Rasul saw. dan para sahabat.

Sekalipun demikian, Rasul berhasil bertemu dengan kelompok yang terdiri dari enam orang pemuda Yatsrib yang semuanya berasal dari Khazraj. Ini terjadi di Bukit Mina pada tahun kesebelas kenabian. Rasul duduk bersama mereka, menjelaskan Islam kepada mereka, dan mengajak mereka pada keimanan.

Beliau memperdengarkan ayat Al-Qur’an yang mulia kepada mereka. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Sesungguhnya ia, demi Allah, adalah seorang nabi yang diceritakan oleh orang Yahudi. Oleh karena itu, jangan sampai orang Yahudi mendahului kalian dan bersegeralah kalian menerima dakwahnya.”

Kemudian mereka masuk Islam dan kembali ke Yatsrib mengemban risalah Islam. Mereka berharap dakwah ini akan menjadi sebab penghentian peperangan di antara mereka, juga agar Allah menyatukan mereka semua di tangan Rasul-Nya yang tepercaya.

Rasul saw. kemudian diperjalankan (isra) dari Masjidharam ke Masjidilaqsa di Baitulmaqdis. Dari sini beliau mikraj ke langit yang tinggi dan melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung. Kemudian beliau kembali ke Makkah pada malam yang sama.

Hal itu merupakan penghormatan terhadap beliau setelah beliau menerima perlakuan buruk di Thaif, juga penghormatan kepada beliau sehingga jiwa beliau merasa tenteram. Isra dan mikraj ini disebutkan di dua tempat di dalam Al-Qur’an, yaitu di surah Al-Isra dan An-Najm.

Allah Swt. berfirman, “Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra: 1).

“Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi), lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Jadi apakah kalian (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS An-Najm: 8—18). [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Periode Makkah (Bagian 15/22)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *