[Kabar] Intelektual Muslimah Banua: Menyelesaikan Persoalan Palestina Harus Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah

[Kabar] Intelektual Muslimah Banua: Menyelesaikan Persoalan Palestina Harus Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah

Muslimah News, LENSA DAERAH – Kajian Intelektual Muslimah bertema “Konflik Palestina & Mencari Solusi Tuntas”, Sabtu (9-11-2024), diselenggarakan di Banua, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Puluhan intelektual muslimah tampak hadir secara luring dan puluhan lainnya bergabung melalui platform daring.

Antusiasme tampak jelas, baik dari peserta yang mencatat dengan serius maupun dari interaksi aktif di ruang diskusi daring. Pembahasan terkait persoalan Palestina yang menjadi isu global ini terasa hangat, penuh semangat, dan mengundang perhatian para intelektual untuk membahasnya dari perspektif Islam ideologis.

Sejak pembukaan, aura kajian ini terasa berbeda. Moderator menyampaikan fakta memilukan tentang kondisi terkini di Gaza. Ratusan anak menjadi korban, ribuan rumah hancur, dan dunia internasional hanya menyaksikan tanpa tindakan berarti. Dalam suasana hening yang penuh keprihatinan, narasumber pertama membuka pembahasannya dengan menegaskan bahwa penderitaan Palestina bukan sekadar konflik politik, melainkan ujian keimanan bagi seluruh umat Islam.

Mengapa Masih Diam?

Ia mempertanyakan, “Mengapa kita masih diam? Di depan mata kita, Zion*s melakukan genosida terhadap saudara-saudara kita di Palestina. Ini bukan tragedi baru, tetapi sudah berlangsung selama puluhan tahun.”

Namun, lanjutnya, solusi tuntas bagi Palestina tidak akan datang dari lembaga internasional, seperti PBB yang telah terbukti menjadi bidan kelahiran Israel. “Sebaliknya, umat Islam harus berpijak pada Al-Qur’an dan Sunah sebagai panduan untuk menyelesaikan persoalan ini,” ucapnya.

Membela Palestina, jelasnya, bukan sekadar aksi kemanusiaan, tetapi kewajiban ideologis. “Kita harus mendidik generasi agar memahami sejarah Palestina, mengenali siapa musuh kita, dan menanamkan nilai-nilai perjuangan yang diajarkan Al-Qur’an,” tegasnya.

Narasumber selanjutnya, aktivis muslimah Munajah Ulya, S.H., M.H. menyampaikan pemaparan yang tidak kalah menggugah. Ia memulai dengan mengutip surah Al-Baqarah ayat 120 yang menegaskan bahwa Yahudi tidak akan pernah rela kepada umat Islam hingga mereka mengikuti agama mereka.

“Yahudi dikenal sebagai kaum yang manipulatif. Mereka mengubah ajaran para nabi, mengkhianati kebenaran, dan kini mengeklaim Palestina sebagai tanah yang dijanjikan. Padahal, Palestina adalah tanah kaum muslim, bukan milik mereka,” ungkapnya tajam.

Ia merunut berdasarkan sejarah bahwa konflik ini telah dirancang sejak lama melalui agenda Zion*sme sejak Perjanjian Sykes-Picot hingga Deklarasi Balfour.

Pada sesi diskusi, terasa hidup dan hangatnya suasana dengan ajuan-ajuan pertanyaan, termasuk di ruang virtual. Para peserta tampak terhenyak atas kedalaman informasi yang dipaparkan.

Apalagi, ketika Munajah membahas langkah-langkah konkret yang bisa diambil umat Islam untuk membela Palestina. Ia menyebutkan pentingnya boikot ekonomi, edukasi generasi, hingga donasi dan doa. Namun, ia menekankan bahwa semua ini hanyalah langkah awal.

“Solusi tuntas hanya bisa dicapai dengan kembalinya junnah (perisai) umat Islam, yaitu Khilafah yang akan memimpin umat dalam jihad untuk membebaskan Palestina,” tegasnya yang disambut pekikan takbir dari peserta yang hadir secara luring, sedangkan di kolom komentar daring penuh dengan dukungan.

Ia mengingatkan bahwa setiap nyawa seorang muslim sangat berharga di hadapan Allah. “Jika kita membiarkan saudara-saudara kita di Palestina menderita tanpa bantuan, bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah?” tanyanya membuat banyak peserta terdiam dalam perenungan mendalam karena tergugah pemikiran dan semangatnya untuk melakukan aksi nyata.

Perjuangan Kita Semua

Sebagai penutup diskusi, moderator menegaskan, perjuangan Palestina adalah perjuangan kita semua. “Dengan keyakinan kepada janji Allah, kita akan melihat kemenangan umat Islam sebagaimana yang telah Allah janjikan,” ujarnya.

Di akhir kajian, seorang peserta menyimpulkan bahwa pada acara ini tidak hanya belajar tentang Palestina, tetapi juga diingatkan tentang identitas kaum muslim sebagai umat yang satu. “Ini bukan sekadar kajian, tetapi panggilan untuk kembali kepada Islam sebagai solusi,” ungkapnya.

Kajian ini dinilai menjadi momentum penting bagi muslimah Banua untuk mengambil peran lebih besar dalam perjuangan membela Palestina. Dengan antusiasme peserta yang tinggi, tampak semangat dakwah ideologis Islam makin mengakar kuat sebagai langkah menuju solusi hakiki. Acara ditutup dengan penekanan agar kaum muslim terus bergerak dan “berisik” tentang Palestina. [MNews/Kontributor: Mah]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *