[Telaah Kitab] Kebangkitan Islam (Bagian 1/2)

[Telaah Kitab] Kebangkitan Islam (Bagian 1/2)

Muslimah News, TELAAH KITAB — Pengertian kebangkitan (ash-shahwah) yang langsung terlintas di dalam benak adalah kata shaha-yashhu, yakni bangun dari tidur. Akan tetapi, tatkala kita membicarakan kebangkitan Islam (ash-shahwah al-Islâmiyyah), maka maknanya benar-benar berbeda meskipun umat ini sedang dalam kondisi terlena dari agamanya. Keadaan umat ini bagaikan keadaan orang yang sedang tidur dan terlena dari kesadarannya.

Realitasnya, kedua pengertian tersebut memiliki banyak kedekatan makna. Oleh karena itu, penjelasan makna ash-shahwah (kebangkitan) secara bahasa dan istilah sangat bermanfaat. Ini dapat menjadi penghantar untuk menjelaskan maksud dari tulisan buku ini dalam mewujudkan kebangkitan.

Dalam kamus Al-Muhith dinyatakan, ash-shahwah (kebangkitan) adalah lenyapnya mendung atau mabuk, meninggalkan masa kanak-kanak dan kebatilan. Dalam Mukhtar as-Shihah dinyatakan, shahâ min sukrih shahw[an] (Ia benar-benar bangkit [sadar] dari mabuknya) dan as-sukrán shah[in] (Orang yang mabuk telah bangkit/telah sadar).

Ash-Shahwu juga berarti lenyapnya mendung. Ashhat as sama’ maknanya mendung lenyap dari langit sehingga langit itu shahiyyah (bangkit/jernih). Dikatakan ashhíná, yakni langit telah bangkit/jernih bagi kita.

Dalam Lisân al-‘Arab dinyatakan bahwa ash-shahw[u] adalah makin siang, sembuh dari kecintaan, tidak terdengar tentangnya, kecuali sadar dari mabuk. Dikatakan, shahwán semisal dengan sukrån. Dikatakan pula, Shahá qalbuhu wa shahâ as-sukrân min sukrih yashhû shahw[an] wa shuhuw[an] fa huwa shah[in] (Akalnya telah sembuh, ia benar-benar telah sembuh dari mabuknya sehingga ia menjadi orang yang bangkit).

Ashha berarti lenyap mabuknya. Orang Arab menyamakan mabuk dengan as-shahwah, yakni antara berakal dan tidak berakal. Di antara contohnya, ia ingin mengambilnya antara as-sukrah dan as-shahwah. Ini misalnya, seorang pelajar yang merasa bodoh, sementara ia mengetahui.

Dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah dinyatakan, sad dan ha serta huruf mu’tal yang asalnya sahih menunjukkan tersingkapnya sesuatu. Dari sini berarti ash-shahw[u] (bangkit) adalah lawan dari as-sukr (mabuk). Dikatakan, shaha yashhu as-sukran fahuwa shah[in] (shaha, yakniorang mabuk yang telah bangkit (hilang mabuknya), maka ia bangkit) dari bab ashhat as-sama’ fa hiya shahiyyah (Langit telah bangkit, maka ia jernih).

Abi Hatim berkata, “Orang awam menduga bahwa as-shahw [u] tidak terjadi, kecuali dengan lenyapnya mendung dan tidak yang demikian. Sesungguhnya tidak lain ash-shahuw adalah lenyapnya kedinginan, tercerai-berainya mendung, dan yang cacat dari asal ini adalah tempat jernih (bangkit), seperti gelas untuk minum.

Di dalam Mu’jam al-Wasith I cetakan II hlm 528 dinyatakan, Shaha an-Nâ’im Shahw[an] (Orang yang tidur itu benar-benar bangun dari tidurnya), shaha as-Sukrân wa nahwuh (Orang yang mabuk dan semisalnya itu telah sadar), artinya sembuh. Dikatakan, Shahâ al-Qalbu (hati bangkit), artinya bangun dari hawa nafsu atau kealpaan (keterlenaan). Sedangkan Shahat as-Sama’ artinya tersingkap awan.

Bisa juga dikatakan, Shahá al-yawm wa shaha as-syams (Hari cerah dan matahari meninggi), Ashhâ fulân[an] (Ia membangkitkan si fulan), artinya membangunkannya dan menjadikannya sadar dari pingsannya atau mabuknya.

Shaha dalam bahasa Arab—jika untuk menyifati manusia— juga diartikan dengan kesadaran, kesembuhan, dan kebangunan. Hal itu diketahui dari lawan katanya, yaitu tidur atau mabuk. Dikatakan, Shahá min nawmih aw min sukrih (Ia bangkit dari tidurnya atau sadar dari mabuknya). Maknanya adalah bangkit/sadar. Dengan kata lain, kesadarannya telah kembali, padahal sebelumnya lenyap dari dirinya sebagai akibat dari sesuatu yang alami, yaitu tidur, atau suatu rekayasa, yaitu mabuk.

Ash-Shahwah (kebangkitan) pada asalnya untuk menyatakan kekuatan kesadaran pada diri manusia yang diungkapkan dengan hati atau kesadaran atau akal. Sesuatu yang membuat limbung umat adalah sama dengan sesuatu yang membuat limbung individu, yaitu hilangnya kesadaran, baik jangka panjang maupun pendek akibat tidur. Ini juga bermakna terlenanya umat dari dalam diri umat sendiri atau dari luar akibat tidur yang dipaksakan kepadanya oleh pihak lain.

Jadi ash-shahwah (kebangkitan) artinya adalah kembalinya kesadaran dan kewaspadaan umat yang sebelumnya telah hilang. Inilah pengertian etimologis dari kata bangkit dan kebangkitan. [MNews/RY-YG]

Sumber: Muhammad Said Abu Za’rur, Seputar Gerakan Islam.

Share

One thought on “[Telaah Kitab] Kebangkitan Islam (Bagian 1/2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *