Muslimah News, FOKUS — Penjajahan Zion*s terhadap Palestina masih terus berlangsung dan kembali menelan korban. Anak-anak sekolah tidak berdosa pun menjadi target serangan. Rusaknya sekolah-sekolah dan banyaknya guru yang syahid membuat anak-anak Palestina tidak lagi mendapatkan pendidikan, sarana prasarana, serta kurikulum yang layak. Menurut laporan Kementerian Pendidikan Palestina yang dirilis Selasa (29-10-2024), serangan brutal Zion*s terhadap Palestina sejak 7 Oktober 2023 telah mengakibatkan kematian lebih dari 11.825 siswa. Sejumlah mahasiswa pun dibunuh tidak hanya di Gaza tetapi juga di Tepi Barat.
Sementara itu, serangan pesawat tanpa awak Zion*s terhadap sebuah klinik di Gaza utara tempat anak-anak menerima vaksinasi polio melukai enam orang, termasuk empat anak-anak. Namun tentara Zion*s membantah bertanggung jawab atas peristiwa itu.
Kampanye vaksinasi polio yang saat ini dilakukan bertujuan untuk menjangkau sekitar 119.000 anak di wilayah utara dengan dosis kedua vaksin polio oral. Vaksinasi ini terancam batal karena terbatasnya akses. Mereka mengatakan 90% anak-anak di setiap komunitas harus divaksinasi untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Kampanye tersebut diluncurkan setelah kasus polio pertama dilaporkan terjadi di Gaza dalam 25 tahun terakhir menimpa seorang anak laki-laki berusia 10 bulan, yang kakinya kini lumpuh. WHO mengatakan kasus kelumpuhan menunjukkan kemungkinan adanya ratusan orang lagi yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala.
Kondisi ini menunjukkan bahwa genosida yang entitas Yahudi lancarkan benar-benar mengancam kehidupan anak-anak Palestina. Masa kecil yang harus mereka lewati dalam situasi konflik membuat kebutuhan dasar mereka sulit terealisasi. Sayang, dunia seolah-olah bungkam melihat hal ini.
Dalam pidatonya di hadapan Komite Tiga Majelis Umum PBB, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, menyebutkan bahwa hancurnya Palestina hari ini tidak lain karena kurangnya “empati” dunia meski korban syahid yang dilaporkan telah mencapai 43.391 orang dan 102.347 orang terluka sejak peristiwa 7 Oktober 2023 tersebut.
AS Mendukung, Penguasa Muslim Bungkam
Kurangnya empati dunia adalah indikasi kuat bahwa kecaman hingga diplomasi tidak akan pernah memberi solusi bagi Palestina. Berbagai perundingan bukanlah aksi nyata sesungguhnya untuk membebaskan Palestina. Semua itu telah terbukti tidak mampu menghilangkan penjajahan entitas Yahudi atas Palestina hingga hari ini.
Pada saat yang sama, AS dengan serius terus memberikan dukungan kepada Zion*s dalam melakukan perampasan wilayah Palestina. Laporan terbaru dari The National Interest bahkan membahas miliaran dolar uang yang bersumber dari pembayaran pajak Amerika dikirimkan kepada Zion*s untuk membiayai perang yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, keputusan pemerintahan Biden untuk mengirim sistem pertahanan rudal THAAD dan 100 tentara AS untuk membantu mengoperasikannya menandakan meningkatnya dukungan AS terhadap Zion*s dalam perang multifront-nya. Sebagaimana laporan The National Interest pada hari Jumat (1-11-2024), bahwa biaya yang terkait dengan dukungan ini meningkat dengan cepat dan pengerahan pasukan AS untuk membantu Zion*s meningkatkan risiko keterlibatan langsung AS dalam perjuangan tersebut.
Keseriusan AS dalam membantu entitas Yahudi tentu bukan tanpa alasan. Menilik sejarahnya, keberadaan entitas Yahudi di Palestina tidak lain merupakan rencana besar AS di Timur Tengah. Ini adalah rumusan strategi AS setelah meredupkan pengaruh para pesaingnya di Timur Tengah seperti Inggris dan Perancis.
Sikap AS dan Yahudi yang bahu-membahu menghancurkan Palestina justru kontras dengan sikap penguasa di negeri-negeri muslim. Mereka seakan-akan buta dan tetap mati rasa melihat pembantaian kaum muslim di Palestina. Saat AS bergerak membantu Yahudi dengan memasok persenjataan ke sana, penguasa negeri-negeri muslim sama sekali tidak tergerak hatinya untuk memobilisasi pasukan militernya untuk berjihad membebaskan Palestina.
Seakan-akan tidak belajar dari kesepakatan-kesepakatan sebelumnya, para pemegang kekuasaan di negeri muslim itu malah terus membebek pada solusi-solusi yang dirancang AS dan Zion*s. Dari krisis Palestina ini kaum muslim seharusnya bisa memahami bahwa banyaknya tentara yang tersebar di berbagai negeri-negeri muslim sama sekali tidak menggentarkan Yahudi. Peralatan militer yang canggih, tank-tank lapis baja yang mereka miliki seakan-akan tidak berguna jika tidak bergerak dari baraknya untuk menggempur Yahudi.
Sungguh ironi, kaum muslim Palestina tetap sendiri. Sedangkan kaum muslim lainnya bungkam menyaksikan pembantaian saudara mereka, mereka diam di tempat. Kaki mereka terikat sekat geografis bernama nation state. Sebaliknya, saudara muslim di Palestina tidak ubahnya berada di dalam penjara. Entitas Yahudi menggempur mereka, mengisolasi, dan menutup pintu masuknya bantuan.
Racun Nasionalisme
Sungguh, nasionalisme telah membuat penguasa negeri-negeri muslim jumawa dengan paham kebangsaan masing-masing. Memanfaatkan emosional geografis tersebut, kaum kafir penjajah berhasil mengotak-kotakkan kaum muslim ke berbagai negara bangsa. Mereka hidup dalam batas-batas wilayah dan enggan memahami kondisi satu sama lain dengan alasan “itu bukan urusan kita”.
Kaum muslim yang tidak menyadari adanya upaya pecah belah ini, hidup dan berkembang dengan spirit nasionalisme, padahal nasionalisme adalah awal lumpuhnya perasaan dan pemikiran terhadap masalah di dunia Islam, termasuk Palestina.
Barat menghembuskan nasionalisme di wilayah Arab. Mereka mengangkat isu Pan Islamisme dan Pan Arabisme. Langkah ini terus mereka lakukan hingga satu per satu negeri-negeri muslim saat itu memisahkan dirinya dari pusat pemerintahan Khilafah Islamiah. Pada akhirnya, yang tersisa hanya Turki sebagai pusat pemerintahan.
Begitu pula wilayah kekuasaan Islam yang makin mengecil. Hal ini diperparah dengan banyaknya pengkhianat di tubuh kaum muslim. Pada saat itulah kaum kafir dengan mudahnya melenyapkan kekuasaan Islam yang telah berdiri selama kurang lebih 14 abad lamanya. Adapun Turki, kini menjadi negara sekuler yang juga tidak mampu memberi solusi nyata bagi Palestina. Sungguh menyedihkan!
Terlihat jelas bahwa nasionalisme adalah racun yang menggerogoti persatuan kaum muslim. Nasionalisme ini pula yang membuat kaum muslim senantiasa tersandung ketika hendak bangkit kembali meraih predikatnya sebagai umat terbaik. Nasionalisme menjadikan batas teritorial seolah-olah lebih sakral daripada ikatan akidah, padahal Islam menyerukan persatuan, bukan untuk bercerai-berai.
Rasulullah saw. mengibaratkan kaum muslim laksana satu tubuh. Beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).
Perasaan cinta terhadap tanah kelahiran pada dasarnya wajar, sebagaimana Rasulullah saw. pun selalu merindukan kota kelahirannya, Makkah. Hanya saja, menjadikan kecintaan itu sebagai spirit untuk bermusuhan dan berpecah belah tanpa memperhatikan ikatan akidah, itu sama sekali tidak ada nilainya di mata syariat.
Atas dasar itulah, Rasulullah saw. sendiri tidak menjadikan ikatan ashabiyah sebagai pengikat antara sesama muslim. Dari Zubair bin Muth’im, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang yang mengajak kepada ashabiyah, berperang karena ashabiyah dan mati karena ashabiyah.” (HR Abu Dawud). Ashabiyah inilah yang dikenal dengan istilah nasionalisme.
Dengan demikian, Islam sendiri sesungguhnya tidak mengenal nasionalisme. Artinya, nasionalisme lahir dari sistem sekuler kapitalisme yang memadamkan makna persaudaraan karena iman dan Islam. Jelas, nasionalisme tidak hanya membajak ikatan akidah para penguasa muslim, tetapi juga membuat mereka rela menunjukkan loyalitasnya pada penjajah demi kedudukan dan kekuasaan.
Bersatu Membebaskan Palestina
Persoalan Palestina tidak akan pernah tuntas jika penguasa-penguasa muslim hanya sibuk dengan konferensi, deklarasi, pertemuan organisasi-organisasi Islam, melancarkan protes, mengirim bantuan kemanusiaan, kritik sana-sini, apalagi dengan mengusung konsep moderasi beragama.
Perkara mendasar yang menyebabkan kaum muslim tidak mampu membebaskan Palestina adalah adanya perbedaan kepentingan dan ketakadaan visi yang sama. Mereka masing-masing sibuk dengan masalah dalam negerinya seraya mengesampingkan krisis Palestina. Kendati ada Iran, Irak, Mesir, dan Lebanon yang berperang dengan Yahudi, tetapi hal itu dalam rangka membela kepentingan negerinya masing-masing dan bukan untuk membebaskan Palestina.
Bencana yang dihadapi umat Islam di seluruh dunia, termasuk Palestina, bermula dari kebijakan kolonial berupa pendudukan Yahudi pascatumbangnya Khilafah Islamiah. Kebijakan politik Barat yang memecah belah umat Islam melalui Perjanjian Sykes Pycot setelah Perang Dunia II berjalan secara sistemis menghancurkan Khilafah, lalu mereka mendirikan negara Yahudi berdasarkan Deklarasi Balfour.
Dengan demikian, pembebasan Palestina sangat erat kaitannya dengan tegaknya Khilafah. Sejarah Palestina menunjukkan bahwa pendudukan Yahudi ini tidak akan terjadi ketika institusi Khilafah eksis dan bertugas melindungi negeri-negeri muslim. Terbukti pascaruntuhnya Khilafah, racun nasionalisme berhembus di tubuh umat Islam, sehingga mulailah saat itu para pemimpin Arab dan negeri muslim lainnya bungkam atas pencaplokan entitas Yahudi di Palestina.
Umat Islam seharusnya tidak ikut dalam arahan Barat mengenai solusi krisis Palestina. Sebaliknya, umat Islam harus mampu menggagas sendiri solusi permasalahan Palestina dan tidak boleh berkompromi dengan para penjajah. Umat pun tidak boleh tunduk pada ketentuan yang mereka sebut sebagai hukum internasional. Sebabnya, semua itu hanyalah mitos dan kebohongan global. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian mencari penerangan dari api kaum musyrik.” (HR Bukhari, Ahmad, dan An-Nasa’i). Hadis ini berisi larangan bagi umat Islam untuk mengadopsi solusi kaum kafir penjajah atas masalah mereka.
Masalah Palestina juga tidak akan selesai dengan membentuk aliansi dengan orang-orang kafir melawan aliansi AS-Zion*s, seperti yang Erdogan lakukan dengan mengajak Presiden Putin melawan mereka. Ini karena Rusia adalah wujud kafir penjajah lain yang sama-sama bersyahwat keserakahan terhadap negeri-negeri Islam. Untuk itu, langkah kaum muslim haruslah menyeru para penguasa muslim agar memobilisasi pasukan militer mereka untuk berjihad melawan Zion*s.
Umat Islam justru harus bersatu dan bangkit mendobrak sekat-sekat geografis bernama nasionalisme yang selama ini membelenggu kaki dan tangan mereka. Umat harus menyadari bahwa mereka saat ini mereka terjajah secara pemikiran hingga tidak bisa berpandangan nyata untuk menggagas solusi tuntas atas pendudukan entitas Yahudi di Palestina.
Umat harus menyadari hal ini secara terus-menerus sehingga terbentuk kesadaran kolektif di tengah-tengah umat. Selanjutnya, umat bersama-sama berjuang untuk menegakkan institusi Khilafah yang secara nyata akan memberi solusi hakiki untuk membebaskan Palestina. Dengan tegaknya institusi ini, khalifah akan memobilisasi pasukan militer kaum muslim, dan mengarahkan tank-tank tangguh umat Islam pada entitas Yahudi melalui seruan jihad fii sabilillah. Sungguh kebutuhan umat atas institusi Khilafah adalah perkara penting dan mendasar untuk memerdekan negeri-negeri muslim dari segala bentuk penjajahan kaum kafir. Wallahualam bissawab. [MNews/JM-NA]
