[Kabar] Panasnya Panggung TMM 2024 di Kota Minyak, Saatnya yang Muda Berjuang untuk Islam Kafah

[Kabar] Panasnya Panggung TMM 2024 di Kota Minyak, Saatnya yang Muda Berjuang untuk Islam Kafah

Muslimah News, LENSA DAERAH — Antusias tidak terbendung tampak dari peserta yang hadir pada panggung spektakuler Temu Muslimah Muda (TMM) 2024 yang diadakan secara hibrida oleh Jaringan Aktivis dan Lembaga Muslimah Muda (JAM) for Islam Kaffah bertajuk “The Next Level Activism: We Aspire, We Engage, & We Stand for Islam Kaffah”, Ahad (27-10-2024), salah satunya di Kota Minyak, Balikpapan.

Acara khas yang berisikan para pemudi ini dihadiri sekitar 17 ribu peserta yang terdapat di seluruh penjuru Indonesia dari kalangan pemuda dan aktivis. Adapun di panggung Balikpapan, dihadiri sekitar delapan puluh peserta dari kalangan pelajar tingkat sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga mahasiswi dan aktivis muda.

Acara ini menyeru seluruh pemuda untuk menaikkan level idealismenya sebagai bagian dari kepedulian terhadap masalah yang ditimbulkan oleh demokrasi.

Narasumber yang dihadirkan bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari lintas negara, seperti Amerika Serikat dan Palestina, serta narasumber dari Indonesia, yaitu aktivis dan influencer dakwah muda Raden Roro Ranty dan aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah.

Sebelum acara inti dimulai, peserta TMM 2024 di Kota Balikpapan disuguhkan dengan penampilan stand up dakwah oleh aktivis muda Aira yang masih duduk di bangku SMP.

Ia menggambarkan keprihatinan kondisi generasi  muda saat ini, salah satunya moderasi beragama dalam kehidupan.

“Maraknya pacaran beda agama, salam lima agama, hingga generasi muda yang mendalami Islam dikatakan radikal, esktrim, dan menakutkan. Tapi kalau dibilang radikal, radikal itu artinya berpegang teguh, berprinsip. Bukankah para Sahabat Rasul dulu juga orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran? Ya, tetap pede-lah, kagak insecure tuh,“ ujar Aira.

Tidak hanya itu, secara apik, ia menuturkan persoalan buka-pakai hijab yang menjadi tren di kalangan Gen Z. “Teringat fyp TikTok. Ada artis yang awalnya berhijab trus lepas, eh ujungnya log out dari Islam. Semua karena dikecewakan cinta. Sakit hati sama manusia boleh sih, tapi masa sampe agama ditinggalin? Enggak takut mbak, entar stay di neraka? Jangan ya dek ya,“ ujar Aira seraya mengikuti nada viral TikTok.

Tidak kalah spektakuler, penampilan story telling dua aktivis mahasiswi Yunita dan Nurini dengan menggambarkan fakta-fakta kehidupan yang sekuler (baca: bebas) di kalangan pemuda, mulai dari pergaulan hingga berujung kepada masalah mental Gen Z dan bunuh diri.

Mereka menerangkan, kehidupan tanpa agama hanya akan menjadikan hidup ini kosong, makin jauh dari agama, manusia makin kehilangan arah.

Namun, realitas berbicara, jika pemuda yang ingin menjalankan agama justru dianggap terlalu kaku. “Padahal, menjadi baik dan menjalani agama bukanlah sekadar pilihan, tetapi kebutuhan” tambahnya, diiringi latar instrumen melankolis.

Lanjutnya, mereka mengajak para audiens untuk kembali mengingat perjuangan Rasulullah saw. yang memberikan contoh penerapan Islam kafah dalam bermasyarakat dan bernegara. “Pada zaman Rasulullah saw. tidak ada sistem demokrasi dan demokrasi bukanlah berasal dari Islam,” urai mereka.

Mereka menyatakan, semua peluh yang tercurah dari keringat dan luka Rasulullah saw. dan para Sahabat menjadi saksi bahwa Islam harus dijaga dan perjuangan untuk menerapkannya adalah kewajiban bagi setiap muslim.

“Kita tidak perlu merasa terasing jika dekat dengan agama. Justru memperjuangkannya adalah kebutuhan agar kehidupan tidak lagi dihancurkan oleh demokrasi yang merusak,” tegas mereka.

Jadi, mereka mengingatkan agar pemuda yang menjadi tonggak peradaban generasi harus memulai aksi nyata menerapkan persatuan umat dalam bingkai Khilafah.

Beberapa pertanyaan diajukan dalam acara TMM 2024 Spesial Kota Balikpapan, seperti contoh konkrit mengubah demokrasi menjadi sistem Islam kafah. Ada juga pertanyaan tentang tips dan pesan bagi muslimah yang ingin mempertahankan identitas Islam di tengah masyarakat demokrasi.

Adapun materi yang disampaikan oleh narsum luar negeri dan nasional cukup membuat panas suasana acara karena tergambar strategi kaum kapitalis dalam upaya memporak-porandakan kaum muslim dan tidak adanya pelindung yang satu.

Semua peserta menyadari bahwa demokrasi tidak menghantarkan hidup manusia kepada kebaikan, justru dibuat makin menjauh dari akidah Islam dan kehilangan arah. Peserta pun sepakat untuk memperjuangkan tegaknya Islam kafah dengan mengkaji Islam secara menyeluruh dan mendakwahkannya. [MNews/Kontributor: Kha]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *