Totalitas Iman Seorang Mush’ab bin Umair

Totalitas Iman Seorang Mush’ab bin Umair

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Saat itu, Mush’ab berdiri di hadapan ibu dan sanak kerabatnya, serta para pembesar Makkah. Dengan hati mantap, ia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah membersihkan hati para pengikutnya. Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang bergerak cepat itu jatuh terkulai. Rasa keibuannya membuat ibunda Mush’ab tidak jadi memukul putranya. Ia memikirkan cara lain untuk memberi pelajaran kepada putranya yang telah ingkar kepada tuhan-tuhan sesembahannya. Akhirnya, Mush’ab disekap di suatu kamar, lalu dikunci rapat dari luar.

Untuk beberapa lama, Mush’ab terkurung di dalam ruangan itu hingga ia mendengar bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ hijrah ke Habasyah. Mush’ab tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan sedikit strategi, ia berhasil mengecoh ibu dan para penjaganya. Ia berhasil lolos dari kurungan, lalu ikut hijrah ke Habasyah.

Pada suatu hari, ia menghampiri kaum muslim yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah ﷺ. Melihat penampilan Mush’ab, mereka menundukkan pandangan, bahkan ada yang menangis. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang penuh tambalan, padahal masih segar dalam ingatan mereka penampilannya sebelum masuk Islam. Pakaiannya ibarat bunga di taman, menebarkan aroma wewangian. Rasulullah menatapnya dengan pandangan penuh arti disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Kedua bibirnya tersenyum bahagia dan bersabda, “Dahulu, tiada yang menandingi Mush’ab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya. Kemudian, semua itu ia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Semenjak berpisah dari Mush’ab, ibunya menghentikan segala pemberian yang biasa diberikan kepada Mush’ab. Bahkan, ia tidak mengizinkan makanannya dimakan oleh orang yang telah mengingkari berhala-berhala sesembahannya. Perpisahan itu memperlihatkan kegigihan yang luar biasa dalam mempertahankan kekafiran dari pihak sang ibu dan keimanan di pihak sang anak. Saat itu, sang ibu mengusirnya dari rumah, “Pergilah sesuka hatimu. Aku bukan ibumu lagi.” Mush’ab menghampiri ibunya dan berkata, “Wahai ibu, aku sangat sayang padamu. Oleh karena itu, bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Sang ibu menjawab dengan marah, “Demi bintang gemintang, aku tidak akan masuk ke dalam agama itu. Otakku bisa rusak dan buah pikiranku tidak akan diindahkan orang lain.”

(Khalid Muhammad Khalid, 60 Sirah Sahabat Rasulullah ﷺ)

Hikmah

Proses hijrah Mush’ab yang meninggalkan kekufuran ke jalan iman yang benar sungguh memberi pesan berarti untuk kita jadikan pelajaran.

Pertama, keimanan mengembalikan visi hidup seorang hamba. Setelah beriman, Mush’ab rela menanggalkan segala kemewahan dan fasilitas yang ia nikmati dari orang tuanya demi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Totalitas iman ini ia buktikan dengan rela hidup susah. Mush’ab memilih hidup sederhana, menahan lapar, dan berjuang bersama Rasulullah untuk mendakwahkan Islam demi mendapat kemuliaan hakiki di hadapan Allah Taala. Pandangannya jauh menuju kampung akhirat. Ia tidak tergoda nikmat dunia yang fana. Ini sebagaimana firman Allah Taala, ”Katakanlah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu nilainya kecil. Nilai akhirat jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS An Nisa: 77).

Hal ini berlaku pula bagi setiap diri yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada ketaatan dan penghambaan kepada makhluk. Meski sang ibu meminta Mush’ab kembali ke sesembahan berhalanya, ia bergeming. Visi hidup seorang hamba adalah ketaatan dan ketundukan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, keimanan mendorong sikap konsisten di jalan dakwah. Tidak tergoda dunia dan selalu mengutamakan kebutuhan dakwah. Itulah sosok Mush’ab tatkala Rasulullah ﷺ memintanya menjadi juru dakwah di Madinah. Mush’ab konsisten menyampaikan Islam kepada tokoh dan penduduk Madinah. Alhasil, Mush’ab berhasil mengislamisasi Madinah dalam kurun waktu setahun. Upaya islamisasi ini menjadi pemercik cahaya kehidupan dan masa depan baru bagi Rasulullah, para sahabat, dan kaum muslim, yakni tegaknya Daulah Islam pertama di Madinah.

Becermin pada konsistensi Mush’ab, pengemban dakwah ialah orang yang harus konsisten mengatakan kebenaran, tidak takut celaan orang yang mencela, dan tidak gentar meski dakwahnya belum diterima sebagian masyarakat. Jadilah juru dakwah yang lisannya menghunjam, ibadahnya senantiasa bertambah, dan tidak larut dalam kesenangan dunia. Prinsip seorang juru dakwah yang gigih, “Pantang menyerah hingga seluruh masyarakat dunia membicarakan dan mengenal Islam secara kafah”.

Ketiga, istikamah dalam pembinaan intensif akan membentuk pola pikir tajam dan pola sikap yang sesuai Islam. Mush’ab adalah hasil pembinaan dan didikan Rasulullah ﷺ yang mengubah jiwanya dengan akidah suci dan menjadi manusia yang penuh wibawa dan disegani. Oleh karenanya, jadikan pembinaan intensif sebagai katalisator agar memiliki kepribadian Islam yang khas. Pola pikir dan pola sikap Islam pada diri seorang muslim akan menjadi amunisi bagi para pendakwah untuk siap terjun, berinteraksi, dan berjuang mendakwahkan Islam kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Dakwah merupakan aktivitas mulia dan amalan yang paling dicintai Allah Taala. Perkataan pengemban dakwah adalah perkataan yang paling baik. Ini sebagaimana firman Allah di dalam QS Fushilat: 33, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” [MNews/CJ-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *