[Pemikiran Politik Islam] Aktivitas Politik (Bagian 2/2)

[Pemikiran Politik Islam] Aktivitas Politik (Bagian 2/2)

Penulis: Syekh Abdul Qadim Zallum

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, TELAAH KITAB — Aktivitas-aktivitas politik senantiasa menyibukkan dunia. Aktivitas politik pula yang dapat menjamin kemenangan suatu negara, serta mendudukkan negara itu beserta rakyatnya dalam posisi yang terhormat di mata internasional. Dengan demikian, seringkali negara-negara tidak membutuhkan kekuatan militer untuk menundukkan negara lain.

Rasulullah saw. pernah menawarkan dirinya kepada suku-suku yang mau menerimanya. Beliau saw. telah mengambil baiat kedua dari kaum muslim. ‘Abdullah bin Jahsy pernah diutus Rasulullah saw. untuk memantau aktivitas suku bangsa Quraisy di Makkah. Beliau saw. pernah merebut kereta dagang Quraisy yang menjadi penyebab perang Badar. Semua itu merupakan bukti bahwa beliau saw. sedang melakukan aktivitas-aktivitas politik.

Suatu ketika Rasulullah saw. mengutus Nu’aim untuk melemahkan nyali suku bangsa-suku bangsa dan menyebarkan keraguan kepada mereka pada saat perang Khandaq. Begitu pula saat beliau saw. berangkat umrah dan tinggal di Hudaibiyah, atau ketika beliau saw. mengangkat Sa’d ibn Mu’adz sebagai hakim di kalangan Bani Quraizhah. Pada waktu itu sesungguhnya Rasulullah saw. sedang menjalankan berbagai aktivitas politik.

Demikian pula halnya ketika Al-‘Abbas membawa serta Abu Sufyan dalam perjalanannya ke Makkah, atau ketika Rasulullah saw. menandatangani perjanjian, menerima utusan-utusan dari berbagai suku bangsa Arab, atau beliau saw. melakukan mubahalah (saling melaknat kesalahan dan kebohongan) ketika menerima kunjungan kaum Nasrani. Nabi saw. juga pernah memerintahkan pengusiran Bani Nadhir dari kampung halamannya, serta mengangkat kembali penguasa Yaman setelah ia masuk Islam. Semua itu tidak lain adalah aksi-aksi politik yang dilakukan Rasulullah ﷺ.

Hal yang sama dilakukan Khulafaurasyidin dan para khalifah sesudahnya. Semua yang mendominasi tindakan mereka terhadap bangsa asing adalah bentuk aktivitas-aktivitas politik. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa saat mengangkat seorang panglima perang, Rasulullah saw. selalu memerintahkan kepadanya untuk menyerukan agar rakyat suatu negara masuk Islam.

Apabila mereka menolak, beliau saw. menawari mereka untuk membayar jizyah. Ketika mereka tetap menolak tawaran tersebut, Allah memberikan pilihan dan mengizinkan untuk memerangi mereka. Dengan demikian, peperangan merupakan cara terakhir Rasulullah saw. dalam menyampaikan dakwah ke seluruh dunia.

Aktivitas-aktivitas politik harus dilakukan terlebih dahulu. Dengan demikian, aktivitas politik merupakan tugas umat Islam yang paling penting dan merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan. Dengan demikian, bukanlah hal yang aneh apabila aktivitas politik merupakan tindakan yang paling penting dalam upaya mencapai kemerdekaan dan menyampaikan dakwah Islam ke seluruh dunia.

Tanpa aktivitas politik, Islam tidak akan tersebar luas dan tidak mungkin disampaikan kepada seluruh umat manusia. Pelaksanaan aktivitas politik membutuhkan pemahaman terhadap hubungan antarnegara di dunia. Oleh sebab itu, kaum muslim perlu senantiasa mengamati hubungan-hubungan tersebut, serta memahami rahasia-rahasia dan tujuan-tujuan di balik hubungan itu.

Kaum muslim harus mampu membedakan manuver politik dari aktivitas politik lainnya, serta membedakan berbagai aktivitas dari tujuan-tujuannya. Mereka juga harus memahami bentuk hubungan antarnegara yang paling mutakhir. Untuk itu umat membutuhkan pembinaan politik yang terus-menerus.

Harus diusahakan agar umat senantiasa mengikuti dan memahami politik internasional secara konstan dan realistik. Selain itu juga harus ditekankan bahwa penyampaian dakwah Islam adalah kriteria final untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan. [MNews/RY-YG]

Sumber: Syekh Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, Upaya Membumikan Politik Sebagai Mainstream Gerakan.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *